
Edward dan Gale sama-sama mencari keberadaan Vano dan Qya. Sudah beberapa hari ini, keduanya tidak ada di kampus. Teman-teman mereka juga tidak ada yang tahu di mana keberadaan mereka.
Mereka juga mencari Angga di rumah sakit, dan rumahnya, tapi tidak ada juga. Sebenarnya, di mana mereka bertiga saat ini?
Di rumah orang tuanya, Ricca masih berusa menghubungi Angga. Pintu kamarnya diketuk oleh asisten rumah tangga.
"Ada apa, Bi?"
"Ada surat untuk Nona."
Ricca mengambil amplop berwarna coklat itu, dan langsung berteriak setelah membacanya.
"Ma ... Mama!"
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu marah-marah begitu?"
"Angga benar-benar menceraikan aku, Ma. Dia Sidah melayangkan gugatan ke pengadilan agama."
"Apa?"
Jesi tidak terima, bagaimana bisa anaknya dicerai sepihak begitu saja.
"Keterlaluan sekali si Angga ini!"
"Terus aku harus bagaimana, Ma?"
"Ayo kita temui dia di rumah sakit."
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit merasakan dengan perasaan marah.
"Maaf, Bu, tapi dokter Angga sudah tidak bekerja di rumah sakit ini lagi."
"Apa? Sejak kapan?"
"Sudah satu minggu yang lalu beliau berhenti bekerja."
"Lalu sekarang bekerja di rumah sakit mana?"
"Untuk itu saya juga tidak tahu, Bu. Dokter Angga tidak memberi tahukan apa-apa."
Jesi dan Ricca pulang dengan tangan kosong. Keluarga itu menjadi kacau sekarang, dan memang itu yang Juna—atau Vano—harapkan sejak dulu.
"Jadi, kapan kita pergi?" tanya Qya Sidah tidak sabar.
"Tunggu sampai pertandingan terakhir."
"Oke."
Ketiganya kini ada di salah satu apartemen, yang hanya mereka bertiga saja yang tahu. Mereka akan pergi ke Amerika, memulai hidup baru di sana. Qya akan melanjutkan kuliahnya, Angga akan tetap menjadi dokter, sedangkan Vano akan menjalankan perusahaan dia sendiri, yang sudah dia rintis sejak lama.
"Besok aku harus ke kampus," ucap Vano.
"Aku juga."
"Jangan, Gael pasti akan membawa kamu."
"Dia tidak akan bisa. Kalau dia nekat, ya aku juga nekat!"
"Kamu yakin?"
"Tenang saja, jangan khawatir."
"Aku akan menyiapkan semua kebutuhan kita. Pengacara yang aku sewa akan mewakili aku di pengadilan."
"Mereka pasti marah-marah, karena kamu sudah menceraikan perempuan itu."
"Aku tidak peduli. Aku justru merasa lega sekarang, tidak perlu lagi bersikap berpura-pura."
"Bukan hanya kamu saja, aku juga tidak perlu lagi berpura-pura."
Keesokan harinya
Qya dan Juan keluar dari mobil Juan. Reno yang melihat itu, langsung memberi tahu Gael. Gael bergegas mengemudikan mobilnya ke kampus.
Begitu melihat Qya, pria itu langsung menarik tangan Qya dan membawanya pergi.
"Lepasin! Apaan, sih!"
"Aku mau bicara sama kamu."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!"
"Qya, kenapa kamu seperti ini? Apa salahku hingga kamu menyakiti aku seperti ini?"
"Karena kamu anak mama kamu!"
"Tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan kamu, Qy? Aku saja yang anaknya, tidak tahu apa-apa dan tidak punya salah."
Qya mendengus mendengarnya.
"Apa semua ini karena Juan? Apa dia yang menyuruh kamu melakukan semua ini padaku?"
Qya tidak menjawab. Gael uang sudah sangat kesal, langsung menarik tengkuk Qya dan mencium gadis itu dengan penuh emosi.
Qya berusaha mendorong Gael, tapi tenaganya masih kurang kuat dibandingkan Gael.