Trouble Girl

Trouble Girl
38 Melamar Pekerjaan



"Ini uang untuk kamu." Edward memberikan uang kepada Qya, tanpa perlu berpikir panjang.


"Makasih, Dad."


"Sekarang kamu istirahat, ya. Daddy pulang dulu."


"Iya."


Begitu Edward pulang, Qya langsung masuk ke kamarnya, melihat Vano yang tidur-tiduran.


"Antar aku ke apartemen. Pasti si Gael sudah khawatir banget karena aku tidak membalas pesan dan mengangkat telponnya."


Mendengar nama Gale di sebut, Vano langsung mendengus, tapi dia langsung mengantar Qya ke apartemen itu.


Begitu sampai di apartemen, Qya langsung tidur-tiduran di kasir ya, dan mengangkat telpon dari Gael.


"Halo, El?" ucap Qya dengan nada lemah yang dibuat-buat.


"Sayang, kamu ke mana saja? Kenapa dari tadi tidak membalas pesan dariku?"


"Maaf, tadi aku keserempet mobil."


"Apa? Ayo video call."


Qya langsung mengacak sedikit rambutnya dan memasang ekspresi sedih.


"Sayang, kamu terluka?" Gael melihat kening Qya yang diperban.


"Tadi aku keserempet mobil. Kaki dan tanganku juga terluka. Aku baru saja bangun dari tidur."


"Siapa yang melakukan itu padamu? Apa orang itu kabur?"


"Tidak. Dia yang sudah membawa aku ke dokter dan membayar semua pengobatan."


"Aku akan kembali secepatnya."


"Tidak perlu cemas, aku hanya butuh istirahat saja."


"Kamu sudah makan?"


"Belum."


Gael menghela nafas. Bagaimana bisa kekasihnya itu belum makan, padahal ini sudah malam.


"Aku akan mentransfer uang ke rekening kamu. Kamu kesan saja makanan yang banyak, ya. Jangan sampai tidak makan."


"Iya, Sayang. Jangan khawatir."


Mendengar Qya memanggilnya sayang, membaut hati Gael sangat senang.


"I love you."


"Me too."


"Kamu kan tadi sudah makan, dari Daddy kamu itu," ejek Vano.


"Jangan meledekku."


Mereka saling tatap, seolah dari tatapan itu mereka bisa saling mengerti.


"Aku akan melamar di perusahaan itu."


Vano diam saja, dia hanya menghela nafas berat saat melihat Qya. Pria itu lalu mengepalkan tangannya, ada gemuruh di hatinya. Semua perasaan yang selama ini dia pendam, menumpuk, dan siap meledak kapan saja.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Qya memakai kemeja pres body, dengan rok span di atas lutut. Sepatunya tidak terlalu tinggi, hanya lima sentimeter saja. Gadis itu memakai tas branded pemberian dari salah satu temannya. Apa yang dia pakai semuanya memang barang branded, membuat penampilannya benar-benar wow.


Vano yang tadi malam menginap di apartemen Qya, mengantar gadis itu.


"Aku turun dulu."


"Ya, hati-hati."


"Bagaimana penampilanku? Menurut kamu, berapa banyak pria yang akan terjerat dengan pesonaku?"


Vano langsung melotot, menyentil mulut Qya.


"Ck, kau kan hanya bertanya. Meski aku tahu mana ada pria yang tidak melirik gadis cantik sepertiku."


Tingkat percaya diri Qya memang sangat tinggi.


Gadis itu lalu turun, berjalan dengan anggun menuju resepsionis.


"Pagi Mbak, saya mau melamar pekerjaan."


Seperti yang Qya katakan, semua mata terbuka lebar melihat dia. Bahkan para perempuan saja, yang penampilannya cukup seksi dan cantik, tetap saja terpesona.


"Tolong tunggu sebentar, ya."


Resepsionis oto langsung menghubungi bagian HRD.


"Silahkan naik ke lantai lima, Mbak. Di sana nanti bertemu dengan Pak Januar."


"Terima kasih."


Begitu sampai di lantai lima, lagi-lagi Qya menjadi pusat perhatian.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, gift. Yang masih punya vote, bisa kasih ke sini๐Ÿ˜„