
WARNING 21+
...🌼🌼🌼...
Tidak lama kemudian Gael ke kamarnya. Pria itu bergerak gelisah di atas kasurnya. Dia selalu terbayang akan Qyara, gadis cantik bertubuh seksi.
Dari hitungan menit hingga hitungan jam, Gael tetap tak mampu memejamkan matanya. Apa sekarang dia mengidap insomnia?
Hingga menjelang pagi, dia tetap tidak tidur. Gael menuju dapur, dia ingin menyiapkan sarapan untuk gadis cantik yang saat ini masih tidur dengan nyenyak.
“Selamat pagi,” ucap Qya dengan suara seraknya yang terdengar sangat seksi bagi Gael.
Gael melihat Qya yang terlihat baru bangun tidur. Wajahnya terlihat lembab, habis cuci muka. Muka bantal itu juga terlihat menggemaskan.
Ingin sekali Gael mengecup seluruh area wajah itu. ******* dan menggigit bibir merah muda yang selalu membuat hasratnya memberontak.
Jika saja Gael bukan pria baik-baik, sudah pasti tadi malam Qya berada dalam pelukan hangatnya dan meninggalkan jejak di seluruh tubuhnya. Oh iya, tidak lupa menanam benih dalam rahim gadis itu.
“Pagi.”
Lagi-lagi Gael kehilangan fokus saat melihat Qya. Gadis itu mampu memporak porandakan pikiran dan perasaan seorang Gael.
“Lagi apa?”
“Membuat sarapan.”
“Kamu bisa masak?”
“Tidak, sih.”
Qya terkekeh, matanya melirik bahan-bahan makanan yang ada di meja.
“Kamu mau sarapan apa?”
“Aku biasanya sarapan roti atau salad.”
Gael mengangguk, lalu mulai mengolah bahan-bahan yang ada. Gael tersenyum, ternyata seleranya sama dengan Qya.
Gael membuat salad dan roti bakar dengan penuh perasaan, perasaan cinta. Tanpa sadar Gael tertawa kecil.
“Apa ada yang lucu?”
Gael tersadar atas kelakuannya dan berdeham.
“Tidak.”
“Kamu sudah punya pacar?”
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Gael. Dalam hati pria itu merutuki pertanyaannya. Apakah kini dia sudah menjadi pria penggosip yang ingin tahu masalah pribadi orang lain.
“Belum, kenapa?”
“Syukur, deh.”
“Kok syukur?”
“Aku masih punya kesempatan untuk menjadi masa depan kamu.”
Gael menggaruk tengkuknya yang tentu saja tidak gatal. Qya tertawa, membuat Gael seolah terhipnotis oleh suaranya.
Gael tidak ingin semua ini berakhir. Dia ingin selalu seperti ini.
“Kamu cantik sekali.”
Gael mendekatkan wajahnya. Jantungnya berdebar semakin kencang saat jarak dia dan Qyara semakin dekat. Tidak lama kemudian dia dapat merasakan bibirnya yang menyentuh bibir Qyara, terasa kenyal, dingin dan manis.
Ini ciuman pertama Gael, dan dia bersyukur melakukannya dengan Qya. Yang awalnya hanya sebuah kecupan, kini menjadi *******-******* dan gigitan.
Suara ******* terdengar dari keduanya, semakin membangkitkan hasrat Gael. Pria itu menekan tengkuk Qya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang pipi Qya dan mengelusnya dengan lembut.
Ingin lebih aktif lagi, tangan kiri Gael kini turun ke pinggang Qyara, begitu juga dengan bibirnya yang kini menjelajah leher putih mulus itu.
Gael menghisap dan menggigitnya, meninggalkan jejak merah yang sangat kontras dengan warna kulit Qyara.
Sementara itu, Qya juga tidak tinggal diam. Tangannya kanannya meremas rambut Gael, sedangkan tangan kirinya berada di dada pria itu yang dapat merasakan denyut jantung Gael yang sedang berpacu.
Merasa kehabisan nafas, Gael melepaskan ciumannya yang tadi kembali menjelajahi bibir Qyara.
Kening mereka saling menempel dengan nafas yang memburu. Seperti tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Gael kembali meraup bibir gadis itu.
Gael menarik tubuh Qya dan kini gadis itu berada dalam pangkuan Gael. Posisi itu tentu saja sangat menguntungkan Gael.
Tangan Gael kini mengelus rambut Qya yang sebelumnya digulung asal-asalan dan kini telah terurai karena perbuatan Gael.
Rambut itu sangat halus. Gael masih dapat mencium aroma sabun dan sampo yang Qya gunakan tadi malam.
Hasrat Gael semakin tidak dapat dibendung. Dia menggendong tubuh Qya dengan bibir keduanya masih bertautan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Â