
"Kamu tahu gak sih, Ga? Si Qyara ito simpanan om-om."
Deg
"Apa? Jangan sembarangan kalau bicara!"
"Enggak sembarangan, orang kami lihat sendiri, kok."
"Kapan?"
"Di mall sama di kafe."
Reno dan Miko lalu menceritakan kapan tepatnya mereka melihat Qyara.
Oh, itu kan memang Qya lagi ada di sana. Dia juga sudah bilang kok, sama aku.
"Mungkin hanya temannya, jangan berprasangka buruk dulu."
Gael masih berpikir positif tentang Qya, itu juga karena Qya memang pernah cerita saat dia berada di mall dan kafe. Reno dan Miko menatap aneh pada Gael, seolah pria itu sangat percaya dan beranggapan kalau Saya tidak seperti itu.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di mall. Miko dan Reno memilih pulang lebih dulu karena ada acara keluarga dan Haris menjemput mamanya pulang arisan. Gael berjalan sendirian di mall, banyak para gadis yang menatap penuh kagum padanya.
Tiba-tiba saja matanya tertuju pada seorang perempuan, yang terlihat dirangkul oleh seorang pria berumur.
"Qya?"
Gale langsung menghampiri gadis itu.
Bugh
"Gael, apa yang kamu lakukan!"
Gael kembali memukul pria itu, tidak peduli dengan teriakan Qya.
"Lepas, Qya! Berani-beraninya pria ini memeluk kamu!"
"Siapa dipeluk siapa?"
"Pria tua ini menggangu kamu."
"Gael, orang ini bos aku."
Pria yang dipukul oleh Gael iri adalah Damian. Damian membalas memukul Gael, mereka kberida malah terlibat perkelahian. Terdengar bisik-dari para orang yang melihat.
"Jangan-jangan simpanan pria tua itu?"
"Wajar, sih. Yang perempuan memang sangat cantik."
"Pria yang tua itu, meski sudah tia tapi masih terlihat gagah, dan kaya. Siapa yang menolak pria seperti itu."
"Iya, dibandingin pria yang muda, mungkin dia masih mengandalkan uang dari orang tuanya."
Mendengar itu Gael semakin emosi. Dia semakin menghajar Damian. Damian tentu saja tidak terima ada anak ingusan seperti Gael yang memukulnya.
"Gael, berhenti! Kamu bikin malu tahu, gak!"
Gael melepaskan cengkeramannya di baju Damian.
"Apa kamu bilang?"
"Kamu bikin malu! Datang-datang langsung main pukul enggak jelas begitu!"
"Ikut aku!" Gael menarik tangan Qya.
"Lepas!"
Gael tidak peduli, dia tetap menarik tangan Qya.
"Barang-barang aku ...."
"Biarkan saja, aku akan menggantikan dengan yang lebih bagus."
Sesampainya di apartemen
"Kamu apa-apaan, sih?"
"Kamu yang apa-apaan? Kenapa kamu jalan sama om-om? Apa uang yang aku bero selama ini kurang? Apa yang kurang dari aku? Bahkan aku lebih muda dari dia, aku bisa kasih semua yang kamu mau. Kamu malah memilih jadi sugar baby untuk pria yang lebih pantas jadi ayah kamu."
Plak
"Jaga bicara kamu, ya!"
"Selama ini aku selalu memberikan apa yang kamu mau, Qy. Apa masih kurang? Tidak ada yang aku lewatkan sedikit pun untuk kamu. Mobil, apartemen, tas, baju, sepatu, perhiasan. Semua, semuanya aku berikan untuk kamu."
"Jadi sekarang kamu mengungkitnya? Merasa bangga karena sudah memberikan semua itu padaku? Kan kamu sendiri yang mau ngasih, bukan aku yang meminta. Kamu yang mau menjadikan aku pacar kamu, bukan aku yang mengejar-ngejar kamu. Benar kan apa kata aku, suatu saat nanti pasti kamu akan mengungkit apa yang sudah kamu kasih. Tuh, ambil semua yang kamu punya, aku enggak butuh!"