
...🌼🌼🌼...
Jam tiga pagi
Gael mengemudikan mobilnya cukup kencang. Dia menuju salah satu apartemennya yang lebih dekat dari lokasi balapan agar bisa segera istirahat. Matanya dilebarkan, berusaha memastikan apa yang dia lihat di depan lobi apartemen. Dia melihat Qya yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Gael menghentikan mobilnya tepat di depan Qya.
“Qy, lagi apa?”
“El?”
“Kenapa sendirian di sini?”
“Oh, aku habis dari tempat teman. Dia sudah tidur, lalu aku meminta jemput temanku yang lain, tapi baru saja dia mengabari kalau mobilnya tiba-tiba mogok.”
“Ya sudah, aku saja yang antar atau kamu mau menginap di apartemenku lagi?”
“Aku pulang saja.”
Qya lalu masuk ke dalam mobil Gael yang berbeda dengan yang waktu itu dia tumpangi. Gael sedikit menghirup udara dalam-dalam lalu melirik pada Qya. Aroma maskulin tercium dari tubuh Qya yang terlihat sangat lelah.
Vano yang tadi melihat Qya yang berbicara dengan Gael mengurungkan niatnya untuk menghampiri Qya. Dia masih memantau dari dalam mobilnya. Dia melihat Qya yang masuk ke dalam mobil Gael, sebelum itu Qya sempat melirik ke mobil Vano dan mangangguk samar tanpa sepengetahuan Gael namun dapat dilihat oleh Vano.
Setelah mobil Gael pergi, Vano lalu menjalankan mobilnya menuju apartemennya.
“Kenapa tidak menginap saja di tempat teman kamu itu? Tanggung kan, kalau harus pulang hampir subuh begini.”
“Memang tidak ada rencana untuk menginap. Lagi pula aku memang susah tidur di tempat baru. Tadi aku dan teman-temanku yang lain keasikan mengobrol. Yang lain sudah pada tidur.”
“Kamu sama teman-teman kamu?”
“Iya. Aku sama teman-teman SD aku.”
Ada perasaan lega pada diri Gael, ternyata Qya tidak hanya berdua saja dengan seorang pria. Qya mengirim pesan untuk Vano.
[Aku pulang sama Gael.]
[Iya, untung saja tidak ketahuan. Apa dia curiga?]
[Sepertinya curiga, tapi jangan panggil aku Qya kalau tidak bisa mengendalikan situasi.]
[Percaya.]
[Sampai jumpa besok.]
Gael kembali melirik Qya yang sibuk dengan ponselnya.
“Siapa?”
“Aku baru saja mengirim pesan pada temanku yang tadi akan menjemput agar dia tidak khawatir dan merasa bersalah. Aku bilang padanya kalau aku ditolong seorang pria tampan dan baik hati.”
Qya tertawa kecil. Gael yang mendengar perkataan Qya itu, merasakan debaran kencang di jantungnya.
“Sudah dua kali kamu menolongku. Kapan-kapan aku akan mentraktirmu,” ucap Qya sungguh-sungguh.
“Tidak perlu repot-repot.”
“Tolong jangan menolak.”
“Baiklah.”
Tentu saja Gael tidak akan menolak, tadi itu hanya penolakan basa-basi saja. Bukan karena traktirannya, tapi dia ingin bisa berdua saja dengan Qya.
“Ngomong-ngomong, kamu sedang apa di sana?”
“Tadi aku habis nonton balapan, lalu mau pulang ke apartemen itu yang jaraknya lebih dekat.”
“Jadi kamu juga punya apartemen di sana?”
“Iya.”
“Ternyata kamu kaya sekali ya. Pantas saja banyak perempuan yang mengidolakan kamu, tampan dan kaya. Yang menjadi pacar atau istri kamu pasti beruntung sekali.”
“Kamu mau jadi pacar aku?”
“Hah?”
Gael menggigit bibirnya, merutuki kebodohannya. Hening beberapa saat lalu terdengar suara tawa Qya.
“Kamu lucu.”
Tidak ada reaksi dari Gael, mungkin ini terlalu cepat pikir Gael. Tidak lama kemudian mereka tiba di kosan Qya.
“Kamu tinggal di sini?”
“Iya. Terima kasih ya sudah mau mengantar aku.”
“Qy, boleh aku meminta nomor ponsel kamu”
Qya mengangguk lalu memberikan nomor ponselnya. Jika Qya memberikan nama Gael untuk nomor Gael, Gael memberi nama My Future untuk nomor Qya di ponselnya. Gael meninggalkan kosan Qya dengan senyum sumringah dan hati yang berbunga-bunga karena baru saja mendapat nomor ponsel Qya dari gadis itu langsung dan tahu di mana Qya tinggal.
Â