
"Kamu di mana, Qy? Tolong jangan buat aku khawatir. Maafkan aku," gumam Gael.
Pria itu sangat mencemaskan Qya, apalagi gadis itu pergi dalam keadaan marah.
Aku janji tidak akan lagi membiarkan ada yang menyakiti dan menghina kamu. Aku akan menjadi orang pertama yang membela dan melindungi kamu. Pulanglah!
Hingga pagi datang, dia tidak juga menemukan Qya. Pria itu bahkan belum pulang ke apartemen miliknya apalagi istirahat.
Gael akhirnya memutuskan untuk pulang, menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasur yang biasa Qya tiduri.
Baru dua hari dia jadian dengan Qya, tapi malah seperti ini.
...💦💦💦...
Sudah satu minggu ini Qya tidak kuliah. Nomor ponsel juga tidak bisa dihubungi.
"Pasti malu tuh, beasiswa juga pasti dicabut!" ucap Vanya penuh kesenangan.
Dao sangat puas jika bisa membuat Qyara keluar dari kampus ini, apalagi dikeluarkan tanpa hormat.
Teman-temannya Qya yang mendengar itu sangat marah.
Brak
Sebelum mereka memarahi Vanya, suara gebrakan meja yang keras terdengar.
"Mulut kamu itu bisa direm tidak, sih? Kenapa kamu selalu saja mencari masalah?"
"Gael? Kenapa kamu marah?"
"Itu karena aku jengah melihat kamu! Hanya karena kamu anak salah satu donatur di kampus ini, sudah sangat sombong. Kamu kors hanya ayah kamu saja yang jadi donatur di sini?"
Wajah Vanya langsung merah, dia sangat malu ditegur seperti itu oleh Gael, pria yang menjadi incarannya selama ini.
Juan yang mendengar itu, memicingkan matanya. Tidak biasanya Gael yang terkenal cuek, sekarang malah berkomentar. Begitu juga dengan mahasiswa lainnya.
Gael langsung meninggalkan kantin oto, diikuti oleh Miko dan Reno.
"Kamu kenapa sih, Ga? Akhir-akhir ini uring-uringan terus?"
"Gak apa, hanya jenuh saja. Cabut, yuk!"
Ketiga pria itu akhirnya bolos kuliah.
"Ke mana kita?" tanya Reno.
"Main billiar saja."
...💦💦💦...
Di apartemen Vano, Qya hanya makan tidur makan tidur saja. Dia masih belum mau kuliah, bukannya takut dengan Vanya, hanya saja dia memang sedang malas.
"Kamu enggak takut beasiswa kamu dicabut?"
"Enggak."
Vano mengusap kepala Qya dengan sayang. Wajah pria itu terlihat sendu.
"Jangan bersedih, Vano." Qya memeluk Vano, tahu kalau pria itu sedang bersedih.
"Ayo makan, kita tidak boleh melow begini."
...💦💦💦...
Malam harinya Qya pergi ke club malam. Matanya memperhatikan sekitar, siapa tahu saja ada orang yang dia kenal. Gadis itu memesan minuman.
Gael yang baru datang, langsung melihat Qya. Dia ada janji dengan Reno dan Mico, hanya saja kedua sahabatnya belum ada yang datang.
"Qya, kamu ke mana saja selama ini? Ayo pulang."
"Lepas."
Gael menarik tangan Qya, membawa gadis itu ke dalam mobilnya.
"Aku khawatir sama kamu, Qy. Ke mana saja kamu?"
"Enggak usah sok peduli, urus saja perempuan kamu itu."
Qya memalingkan wajahnya, rasa kantuk membuat gadis itu akhirnya tertidur di dalam mobil Gael.
Pagi harinya Qya bangun, dan melihat kamar yang biasa dia tempati.
Gadis itu berdecak kesal, dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Qya ...," sapa Gael begitu melihat gadis itu turun ke bawah. Qya masih memakai bajunya yang yang tadi malam, dan pria itu langsung tahu kalau Qya masih marah padanya.
"Sayang ...."
"Jangan panggil aku sayang!"
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Jagan marah lagi, apalagi pergi dariku." Gael berusaha memeluk Qya, tapi langsung ditepis oleh gadis itu.
"Kamu membela perempuan lain, apalagi di depan orang-orang."
"Enggak, Sayang. Aku hanya tidak mau kamu terluka, apalagi saat itu aku melihat wajah kamu yang terkena cakaran." Gael mengusap pipi Qya, memerhatikan apakah masih ada bekas luka atau tidak.
"Mana mungkin aku membiarkan perempuan yang aku cintai sampai terluka. Tidak ada yang boleh menyakiti kamu."
"Dia menghina aku dan kedua orang tuaku. Aku membencinya, padahal selama ini aku tidak pernah mencampuri urusannya"
"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menghina kamu lagi, apalagi kedua orang tua kamu. Jangan marah lagi sama aku, hm?"
"Dengar Gael, aku tidak butuh pria yang tidak bisa membela aku. Aku akan meninggalkan kamu dan bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih kaya dari kamu. Kalau kamu selingkuh apalagi menyakiti aku, maka aku akan meninggalkan kamu dan bersama pria lain. Laki-laki di dunia ini bukan hanya kamu saja."
"Tidak, jangan pernah bicara seperti itu, Qy. Aku tidak akan menyakiti kamu, dsn kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku apalagi untuk bersama pria lain. Tidak akan pernah aku biarkan. Hanya aku yang boleh memiliki kamu, selamanya." Gael langsung mencium bibir Qya. Menyalurkan semua kerinduan dan rasa sayangnya. Rasa takut kehilangan dan ingin memiliki.
Qya diam saja. Tidak menolak tapi juga tidak membalas. Gael bahkan meninggalkan jejak di leher putih gadis itu. Jantungnya berdetak kencang dengan nafas yang tertahan.