Trouble Girl

Trouble Girl
7 Dering



Gael membaringkan tubuh Qya di atas kasur dengan hati-hati. Dia mengecup kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dagu lalu bibir Qya.


Tangannya juga kini telah berada di dua gundukan kembar milik gadis itu.


Bagian bawah Gael sudah sangat tegang dan sesak. Dia menatap wajah Qya yang sendu karena diliput gairah yang sama.


Perlahan, tangan Gael melepas kancing kemejanya yang dipakai oleh Qya. Meskipun sudah sangat tidak sabar, tetapi Gael tidak ingin merusak kemeja itu. Bukan karena kemejanya bagus atau mahal. Bukan juga karena itu kemeja kesukaannya, tetapi dia ingin menyimpan kemeja itu sebagai benda bersejarah antara dia dan Qya.


Semua kancing sudah terlepas, dengan cepat Gael melepaskan kemeja itu dari tubuh Qya. Gael dapat melihat dua gundukan itu yang masih ditutupi oleh penutupnya yang berwarna hitam.


Tangan Gael mulai menjelajahinya, memberikan sensasi untuk kedua insan itu.


“Gael ....”


Suara Qya tertahan, dia menggigit bibirnya di saat bibir Gael berada di antara dua gundukan itu. Dia melepaskan pengaitnya agar mata dan bibirnya tidak lagi terhalang oleh pemandangan indah dan rasa yang nikmat.


Kini yang ada hanya kain berbentuk segitiga yang menutupi bagian bawah Qya yang warnanya juga hitam.


Gael melepasnya, membuat tubuh Qya kini polos seluruhnya.


Gael juga melepas semua yang dia pakai dengan terburu-buru dan melemparnya begitu saja.


Kini tangan dan mulutnya menjelajahi tubuh Qya dari atas hingga bawah tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


Saat akan memulai adegan utama, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Gael tidak menghiraukannya, dia tidak ingin kegiatannya terganggu oleh apa pun.


“El, ponsel kamu.”


“Sudah, biarkan saja.”


“Tapi ....”


Gael kembali ******* bibir Qya. Ponsel itu terus saja berbunyi, membuat aktifitas keduanya sangat terganggu.


Qya mendorong tubuh Gael, membuat pria itu terjatuh dari kasur. Gael mengerjapkan matanya saat rasa sakit di pinggangnya melanda.


Dia melihat sekelilingnya dengan bingung.


Tidak ada Qya di atas kasurnya dengan tubuh polos. Bahkan dia masih berpakaian utuh. Ponselnya memang berbunyi tiada henti.


Gael mulai menyadari sesuatu ....


Gael meraih ponselnya lalu melihat siapa yang menghubunginya dan merusak mimpi indahnya.


Reno ....


“Apa?” bentak Gael saat mengangkat panggilan itu.


“Santai, Ga. Masih pagi sudah marah-marah.”


“Ada apa?” tanya Gael lagi, masih dengan nada kesal.


“Siang nanti kita kumpul di tempat biasa.”


“Kalian saja!”


Tanpa basa-basi Gael langsung memutuskan panggilan itu dan ke kamar mandi untuk meredam hasratnya.


Gael menyesal, menyesal karena semua itu hanya mimpi dan mengutuk Reno agar suatu saat pria itu juga merasakan apa yang dia rasakan saat ini, tetapi bukan bersama Qyara karena Qyara hanya untuknya, baik di alam nyata maupun di alam mimpi.


Cukup lama Gael berada di dalam kamar mandi, setelah itu dia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan dengan perasaan lesu.


Dia belum pernah frustasi seperti ini hanya karena sebuah mimpi.


“Selamat pagi.”


Deg


Jantung Gael seperti roller coster. Dia melihat Qya yang memakai kemejanya yang berwarna putih dengan rambut digulung asal-asalan.


Gael menelan ludahnya.


“Pa ... pagi,” ucapnya dengan gugup.


“Sedang apa?”


“Bikin sarapan, maaf hanya ada roti bakar dan salad saja.”


“Ini kesukaan aku.”


Gael menghela nafas, ternyata tidak sepenuhnya dia bermimpi. Gadis cantik itu memang berada di apartemennya, memakai kemejanya dan tidur di salah satu kamar di sana.