Trouble Girl

Trouble Girl
48 Milikmu Untukku



Ponsel Gael berbunyi, dia langsung membuka pesan masuk dan wajahnya langsung tersenyum cerah.


[Sayang, kamu di mana? Ke mall, yuk.]


[Tinggi sebentar ya, Yang. Aku lagi sama keluarga aku.]


[Kalau lama, aku sama teman aku saja.]


[Eh, jangan. Oke, aku ke sana sekarang.]


"Pa, Ma, Gael pergi dulu, ya. Ada urusan penting."


Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya, Gael langsung pergi dari rumah kakaknya. Untung saja tadi dia membawa mobil sendiri.


Setengah jam kemudian pria itu Toba di apartemen.


"Qy ... Sayang?"


"Iya, aku di kamar."


Gael membuka pintu kamar Qya, dilihatnya gadis itu sedang mengoleskan pelembab di bibir merah Cherry-nya. Gael sungguh tidak tahan melihatnya. Di dekatinya Qya dan langsung mencium bibir itu.


"Ayo," ajak Qya langsung. Gael menurut saja, dia senang Qya mau mengajaknya jalan, bukan malah pergi sama teman-temannya yang Gael sendiri saja tidak pernah tahu siapa saja teman-teman kekasihnya itu.


Yang Gael tahu hanya wajah-wajah yang kuliah di kampus, tapi mereka juga bukan teman-teman Gael, beda kubu.


Mereka akhirnya tiba di mall. Qya langsung mengajak Gael ke toko tas. Gadis itu memilih-milih tas dan terlihat bingung.


"El, bagusan yang mana?"


"Ambil saja dua-duanya."


Gael langsung mengeluarkan black card miliknya.


Mereka kaur dari toko tas setelah membeli dia tas itu. Gael tidak segan membawakan barang belanjaan Qya.


"Kita makan, ya. Aku lapar."


Mereka memasuki restoran Jepang. Di sana ternyata ada saingan Gael, yaitu Juan. Juan menatap Gael dengan sinis. Juan lalu melihat ke arah Qya, dan Gael tidak suka itu.


Qya memilih berbagai jenis sushi, dan menu lainnya.


"Kamu tadi ngapain sih?"


"Tadi aku anterin kakak aku pindah rumah."


"Kakak?"


"Iya. Aku punya satu kakak perempuan, dia sudah menikah. Tadinya masih tinggal bersama orang tua kami."


"Oh. Kamu pasti bahagia banget ya, punya keduanorang tua yang kaya, dan kakak."


Gael menatap Qya, wajah gadis itu terlihat datar saat mengatakannya. Apa mungkin Qya iri, pikir Gael.


"Keluargaku sebenarnya kurang harmonis," ucap Gael pada akhirnya.


Mungkin ada baiknya dia cerita pada gadis yang dicintainya ini, agar beban di hatinya yang selama ini dia pendam bisa sedikit berkurang.


"Maksudnya?"


"Aku sering mendengar kedua orang tua aku bertengkar. Entah apa yang yang mereka ributkan. Itu sebabnya aku tidak betah tinggal di rumah. Mereka tidak tahu, kalau sebenarnya aku tahu bagaimana keadaan di rumah yang sebenarnya. Mereka akan bersikap harmonis di hadapan anak-anaknya dan orang-orang, terutama opa."


Qya diam mendengarkan cerita Gael.


"Ya setidaknya kan, kamu masih punya keluarga yang lengkap. Tidak seperti aku yang harus tinggal di rumah yatim piatu."


Lagi, setia mengatakan tentang keadaan dirinya, ada gurat kesedihan dalam hati Qya.


"Bagaimana kalau semua yang kamu punya, untuk aku saja?" tanya Qya. Gael langsung menatap Qya.


"Tinggal di rumah besar, bisa beli apa saja yang aku mau, diwariskan perusahaan, dan papa kamu juga untuk aku. Pasti hidupku akan sangat bahagia, ya." Dikatakan dengan ekspresi wajah yang lucu, dan membuat Gale langsung tertawa. Dia pikir gadis di hadapannya ini sedang bercanda.


Pandangan mata Qya malah tertuju pada Juan, yang sedang memperhatikan mereka.