
"Tidak, itu tidak mungkin. Itu tidak benar!" teriak Ricca.
"Buktikan saja sendiri. Bukan begitu, Qya?"
"Benar. Kalian memang bukan anak daddy-ku."
Gael benar-benar tidak menyangka. Dia juga tidak tahu apa harus merasa kecewa, marah, atau senang.
Kalau dia memang bukan anak papanya, berarti dia dan Qya bukan saudara, kan? Berarti dia masih bebas mencintai gadis itu, kan?
"Bagaimana bisa kamu melakukan tes DNA?"
"Ck, bodoh. Masih saja bertanya." Vano tertawa geli melihat kebodohan perempuan itu.
"Tentu saja gampang. Bang Angga yang mengambil sampel DNA pada anak perempuan kamu dan suamimu. Dsn ternyata hasilnya negatif. Kalian bukan anak dan ayah kandung. Lalu Qya mendekati Gael, mengambil sampel Gael dan suamimu juga, dan ternyata hasilnya sangat luar biasa."
"Melihat hasil yang ternyata tidak cocok, Qya lalu mendekati Gael, meskipun aku sudah melarangnya. Mana mungkin aku menjerumuskan adikku pada pria itu."
Edward menatap tajam Jessi.
"Pa, papa tidak mungkin percaya begitu saja kak, pada anak itu. Kalian bahkan baru bertemu, dan dia sudah banyak merusuh dalam rumah tangga kita.
"Terserah, mau percaya atau tidak."
Edward menatap mata Vano, jelas kalau anaknya itu tidak berbohong.
"Kamu melahirkan dua anak haram, tapi menjadikan pria lain sebagai ayah mereka!"
Plak Plak
Edward yang kesal, menampar wajah Jessi.
"Papa!"
Tidak cukup sampai di situ, Edward juga mencekik leher perempuan itu. Bisa-bisanya dia bersama dengan perempuan penipu ini selama bertahun-tahun.
"Kau kehilangan istriku gara-gara kamu, perempuan sialan. Jessica, mulai detik ini, kamu bukan istriku lagi. Aku akan mencabut semua fasilitas yang aku berikan, bukan hanya untuk kamu, tapi juga kedua anak kamu!"
"Mana boleh begitu, aku ini istri kamu, SMA mereka adalah anak-anak kamu."
Melihat wajah Jessi yang pucat dan panik, sudah terlihat kalau Ricca dan Gael bukanlah anak Edward.
Gael memejamkan matanya, merasa malu dengan sikap mamanya.
Tapi, mungkin inilah yang terbaik.
Gael lebih memilih untuk menerima ini. Rasa cintanya yang begitu besar pada Qya, membuat dia bisa ikhlas dengan kenyataan yang ada.
Mulai sekarang, aku akan mengejar kamu, Qya. Kamu sudah membuat hatiku terjerat begitu dalam, jadi kamu harus menjadi milikku, selamanya. Bagaimana pun caranya. Kamu hanya milikku, Qya, hanya milikku!
"Kalian bertiga pergi dari rumahku tanpa membawa apa-apa."
"Pa, jangan begitu. Tolong maafkan mama."
Edward tidak peduli dengan rengekan Jessi dan Ricca. Gael pun diam saja.
"Kamu masih punya butik ...."
"Tidak lagi. Butik itu sudah menjadi milik adikku!"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Anak laki-laki kesayangan Anda sudah mempertaruhkan butik itu saat balapan, dan dia kalah." Vano tertawa keras. Dia benar-benar puas.
Tidak, dia belum puas sebelum melihat mereka benar-benar hancur.
"Gael, apa itu benar?"
"Iya, Ma."
Gael sendiri tidak akan pusing di mana dia akan tinggal. Dia masih punya mobil, apartemen juga uang dari hasil balapan. Sesuatu yang dia dapatkan bukan dari Edward. Sedangkan apa yang dia berikan untuk Qya, tetap akan untuk Qya, tidak akan dia ambil lagi.
Qya diam saja sejak tadi. Dia masih merenungkan keadaan dirinya, yang tidak bisa berjalan entah sampai kapan.
Ya, mereka semua akan memasuki babak baru dalam hidup mereka.