
Tubuh Qya yang bagus itu meliuk-liuk dengan indahnya.
"Gila, itu Qyara, kan?" tanya Reno.
Ingin sekali Gael menarik Qya dan membawanya pulang. Siapa yang membawa Qya ke tempat ini? Apa gadis itu tidak tahu kalau di sini sarangnya laki-laki brengsek?
Tapi kalau dilihat dari gerakannya yang sangat luwes, sudah bisa dipastikan kalau Qya memang sudah sering datang ke tempat-tempat seperti ini.
Qya lalu turun, ingin minum karena merasa tenggorokannya sedikit kering. Gael mengikuti Qya dari belakang.
"Kamu ngapain di sini?"
"Eh, Gael? Aku jalan sama teman-teman aku."
Bartender memberikan minuman untuk gadis itu, yang sudah dipastikan kalau itu minuman beralkohol.
"Kamu gak minum?" tanya Qya.
"Nanti saja."
Qya menggerak-gerakkan badannya di atas kursi, mengikuti irama musik, begitu juga dengan kakinya yang ikut bergerak meski gadis itu duduk.
Gadis itu sudah cukup banyak minum, tapi belum juga mabuk. Semakin hari, Gael semakin mengenal tentang kepribadian Qya yang ternyata benar-benar bebas. Apa karena dia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya?
Badan Qya sedikit sempoyongan, tapi masih tetap sadar.
"Pulang yuk, Qy."
"Masih jam segini. Aku masih betah."
Gael melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah jam satu, dan gadis itu bilang masih jam segini.
Satu jam kemudian
"Ayo kita pulang!"
"Masih jam segini. Belum lagi!"
"Pulang!" Gael mengusap pipi Qya.
Untung saja tidak ada yang memperhatikan saat Gael menarik tangan gadis itu. Pria itu memutuskan untuk membawa Qya ke apartemennya saja, karena kosan Qya masih berantakan.
Qya tidur di dalam mobilnya Gael.
Tadi katanya masih jam segini—belum pagi—tapi sekarang malah langsung tidur.
Sesampainya di apartemen, Gael langsung menggendong gadis itu, memperhatikan wajah cantik Qya yang selalu cantik dalam keadaan apa pun.
Gael lalu membandingkan Qya di kamar yang biasa gadis itu tempati. Pria itu menghela nafas berat. Dia benar-benar tidak suka dengan cara hidup Qya yang terlalu bebas untuk seorang perempuan.
Dia ingin melarang, tapi tahu kalau dia tidak punya hak apa-apa untuk membatasi ruang gerak gadis itu.
...💦💦💦...
Qya menggeliat pelan, membuka matanya saat merasakan sinar matahari dari balik korden. Dia sudah tidak asing dengan kamar ini, kamar yang biasa dia tempati saat menginap di apartemen Gael.
Pintu kamar itu terbuka, Gael masuk dengan membawa sebuah nampan.
"Aku bawa sarapan dan obat untuk kamu."
"Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan kamu di sini. Ada di dalam lemari."
Qya lalu bangun dari kasur, membuka lemari dan menikah banyak pakaian perempuan dengan merek-merek terkenal.
"Wahhh ...." Wajah Qya langsung berbinar saat melihat baju-baju bagus itu.
"Ini punya siapa? Pacar kamu?"
"Ini semua untuk kamu, kalau menginap di sini."
"Benaran?"
"Iya, dong. Masa aku bohong sama kamu."
Qya lalu melihat ada pakaian dalam juga di sana. Dia menarik pakaian dalam itu.
"Ini ukurannya bisa pas denganku?" ucap Qya sambil mencobanya di depan badannya.
Wajah Gael langsung merah, kenapa gadis ini cuek saja. Mamah sih, Qya masih pakai baju, tapi menunjukkannya di depan seorang pria normal juga benar-benar menantang, kan!
"Kamu ... sudah biasa ya, membeli pakaian dalam perempuan?"
"Enggak, kok. Cuma buat kamu aja." Gael cepat-cepat menyangkal perkataan itu, agar Qya tidak salah paham.
"Kok bis pas begini? Bentuk dan warnanya juga bagus-bagus."
Ya ampun, bisakah dia berhenti melakukannya?
Di sana juga ada sepatu dan tas, juga aksesoris perempuan.
"Aku mau mandi." Qya mengambil pakaian dalam berwarna pink, dan segera masuk kamar mandi.
Ya ampun, kenapa malah aku yang deg-degan. Dia malah biasa-biasa saja.
Setengah jam kemudian Qya keluar dari kamar mandi. Memakai dress yang pas di badannya.
Qya melihat makeup di meja rias.
Kenapa dia bisa menyiapkan semua ini dengan lengkap? Jangan-jangan memang sudah punya pacar.
"Kamu enggak kuliah?" tanya Gael.
"Enggak, ah. Malas aku, lagian sudah siang."
"Kamu tadi belum sarapan dan minum obat."
"Oh iya, aku sampai lupa. Aku sarapan aja, enggak perlu minum obat segala."
Qya lalu memakan nasi goreng buatan Gael.
"Berapa pacar kamu?" tanya Qya.
"Pacar aku? Aku belum punya pacar."
"Bohong! Mana mungkin pria seperti kamu belum punya pacar."