Trouble Girl

Trouble Girl
19 Ingin Yang Bebas



Qya mandi di bawah guyuran shower. Dia mengusap tubuhnya yang putih mulus. Samar-samar dia mendengar pintu kamarnya yang diketuk.


"Iya, tunggu."


Gadis itu buru-buru memakai handuknya. Di bukanya pintu kamar, dan orang yang ada di depannya menahan nafas.


"Gael?"


"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang mandi."


"Masuk dulu."


"Apa?"


"Ayo masuk, kamu kamu di berdiri terus di depan pintu?"


"Oh, oke."


Kosan Qya memang kosan yang cukup bebas. Qya memang sengaja memilih kosan seperti ini karena sering pulang malam, juga teman-temannya sering datang, baik itu laki-laki atau perempuan.


Gadis itu mengambil baju dari dalam lemari. Gael memperhatikan isi kamar Qya. Dia meringis saat melihat kalau Qya hanya tidur di atas kasur lantai. Hanya ada meja kecil dan karpet bulu. Kamar mandinya di dalam. Ada cermin besar yang bisa memperlihatkan penampilan Qya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Buku-buku kuliah gadis itu tergelatak di lantai, sebelah kasurnya.


Apa badannya tidak sakit, tidur di kasur lantai seperti ini setiap hari? Tanya Gael dalam hatinya.


Qya keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan kaos pendek yang memperlihatkan perutnya yang rata, juga celana pendek sepaha.


Gael meneguk salivanya dengan susah. Kenapa gadis ini selalu menggoda iman?


"Ada apa kamu datang ke sini?"


"Oh aku hanya mau ajak kamu jalan.Maaf kalau datang tiba-tiba."


"Bagaimana kalau kita nonton saja?"


"Oke."


Tentu saja Gael tidak akan menolak. Apa pun yang gadis itu mau, maka akan dia lakukan. Qya mengambil kemeja dari lemarinya, melapisi kaos pendeknya hanya dengan itu saja.


"Ayo."


"Kamu ... enggak pakai celana panjang?"


Qya menurut, membuat Gael tersenyum. Setidaknya gadis ini masih menghargai keinginan Gael.


Mereka akhirnya jalan ke mall, langsung ke bioskop dan membeli tiket.


"Masih satu jam lagi filmnya dimulai. Kita makan dulu, ya"


"Makan sushi, ya," ajak Qya.


"Oke."


"Kamu tidak masalah tinggal di kosan seperti itu?"


"Kenapa? Jelek, ya?"


"Maaf, bukan itu maksudku."


"Teman-temanku juga bilang buat pindah, tapi aku belum menemukan tempat lain yang murah dan bebas," jawab Qya apa adanya.


"Iya, bebas. Tidak membatasi jam malam, siapa yang datang, dan lainnya."


Ternyata hidupnya benar-benar bebas.


"Bagaimana kalau aku mencarikan tempat yang baru untuk kamu."


"Pasti mahal. Kamu kan kaya, menurut kamu murah, belum tentu menurut aku murah."


Gael tersenyum, gadis di hadapannya ini memang apa adanya. Lihat saja bagaimana dia berkata kalau menginginkan kosan yang bebas.


"Kapan kamu ada waktu, kita bisa mencari bersama."


"Hari ini aku ada waktu luang."


Lagi-lagi Gael bersorak gembira. Dia jadi punya kesempatan lebih lama bersama Qya.


Selesai makan mereka langsung ke bioskop. Gael memilih bangku paling atas dsn paling pojok. Bahkan pria itu diam-diam membeli satu deret yang sama dengannya, dan deretan yang ada di bawahnya.


"Kok cuma kita di deretan ini? Di bawah juga enggak ada orang."


"Mungkin jam sekarang memang sepi." Gael bersikap bisa saja agar Qya tidak menaruh curiga. Dia memang tidak mau diganggu oleh siapa pun, padahal siapa juga yang mau mengganggu dia dan Qya?


Lampu teater mulai dimatikan, dan suasana menjadi hening.