
"Qyara itu adik kamu, kenapa kamu menjerumuskan dia seperti ini, hah?" Gael benar-benar sangat marah. Kalau bukan karena balapan ini, Qya tidak akan mungkin kecelakaan. Kalau saja dia tahu BM itu adalah Qyara, pasti dia tidak akan pernah mau menantangnya.
"Kamu ...."
"Cukup. Kita bicarakan ini nanti, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Qya. Setelah Qya sembuh, Daddy akan membawa kamu dan Qya ke mansion Daddy. Kita akan tinggal bersama, Vano."
Edward ingin bertanya, ke mana mommy mereka, tapi ini bukan waktu yang tepat. Tiba-tiba saja, satu pikiran buruk terlintas.
Tidak, istriku tidak mungkin sudah meninggal, kan? Tapi kenapa Qyara bilang, dia besar di rumah panti pijat?
Edward menggelengkan kepalanya, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibu dari anak-anaknya. Mereka bahkan belum bertemu setelah sekian lama.
Tuhan, tolong sembuhkan anak perempuanku. Persatukan lagi keluarga kami sam jangan pisahkan lagi kami. Aku mohon.
Pintu ruangan UGD terbuka, membuat mereka mengalihkan pandangan ke arah dokter.
"Bagaimana, Dok?"
"Keadaan pasien cukup parah. Selain kehilangan banyak darah, pasien juga mengalami benturan yang cukup kuat. Ada beberapa retakan di tulangnya. Kami akan memindahkannya ke ruangan ICU."
Jika yang lain merasa bersedih dan tidak percaya, maka berbeda dengan Ricca dan Jesi. Mereka sangat senang, dan diam-diam tersenyum.
"Anak haram itu mamah pantas menerimanya."
Vano langsung mendekati Ricca dan mencekiknya.
"Kamulah yang anak haram. Dasar pelacur murahan! Kamu dan ibumu perempuan rendahan!"
"Hentikan!" Jesi mencoba menarik tangan Vano dari leher anak perempuannya, tapi tenaga Vano sangat kuat.
"Lepaskan, kamu bisa membunuh kakakku. Ingat, dia juga kakak kamu."
"Cih, dia bukan kakakku. Jangan dikira aku tidak tahu apa-apa. Dia ini memang anak haram, kan!" Vano menatap sinis pada Jesi, lalu Edward.
"A ... apa?"
"Perempuan ini memang anak haram! Apa kalian semua dengar?" tanya Vano pada mereka semua.
"Sudah aku katakan. Aku tahu semuanya, perempuan licik! Apu pun, aku tahu itu. Jadi jangan pernah mengusik kehidupan aku dan adikku. Jangan pernah menghina kami. Kamu dan kedua anakmu lah yang memalukan!"
Gael dan teman-teman mereka menatap Jesi, Edward dan Ricca.
Kenapa, kenapa Juan lebih banyak tahu tentang keluargaku? Sedangkan aku sendiri tidak tahu apa-apa.
"Bukankah begitu, Tuan Edward? Bukankah perempuan ini anak haram?"
"Vano, Daddy bisa jelaskan semuanya."
"Tidak perlu. Sudah aku katakan, aku tahu semuanya. Bahkan lebih tahu dari siapa pun yang ada di sini."
"Bahkan kalian ...." Vano menunjuk Gael dan Ricca dengan dagunya.
"Sudah merebut hak aku dan Qyara. Dan kalian berdua juga harus menerima pembalasan dariku. Aku akan menghancurkan ibu kalian dan kalian berdua."
"Cukup! Jaga bicara kamu. Jangan lancang!" bentak Jesi.
"Kenapa? Takut? Ingat, bangkai mau ditutupi seperti apa pun, tetap akan tercium juga. Sudah cukup selama beberapa tahun ini, kamu dan kedua anakmu hidup enak dan nyaman." Vano tersenyum sini dan menatap tajam mereka.
"Dan kamu. Apa kamu tahu, kamu sudah menjadi salah satu orang yang menyebabkan Qya menderita. Qyara harus besar di panti asuhan. Kamu selama ini selalu mengatakan kalau kamu mencintai dia, kan? Bagaimana rasanya sudah menjadi salah satu penyebab penderitaan dia selama ini?"
Gael terhuyung ke belakang.
Benar, dia bisa hidup enak selama ini. Sedangkan Qya, yang juga anak papanya, malah harus di panti asuhan.