
"Sekarang, aku menuntut apa yang sudah kalian ambil dari kami."
"Anak-anak saya tidak pernah merebut apa-apa dari kamu dan adik kamu!"
"Masih juga mengelak!"
"Kamu ...!"
"Cukup! Jesi, kamu dan Ricca pergi dari sini sekarang juga!"
"Kamu mengusir aku dan Ricca?"
"Pergi!"
"Tidak, aku tidak mau. Aku akan tetap berada di sini selama kamu juga di sini."
"Kalau kamu masih mau tetap berada di sini, maka kamu diam!"
Jesi mendengus, tapi dia harus tetap diam sekarang, sebelum Edward benar-benar marah padanya.
Qya sudah dipindahkan ke ruang ICU. Juan langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi adiknya itu.
"Maafkan aku," ucapnya dengan lirih.
Dia lalu mengecup kening Qya, lalu kembali ke luar.
"Mau apa?" tanya Juan.
"Tentu saja Daddy ingin melihat anak Daddy, dan jangan halangi Daddy." Edward masuk, dan merasa tidak tega melihat anak perempuannya yang baru dia ketahui hari ini, berbaring di atas brankar rumah sakit dengan berbagai alat penunjang kehidupan dipasang di tubuhnya.
"Maafkan Daddy, sayang. Daddy baru tahu keberadaan kamu. Daddy janji Mukai hari ini, akan selalu menjaga kamu dan kakak kamu. Jangan tinggalkan Daddy lagi. Daddy akan membahagiakan kamu dan kakak kamu. Cepat sembuh, Daddy akan memberikan apa saja yang kamu mau."
Edward mengecup kening putrinya itu. Dia teringat, kalau Qya selalu merasa senang saat dia membelikan banyak barang untuk gadis itu. Saat Qya pertama kali memanggil dia Daddy. Ada perasaan hangat setiap kali dia bersama Qya. Ternyata ini alasannya.
Mereka kini duduk di ruang keluarga. Teman-teman Qya juga masih menunggu di sana. Mereka hanya bisa diam melihat perseteruan antara dua kubu ini.
Benar-benar di luar dugaan.
Hubungan yang cukup rumit antara mereka.
Gael dan Juna yang sejak dulu selalu bermusuhan, ternyata adalah saudara satu bapak lain ibu.
Lalu Juan dan Qya, yang tidak pernah terlihat bersama di kampus, dan terlihat biasa-biasa saja satu sama lain, ternyata saudara kandung.
Miko dan Reno saling lirik.
Bagaimana bisa Gael dan Qya adalah saudara satu bapak lain ibu?
Pasti Juan sedang menipu Gael dan keluarganya. Masalah donor darah yang sama, memiliki golongan darah yang sama juga tidak berarti memiliki hubungan darah, kan.
Hari mulai terang. Tidak ada yang tidak satu orang pun.
Angga dan Juan terlihat sangat gelisah.
Ed memperhatikan Angga yang sepertinya juga sangat peduli pada Qya.
Apa mereka memiliki hubungan khusus?
Edward tidak mau banyak berpikir saat ini, karena baginya yang terpenting sekarang adalah kesembuhan putrinya.
"Pa, tolong bujuk Angga untuk kembali padaku," bisik Ricca pada Edward.
"Kamu sudah dewasa, Ricca. Urus urusan kamu sendiri, apa kamu tidak malu selalu merengek kepada kedua orang tua kamu?"
"Tapi Pa ...."
"Cukup, Ricca. Jangan menambah pusing papa. Papa akan sibuk mengurus anak-anak papa yang selama ini jauh dari papa. Sudah saatnya kamu mandiri. Jangan lagi seperti anak-anak yang selalu meminta ini itu pada orang tuanya."
Ricca cemberut, AAP salahnya dia meminta pada orang tuanya sendiri, mereka kan mampu.
Teman-teman Qya akhirnya pulang juga. Mereka akan kembali nanti setelah istirahat. Gael, Juan dan Angga tetap bertahan di sana, begitu juga dengan Edward.
Jesi akhirnya memilih pulang. Toh gadis itu juga masih koma, pikirnya.
Mereka duduk bersandar di sofa. Miko dan Reno masih menemani Gael. Teman-teman Juan sudah dia suruh pulang juga.
Mereka yang melihat kejadian itu tadi malam, hanya bisa menghela nafas. Rasanya jantung mereka mau berhenti saat mobil Qya terus berputar tak terkendali. Menabrak lalu meledak. Untung saja Qya masih sempat keluar dari mobil itu, kalau tidak ....
Tidak, mereka tidak mau membayangkan. Tidak mau kalau hal buruk itu sampai terjadi.
Gael benar-benar terpuruk saat ini. Selain karena kini Qya yang koma, juga saat mendengar kenyataan kalau Qya adalah adiknya.
Tidak, dia bukan adikku. Mana mungkin dia adikku!
Gael menolak mentah-mentah kenyataan itu.
Apa Qya tahu semua ini?
Pria itu mengacak rambutnya.
Angga keluar dari ruangan itu, lalu diikuti oleh Reno dan Miko. Mereka pergi ke kafetaria rumah sakit untuk membeli makanan dan minuman.
Mereka langsung kembali ke kamar itu. Angga memberikan Juan kopi, air mineral dan makanan. Sedangkan Reno dan Miko juga membelikan hal yang sama untuk Gael dan Edward.
Kembali hening. Menunggu seperti ini, rasanya sangat tidak menyenangkan.
Sadarlah, Qya.