Trouble Girl

Trouble Girl
71 Kejutan Lainnya



Qya masih menangis. Dia sangat terpukul saat tahu dirinya tidak bisa berjalan.


"Daddy akan memberikan yang terbaik untuk pengobatan kamu. Kamu pasti akan bisa berjalan lagi." Edward memeluk tubuh Qya yang masih saja memberontak.


Dokter memberikan obat bius untuk gadis itu, dan perlahan mata Qya terpejam.


...💦💦💦...


Qya membuka matanya, tidak melihat siapa-siapa di dalam kamar ini.


Pintu kamarnya terbuka, dilihatnya Ricca yang masuk. Dia datang bersama dengan mamanya. Wajah keduanya terlihat sangat menyebalkan di mata Qyara.


"Mau apa kalian ke sini?"


"Wah wah wah, masih tidak tahu diri, ya! Kami dengar, sekarang kamu lumpuh."


Qyara mendengus mendengar perkataan mereka.


"Masih saja sombong. Sekarang hidup kamu akan menyusahkan orang-orang di sekitar kamu. Edward, yang katanya adalah Daddy kamu. Gael, Angga, bahkan Vano. Kamu akan menjadi benalu bagi hidup mereka."


Qya tersenyum sinis. Dia memang sedih dengan keadaannya saat ini, tapi bukan berarti dia mudah terintimidasi dan terprovokasi.


"Kalian lah yang menjadi benalu dalam hidup mereka. Dasar perempuan ****** dan anak haram!"


Qya menyeringai saat keadaan terbalik. Bukannya dia yang berhasil dipojokkan, tapi pengganggu tak diundang ini yang sekarang dipenuhi emosi.


Kalian bukan tandinganku!


"Beraninya kamu bicara begitu!"


Plak


Jesi menampar Qya. Tentu saja Qya tidak terima, dia lalu memiting tangan Jesi.


"Lepaskan mamaku!" Ricca menjambak rambut Qya hingga gadis itu terjatuh dari atas brankar.


"Lepaskan!" teriak Qya.


Jambakan Ricca semakin kencang. Dia ingin meluapkan semua kekesalan dan kebenciannya. Gara-gara Qya, Angga meninggalkan dirinya. Gara-gara gadis ini, kedua orang tuanya semakin sering bertengkar.


Semua gara-gara Qya, pikir Ricca.


Pintu terbuka.


"Apa yang kamu lakukan!" teriak Juan.


Dia langsung mendorong Ricca sampai kening perempuan itu membentur ujung meja dan berdarah.


"Ricca, apa yang kamu lakukan pada Qya!" bentak Edward.


Juan langsung mencekik leher Ricca.


"Sudah aku peringatkan berkali-kali, jangan pernah mengganggu aku, apalagi adikku!"


Juan lalu menjambak rambut Ricca, seperti apa yang perempuan itu lakukan.


"Juan, berhenti!" teriak Gael.


"Kamu ingin membela kakak kamu yang gila itu?" bentak Qya.


"Bukan begitu, Qya."


"Kamu lihat sendiri, kan, dia yang menyakiti aku!" ucap Qya lagi.


Juan kembali menghempaskan tubuh Ricca ke lantai.


"Kalian semua akan menyesali apa yang sudah kalian lakukan pada adikku."


Juan lalu memandang Edward yang sedang membantu Angga menggendong Qya ke atas brankar.


"Kalian berdua bukanlah anak kandung dari pria ini!"


"Apa?" Bukan hanya Ricca dan Gael saja yang terkejut, tapi juga Edward.


"Apa maksud kamu, jangan mengada-ada!" bentak Jesi tidak terima.


"Kalau tidak percaya, kalian bisa melakukan tes DNA, meskipun aku sudah memiliki sejak lama hasil DNA itu."


Gael tertegun.


Dia tidak tahu, harus percaya pada siapa lagi. Harus marah, kecewa, sedih atau malah ... bahagia?


"Ta ... tapi ... bagaimana bisa, Vano?"


"Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa?"


"Bagaimana kamu melakukan semua itu?" tanya Edward lagi.


Vano hanya tersenyum mengejek pada Ricca dan Jesi. Jika Ricca wajahnya syok, maka Jesi wajahnya pucat pasi.


Vano terkekeh geli.


"Terkejut, bukan, dengan kabar yang baru saja aku sampaikan pada kalian berempat?"


Qya dan Angga biasa saja, karena mereka memang sudah tahu, sejak awal.