Trouble Girl

Trouble Girl
50 Janji Gael



Kedua pria itu masih saja penasaran. Melihat gelagat keduanya, pastinya mereka sudah saling mengenal sejak lama.


Angga langsung mengajak Qya ke mall sesuai janji pria itu yang akan membelikan Qya apa yang gadis itu mau.


...🌼🌼🌼...


Jesi melempar ponselnya. Oni sudah yang ke berapa kakinya dia mendapat kiriman foto-foto suaminya bersama dengan seorang perempuan. Memang wajah perempuan itu tidak kelihatan, tapi dilihat dari penampilannya, bisa ditebak kalau perempuan itu masih muda. Bahkan Jesi bisa melihat binar bahagia di wajah suaminya itu. Wajah yang setiap kali dia lihat di rumah selalu menampilkan wajah lelah dan cuek.


Dia tidak terima, sungguh tidak terima kalau suaminya menduakannya. Dia ingin dsn akan mempertahankan suaminya, apa pun yang akan terjadi.


Perempuan itu lalu mengambil ponsel yang tadi dia lempar dengan penuh emosi.


"Ya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin kamu menyelediki siapa perempuan yang sedang dekat dengan suami saya sekarang. Kirimkan data-data lengkapnya. Saya butuh cepat, apa kamu mengerti?"


Pria itu tidak langsung menjawab, tapi tidak lama kemudian dia menjawab, "Baik, Nyonya."


Jesi mengatur nafasnya, setelah merasa sedikit tenang, dia lalu merapihkan penampilannya karena sebentar lagi suaminya akan pulang.


...🌼🌼🌼...


Qya meletakkan barang-barang yang dibelikan oleh Angga di kosannya. Bisa ribet nanti urusannya kalau Gael sampai melihat dia membawa banyak barang. Setelah meletakkan semua itu, dia lalu kembali ke apartemen.


"Kamu dari mana? Aku baru saja ingin menghubungi kamu."


"Aku tadi bertemu dengan teman lama aku di kafe." Qya lalu bergelayut manja di lengan Gael.


"Kamu sudah makan?" tanya Gael.


"Sudah, tapi aku masih pengen ngemil. Beli cemilan, yuk."


"Oke. Kamu mandi dulu."


Gael mengajak Qya membeli berbagai makanan yang ada di pinggir jalan. Qya yang menyukai makanan mahal dan mewah, tapi juga tidak pernah keberatan kalau harus membeli makanan di pinggir jalan seperti martabak telur atau martabak manis, sate, bakso, atau makanan lainnya.


"Makan sate yuk, aku jadi pengen makan sate."


"Oke, apa pun yang kamu mau."


Qya memilih sate ayam dan kambing sekaligus, pakai lontong. Gael tersenyum melihat Qya yang banyak makan, tidak takut gemuk, dan seperti bisa—tidak pernah jaim—seperti perempuan lainnya.


Qya langsung tersedak makannya.


"Kamu ngelamar aku? Masa ngelamar enggak romantis amat, di warung sate."


Gael langsung tertawa.


"Ya nanti akan ada lamaran spesial, dong. Aku bilang ini hanya ingin kamu tahu, kalau aku sungguh-sungguh sama kamu. Nanti aku akan cari waktu yang pas untuk ngenalin kamu ke keluarga aku."


Gawat!


"Enggak usah buru-buru. Kan aku juga baru kuliah. Baru semester dua. Lagi pula, apa orang tua kamu mau menerima aku? Aku kan enggak sebanding sama kamu."


"Jangan bicara begitu. Aku akan tetap memperjuangkan kamu apa pun yang terjadi."


"Walau harus bertentangan sama keluarga kamu?"


Gael tidak langsung menjawab.


"Tuh, kan. Kamu saja masih bimbang. Lebih baik kamu pikir-pikir dulu. Aku juga tidak mau nantinya sakit hati mendengar hinaan dari keluarga kamu."


"Enggak. Aku akan tetap bersama kamu, apa pun yang terjadi."


"Meski apa pun yang terjadi? Termasuk meninggalkan keluarga kamu?"


"Iya."


"Janji, ya. Kamu akan lebih memilih aku daripada keluarga kamu." Qya memasang wajah sedihnya.


"Iya, aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apa pun yang terjadi."


Dalam hati, Qya bersorak gembira.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya🤗