
Qya menatap saldo rekening yang dia dapatkan dari Damian. Cukup besar, dan belum pernah dia pakai sedikit pun.
Dia juga memperhatikan saldo rekening masing-masing dari Gael dan Edward, yang tentu saja juga jumlahnya tidak sedikit, lalu yang terakhir saldo dari Angga.
"Jadi, kapan kita akan mengakhiri semuanya?" tanya Qya pada Vano.
"Tidak lama lagi. Bersabarlah, setelah itu kita akan pergi jauh dari negara ini."
"Aku harus menguras lebih banyak lagi dari mereka. Ini masih belum ada apa-apanya."
Padahal gadis itu sudah cukup mendapatkan banyak dari mereka, tapi tetap saja semuanya terasa kurang baginya.
Do lain tempat, Damian sedang sibuk mengurus perusahaannya. Perusahaannya yang ada di luar negeri sedang bermasalah. Produk yang baru saja diluncurkan mengalami kerusakan, jadi pihak pembeli melakukan komplain besar-besaran. Pria itu terpaksa harus mengurusnya seorang diri.
Sebelum pergi, dia sempat mengirimkan uang ke rekening Qya, juha mengirimkan uang untuk panti asuhan tempat Qya dibesarkan. Sejak pertama kali melihat gadis itu, dia pernah merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tapi di mana?
Dan saat tahu kalau gadis itu anak yatim piatu yang besar di panti asuhan, Damian semakin iba, bahkan tidak segan untuk memberikan banyak uang.
Tidak hanya Damian, Jesi juga sekarang sedang cemas. Dia cemas menunggu kabar dari orang suruhannya untuk mengetahui siapa perempuan yang sering bersama dengan suaminya itu. Dia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan pernikahannya.
Qya sedang berada di kampus, sesekali dia melihat ke arah kedua sahabat Gael yang memperhatikannya.
"Apa sih, lihat-lihat?" tanya Qya dengan ketus. Kedua pria itu hanya cengar-cengir saja. Qya Menag cantik, tapi dia juga terkenal cukup galak, tidak peduli mau itu pada senior atau bukan. Perempuan atau laki-laki. Vanya saja dia lawan.
Kedua sahabat Gael itu penasaran, apa benar Qya—primadona di kampus ini—seorang sugar baby?
Tidak lama lagi, aku akan merebut semua yang kamu miliki.
Juan lalu mengalihkan pandangannya dari Gean saat pria itu juga melihatnya.
"Kamu sebaiknya menantang Juan dan si BM itu, Gael," ucap Reno dengan berbisik.
"Benar, biar dia tidak angkuh seperti itu," tambah Miko.
Juan dan Gael yang memang selalu saingan sejak duku, sejak mereka masih sekolah. Kedua pria itu sama-sama ganteng, bahkan para perempuan terbagi menjadi dua tim. Satu pengagum garis keras Gael, dan satu lagi pengagum garis keras Juan.
Bedanya, kalau Gael terlaku cuek dengan pada perempuan, maka Juan sering menggoda perempuan.
Mengingat soal menggoda perempuan, hati Gael menjadi tidak tenang. Apa kadonya kalau Juan tahu kalau Qya adalah kekasihnya? Apa pria itu akan iri dan berusaha merebut Qya dari dia? Mungkin ada bagusnya juga selama ini mereka menyembunyikan tentang status mereka. Tapi pikiran lainnya juga terbalik, bisa saja pada pria—termasuk Juan—mendekati Qya.
Tiba-tiba saja lamunan Gael terputus saat mendengar suara tawa Qya.
"Ga, tahu gak? Masa kami melihat ...."
"Ayo ke kelas!"
Bari saja Reno mau mengatakan kalau dia dan Miko sering melihat Qya jalan bersama pria-pria yang berbeda, tapi Gael malah mengajak mereka ke kelas.