Trouble Girl

Trouble Girl
23 Selimut



"Pria seperti aku? Memangnya aku bagaimana?"


"Kamu tampan, kaya, terkenal di kampus. Anak pengusaha, dan pintar. Kamu juga royal. Aku saja yang bukan siapa-siapa kamu, sering dibelikan barang mewah, apalagi pacar kamu. Sudah berapa banyak perempuan yang jadi pacar kamu?"


"Aku belum pernah punya pacar, Qya."


Qya langsung tertawa mendengar perkataan Gael.


"Kenapa tertawa, memangnya ada yang lucu?"


"Kamu pikir aku percaya?"


"Tapi aku serius. Kamu sendiri, Sidah ada berapa pria yang menjadi kekasihmu? Apa sekarang kamu memiliki pacar?"


Gael langsung menyesali pertanyannya.


"Pacar, ya? Ck, tidak ada."


"Kamu belum punya pacar?"


"Belum."


Mendengar itu Gael sangat senang. Tapi apa benar gadis di hadapannya ini belum memiliki kekasih?


"Kamu mau, jadi pacar aku?"


Suasana langsung hening. Gael menahan nafasnya, tidak menyangka kalau dia akan mengungkapkan keinginannya kepada Qya.


"Kamu mau kan, jadi pacar aku?"


Qya tidak langsung menjawab. Mata indah itu menatap Gael dengan lekat.


"Aku tidak mau terkekang."


"Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau, Qya."


"Apa pun yang aku mau?"


"Iya. Apartemen, mobil, perhiasan."


"Benar?"


"Iya. Apa kamu masih meragukan itu?"


"Hm, tidak juga."


Qya berpikir sejenak. Menjadi kekasih pria ini, berarti dia bisa mendapatkan kemewahan.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Sudah aku bilang, aku tidak mau dikekang."


"Jadilah pacarku, Qya. Aku akan memberikan kamu apa saja. Kamu mau apa, hm? Mobil, apartemen? Perhiasan? Jalan-jalan ke luar negeri?"


"Sekarang kamu akan memberikan apa pun yang aku mau, nanti saatnya kita putus, kamu akan meminta semua itu lagi."


"Ya ampun, Qy. Kita bahkan belum jadian, tapi kamu sudah berpikir putus."


"Bukanya memang begitu, kan? Saat menjalin hubungan dengan seseorang, hanya ada dua kemungkinan. Putus atau lanjut."


"Apa kamu akan seperti ini terus?"


"Maksudnya?"


"Hidup bebas. Kamu ini perempuan, Qy. Apa kedua orang tua kamu tidak khawatir? Apa pria-pria itu yang memberikan semua kemewahan untuk kamu? Tinggalkan Mereka, aku akan menggantikan semuanya. Aku yang akan memberikan kamu kemewahan."


Wajah Qya langsung berubah.


Brak


Suara gebrakan meja itu mengagetkan Gael. Tangan Qya terkepal dengan nafas yang cepat.


Gael tertegun mendengar perkataan Qya. Dia benar-benar tidak tahu kalau Qya anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan.


"Aku kembalikan semua barang-barang yang kamu berikan. Aku juga akan keluar dari kosan itu."


"Apa yang kamu lakukan, Qya!"


Qya membuka dress yang dia pakai, kini hanya menampilkan dia dengan pakaian dalamnya saja.


"Berhenti, Qya."


"Aku enggak butuh barang pemberian kamu."


Gael menahan nafas, dia sedikit memalingkan wajahnya melihat Qya yang hampir polos.


"Pakai baju kamu, Qy!"


"Aku tidak mau lagi memakai apa pun yang kamu berikan."


Gadis itu lalu berlari ke kamarnya, dan dikejar oleh Gael.


Pria itu menarik selimut, menutupi tubuh Qya.


"Lepas!"


"Maafkan, aku. Aku tidak bermaksud merendahkan kamu dan mengungkit kedua orang tua kamu. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu."


Gael menyesal. Belum apa-apa saja dia sudah membuat gadis ini menangis.


"Kamu jangan mengembalikan apa pun yang aku berikan."


Pria itu menenangkan Qya dalam pelukannya. Untung saja dia sudah menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Kalau tidak, dia bisa saja khilaf.


Bel apartemen Gael berbunyi, pria itu diam saja, tidak peduli siapa yang datang. Ada Qya di sini, dan menenangkan Qya adalah hal yang paling penting saat ini.


Gael tidak mau Qya marah padanya, apalagi membenci dirinya. Bel terus saja berbunyi, sampai akhirnya berhenti juga.


"Jangan marah lagi, aku mohon."


Qya diam saja, dia berusaha mendorong pria itu, tapi tentu saja Gael tidak akan melepaskan pelukannya sebelum Qya memaafkan dirinya.


"Tolong maafkan aku. Jadilah pacarku, aku akan membiayai semua kebutuhan kamu. Aku akan melindungi kamu. Kalau kamu menyukai kemewahan, maka akan aku berikan."


"Kamu akan memberikan apa pun yang aku mau, kan?"


"Iya."


"Baiklah, aku mau menjadi pacar kamu."


"Benar?"


"Iya."


Qya mendongak ke atas, menatap wajah Gael yang terlihat sangat tampan. Gael pun terpesona melihat wajah Qya. Meski terlihat sembab, gadis itu tetap cantik. Matanya yang masih basah justru semakin terlihat seksi.


Gael sudah tidak tidak kuat lagi. Doa mendekatkan wajahnya pada Qya.


Bibir itu akhirnya bersentuhan.


Gael bisa merasakan sesuatu yang lembut dan dingin. Dia menekan tengkuk Qya, sedangkan gadis itu mengalungkan lengannya di leher Gean.


Jantung Gael berdetak kencang. Dia tidak ingin semua ini berakhir. Dalam hati dia berjanji tidak akan pernah melepaskan gadis ini.


Mulai hari ini Qya adalah miliknya. Tidak akan dia biarkan laki-laki mana pun merebut Qya dari dirinya.


Ciuman itu akhirnya berakhir, kening keduanya saling menempel, mengambil nafas masing-masing.


"Pakai baju kamu, aku tunggu di luar.


Gael buru-buru keluar dari kamar. Lebih lama lagi di sini, maka dia tidak bisa menjamin kalau dia tetap akan bertahan.