Trouble Girl

Trouble Girl
15 Berdebar



Mereka memasuki kafe itu, memilih tempat yang paling nyaman.


"Hai Qya," sapa seorang pria yang menjadi pelayan.


"Hai, seperti biasa, ya."


"Oke. Anda mau pesan apa, Tuan?"


"Samakan saja."


Gael tidak tahu apa yang dipesan oleh Qya, tapi dia ingin sekali menyamai pesanan gadis itu. Kalau dilihat dari interaksi Qya dan pelayan tadi, sudah bisa dipastikan kalau Qya memang sudah cukup sering ke kafe ini. Dia juga bisa melihat Qya yang ramah, bahkan kepada seorang pelayan. Tidak heran kalau gadis itu memiliki banyak teman.


Makanan yang dipesan tiba, mereka mulai menikmati makanan itu. Qya makan tanpa jaim, bahkan gadis itu memesan lagi. Gael semakin dibuat terpana, karena biasanya para perempuan menjaga image dan pola makan mereka, takut gemuk.


Gael jadi membandingkan Qya dengan para perempuan yang selama ini selalu mendekatinya.


Bicara sok lembut, makan dengan pelan dan sedikit demi menjaga bentuk tubuh. Semua ya g perempuan itu lakukan, sangat tertata, membuat Gael jenuh.


"Habis ini mau ke mana?" tanya Gael.


"Aku mau ke mall, kita bisa berpisah di sini saja."


"Aku temani," ucap Gael dengan cepat.


Ini yang dia harapkan, bisa jalan lebih lama bersama Qya.


Mereka akhir ya memasuki mall terbesar di sana. Qya sebenarnya hanya ingin cuci mata saja, karena tidak ada yang ingin dia beli.


"Kalau kamu bosan, kamu bisa pulang duluan."


"Masa, sih? Biasanya pria itu akan bosan kalau diajak ke mall oleh perempuan, apalagi kalau hanya melihat-lihat seperti ini tanpa membeli."


Gael mengusap tengkuknya, karena apa yang dikatakan oleh Qya itu memang benar. Dia memang paling malas kalau disuruh menemani kakak dan mamanya ke mall. Apalagi nanti disuruh membawakan barang belanjaan mereka.


"Kamu kan pergi sama aku, jadi pulang sama aku juga."


Timbul keinginan dalam hati Gael untuk memberikan Qya sesuatu yang bisa gadis itu pakai.


Tapi apa?


Dia jadi bingung sendiri. Gael tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun, hanya pada kakak dan mamanya saja. Itu Oun dia tidak pernah memperhatikan apa yang mereka beli saat di mall. Gael menghela nafas pelan.


Gael melirik-lirik para perempuan yang sedang berbelanja, yang disalah artikan okeh Qya. Gadis itu pikir, Gael itu seorang playboy yang sedang mencari mangsa. Tapi Qya cuek saja, toh Gael juga bukan pacarnya.


Gael akhirnya memilihkan baju berwarna hitam untuk Qya, setelah sesat mengamati para perempuan yang berbelanja. Bahkan dia juga memilih baju untuk dirinya sendiri dengan warna yang sama. Gael juga membelainya sepatu kets untuk dia dan Qya dengan model yang sama. Ya, semua ya memang untuk pasangan.


Gael juga tidak segan membawakan semua barang beka jalan itu. Coba kalau kakaknya yang meminta dibawakan, pasti dia sudah langsung ngoceh-ngoceh.


Gael melihat tangan Qya yang nganggur.


"Sini, biar aku bawakan," ucap gadis itu.


"Ini, kamu pegang ini saja." Gael langsung menautkan tangannya sendir di tangan Qya. Wajah Kris itu memerah, tapi dia harus punya muka tembok untuk memberikan sinyal cinta pada gadis itu.


Gael merasakan jantungnya berdetak kencang saat dia bergandengan tangan dengan Qya.


Aku harus lebih rajin olah raga, agar jantungku tetap sehat. Apa jantung Qya berdebar juga?