Trouble Girl

Trouble Girl
14 Warna Yang Sama



...🌼🌼🌼...


Tapi melihat bagaimana akrabnya Qya dengan beberapa senior dan teman-teman seangkatannya yang memiliki kekuasaan, mereka jadi memiliki pikiran lain.


Jam enam tiga puluh, Qya sudah selesai bersiap-siap. Dia menggunakan pakaian berwarna merah marun dengan panjang selutut. Kerah bajunya berbentuk V dan tanpa lengan.


Qya menyemprotkan minyak wanginya dan mengoles pelembab bibir.


Di apartemen Gael, pria itu juga sudah selesai bersiap-siap. Dia juga menggunakan kemeja berwarna merah marun. Gael melihat kemeja yang waktu itu dipakai oleh Qya. Sesuai dengan janjinya, dia menyimpan kemeja itu dengan hati-hati seolah kemeja itu adalah benda pusaka warisan leluhur.


Gael juga sudah mengunci kamar yang digunakan oleh Qya, agar tidak ada orang lain yang memasuki apalagi memakai kamar itu.


Anggap saja Gael berlebihan, tapi dia tidak peduli. Pesona Qyara memang tidak dapat dihindari.


Setelah merasa penampilannya sempurna, Gael langsung menuju tempat tinggal Qyara.


Dua puluh lima menit kemudian Gael tiba di depan tempat tinggal Qya. Sekali lagi Gael memeriksa penampilannya di kaca spion mobilnya. Lalu menyemprotkan lagi minyak wangi di bajunya. Perlahan Gael menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia belum pernah segugup ini sebelumnya. Dia lalu mencari kontak Qya di ponselnya yang dia beri nama My Future. Benar-benar percaya diri sekali dia. Entah bagaimana perasaannya nanti jika ternyata dia ditolak oleh Qyara, primadona di kampusnya.


“Halo?”


Suara lembut itu ....


Suara lembut itu memenuhi gendang telinga Gael, bagai irama merdu yang sangat menggoda. Gael mendesah pelan, sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang berbeda. Lagi-lagi pikiran liarnya berkelana memenuhi dirinya.


“Aku sudah di depan.”


“Aku keluar sekarang.”


Gael melihat Qya yang menghampirinya. Dia segera membuka pintu mobil untuk Qyara. Aroma semerbak dari tubuh Qyara tercium oleh indra penciuman Gael. Ingin sekali Gael menghirup dalam-dalam sekaligus memeluk tubuh seksi yang sangat menggoda iman itu.


“Kamu cantik sekali,” puji Gael sungguh-sungguh.


Biasanya jika ada wanita yang memujinya tampan, Gael akan biasa saja, bahkan merasa kesal karena tahu bahwa perempuan-perempuan itu ingin menarik perhatiannya. Namun kali ini berbeda, Gael justru merasa sangat senang bahkan ingin selalu mendengar pujian itu.


Penampilan Qyara selalu memukau. Belum lagi suaranya yang merdu. Melihat warna pakaian mereka yang sama, Gael langsung merasa kalau mereka jodoh.


"Kita makan di kafe langganan aku saja, ya."


"Oke."


Qya langsung menyebutkan nama kafe ya g dimaksud. Gael tentu saja tahu kafe itu. Bukan sembarang kafe, tapi itu kafe yang sering didatangi oleh para remaja kaya yang gemar nongkrong.


"Kamu sudah sering ke sana?"


"Iya, sama teman-teman aku."


Gael jadi teringat teringat tempat tinggal Qya yang hanya kosan. Bukan kosan biasa, tapi juga tidak terlalu mewah.


Seperti apa sebenarnya hidup gadis itu?


Gael melirik penampilan Qya. Sejak pertama kali melihat Qya, gadis itu tidak pernah memakai yang biasa-biasa saja. Semua mewah, dan bermerek terkenal.


Ponsel yang digunakan Qya bahkan keluaran terbaru.


Dari mana dia mendapatkan semua itu? Apa dia sebenarnya berasal dari keluarga kaya?


Gael juga jadi teringat gosip yang beredar tentang kedekatan dia dengan para pria kaya. Tanpa sadar Gael mengepalkan tangannya.


"Sialan!"


"Siapa yang sialan?"