Trouble Girl

Trouble Girl
57 Seharusnya ....



"Yang, malam ini aku mau pergi ya, ada acara sama keluarga aku."


"Iya. Aku juga nanti mau pergi ya, sama teman-teman aku."


Gak mengangguk, dia senang Qya mau memberi tahu padanya, walaupun dia tahu meski tidak diijinkan, tetap saja gadis itu akan pergi, kan.


Gael melanjutkan pekerjaannya di laptop, sedangkan Qya juga mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Gael melirik Qya, untuk masalah pendidikan, gadis itu tidak perlu diingatkan, dia akan belajar dan mengerjakan tugas dengan sendirinya.


Malam harinya Gael sudah rapih dengan penampilan yang sangat tampan. Dia akan ke kediaman kedua orang tuanya lebih dulu, setelah itu akan pergi bersama.


"Aku pergi dulu, Yang. Kamu hati-hati, ya. Jangan lupa kabari aku."


"Oke."


Setelah Gael pergi, Qya juga langsung mengganti bajunya. Dia memakai gaun yang sangat indah dan tentunya sangat mahal. Tas, sepatu, jam tangan, dan perhiasan, semuanya barang-barang branded.


Oke, perfect.


Gadis itu lalu pergi ke loby setelah Maura menghubunginya. Di dalam mobil itu ada teman-temannya.


"Lain lain ke mana?"


"Mungkin ada yang sudah sampai di sana. Kan gak mungkin kalau kita semua satu mobil."


Hampir satu jam kemudian mereka tiba di loby hotel. Sudah banyak tamu undangan yang hadir.


Banyak pasang mata melihat ke arah Qya.


"Om, Tante, selamat ya," ucap Qya.


"Makasih Sayang, sudah mau hadir."


Anak-anak muda itu berkumpul di satu tempat. Mereka datang karena orang tua mereka juga diundang, dan mereka itu Haris ikut sebagai ajang pamer lara orang tua. Anak siapa yang paling ganteng atau cantik, anak siapa yang paling menonjol dalam bisnis atau pekerjaan, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, akan ada perjodohan bisnis.


Dan mereka sebenarnya muak akan hal itu.


"Itu Juan," ucap salah satu dari mereka.


"Gila, ganteng banget, ya."


"Masih gantengan Gael."


"Enggak, ah. Gantengan Juan."


Perdebatan antara pera perempuan itu hanya didengar saja oleh Qya, tanpa mau ikut menanggapi.


"Coba kita tanya sama Qya. Qyara, menurut kamu, siapa yang paling tampan?"


"Juan."


"Tuh kan, benar."


"Ish, Qyara mah enggak asyik."


Qya lalu melihat Gael, bahkan bukan hanya Gael. Do sana ada Edward dan juga Angga. Gadis itu lalu memalingkan wajahnya.


Kenapa ketiganya bisa ada di sini bersamaan?


Qya baru ingat kalau ini adalah acara ulang tahun perusahaan orang tua sahabatnya Qya. Kalau pandangannya beralih kepada pria tua yang juga berdiri bersama mereka. Doa adalah Erlan—kakek Gael.


Gadis itu sedikit dengan cepat. Apa yang sebaiknya doa lakukan sekarang? Lalu dia memandang Juan, yang saat ini juga sedang menatap Gael dan keluarganya dengan penuh kebencian.


Mata Qya melirik kiri kanan kiri kanan, antara Juan dan Gael. Melihat Gale yang tertawa bahagia dengan kelurganya. Apa pria itu benar-benar bahagia saat ini, atau hanya berpura-pura saja?


Qya lalu berpikir, kalau dia memiliki kekuatan yang utuh, pasti dia juga akan seperti itu, kan? Tertawa bersama, makan bersama, pergi ke pesta bersama, bahkan liburan bersama.


Seharusnya bukan mereka yang berada di posisi itu. Seharusnya bukan mereka yang saat ini bahagia, seharusnya merekalah yang menderita. Seharusnya mereka yang menangis. Oke, kali ini aku sendir yang akan melakukannya dengan baik. Bersiap-siaplah ....