
Qya memilih baju yang paling mahal, begitu juga dengan sepatu dan tas. Setelah melihat penampilannya sudah sempurna, dia lalu memotret dirinya dan mempostingnya di sosial media.
Gael melihat postingan Qya, tersenyum saat gadis itu memamerkan penampilan dirinya. Background foto Qya yang merupakan sebuah kamar, tentu saja langsung mendapatkan banyak komentar.
Wajah sembab, penampilan mewah, ditambah dia berada di dalam kamar, siapa yang tidak berpikiran negatif?
"Di kamar sugar daddy-nya, nih," ucap Vanya saat melihat postingan Qya yang ada di ponsel temannya.
"Siapa tahu saja itu kamarnya."
"Halah, pasti tempat sugar daddy-nya, tuh."
Gael yang membaca komentar-komentar hanya bisa mendengus. Banyak pria yang memberikan tanda love untuk foto itu. Ingin marah, tapi dia baru saja jadian sama Qya.
Selesai memamerkan apa yang dia pakai, gadis itu lalu keluar dari kamarnya.
...💦💦💦...
Seharian ini Qya dan Gael hanya di apartemen saja. Gael membelai-belai rambut Qya yang halus. Doa merasa sangat senang karena bisa mendapatkan Qya sebagai kekasihnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gael.
"Spaghetti saja."
"Oke, aku buatkan dulu, ya."
"Kenapa enggak beli saja?"
"Enggak, aku mau buatkan untuk kamu."
Di kampus
"Ini Gael ke mana, sih? Ponselnya sejak tadi enggak aktif. Di samperin ke apartemen juga enggak ada."
"Tahu tuh anak, tadi malam juga ngilang gitu aja dari club."
Teman-teman Qya yang mendengar itu jadi saling tatap.
Gael enggak kuliah hari ini, dan tadi malam menghilang begit saja dari klub. Kok sama seperti Qya? Apa sejak tadi malam mereka bersama?
Willy lalu mengirim pesan pada Qya.
[Kamu di mana? Kenapa tadi malam pergi begitu saja? Are you oke?]
Qya yang membaca pesan itu, langsung membalasnya.
[Pulang duluan, nginap di tempat teman.]
[Baguslah kalau kamu baik-baik saja. Kalau ad apa-apa, segera kabari aku atau yang lain.]
[Oke, jangan khawatir.]
Gael selesai membuatkan Qya makanan. Dia menghiasi layaknya makanan yang ada di restoran bintang tujuh.
Gael memperhatikan mulut Qya yang mengunyah, membuat pria itu kembali ingin menciumnya.
Kenapa apa pun yang dia lakukan, terlihat sangat menggoda?
"Aku ngantuk, mau tidur dulu."
Keesokan harinya
Gael dan Qya pergi bersama, tapi gadis itu minta diturunkan di jalan, karena tidak mau ada yang melihatnya pergi bersama Gael.
"Memangnya kenapa, sih?"
"Aku enggak mau aja, nanti cewek-cewek semakin iri sama aku. Apalagi tuh si Vanya, dia kan ngebet banget mau dapatin kamu."
"Ya cuekin aja. Yang penting kan aku sukanya hanya sama kamu saja."
"Pokoknya aku enggak mau ada yang tahu soal hubungan kita."
"Ya sudah, terserah kamu saja."
Gael sebenarnya keberatan, dia ingin semua laki-laki di kampus tahu, kalau sekarang Qya adalah miliknya, dan tidak ada yang boleh mendekati Qya. Gael juga ingin para perempuan di kampus itu tahu, kalau doa sudah ada yang punya, jadi tidak perlu lagi mendekati dirinya, karena itu tidak akan mempan. Hanya Qya saja yang bisa menggetarkan hatinya.
Qya akhirnya turun di pinggir jalan, yang masih cukup jauh dari kampus.
"Kamu jalan duluan," ucap Qya.
"Aku tungguin kamu dulu sampai naik taksi."
"Enggak usah, lagian kan sebentar lagi kamu masuk."
"Ya sudah, kamu hati-hati, ya."
"Iya."
Qya turun dari mobil Gael. Tidak berapa lama Gael pergi, sebuah mobil berhenti di depan Qya.
"Qya, ayo bareng aku ke kampus."
"Willy?"
"Ayo."
Qya melihat mobil Gael yang sudah tidak terlihat lagi, lalu masuk ke dalam mobil Willy.
"Kamu kenapa ada di sana?"
"Diturunin sama teman aku."
"Kamu ada uang enggak, Qy?"
"Sini kalau mau ngasih."
Willy lalu mengambil uang yang ada dalam laci dasbor.
"Beli apa saja yang kamu mau. Kalau kurang nanti minta aja sama aku."
"Benar, ya?"
"Iya, masa aku bohong sama kamu."
Qya menghitung uang yang diberikan oleh Willy, ada dua juta lima ratus. Qya tersenyum senang, setidaknya dia punya uang cash sebanyak ini di dompetnya.