Trouble Girl

Trouble Girl
32 Penyemangat Hidup



Vanya menghentakkan kakinya begitu keluar dari ruang dosen. Masih bagus dirinya diinterogasi di ruang dosen, bukan langsung di ruang rektor. Vanya yang tidak bisa membuktikan kalau sang rektor punya skandal dengan Qya, harus meminta maaf secara lisan dan tulisan, juga di hadapan para mahasiswa. Selain itu dia mendapatkan SP dan skorsing selama satu minggu. Mendapatkan tugas tambahan untuk setiap mata kuliah, juga harus meminta maaf pada Qya.


Sial, kenapa malah aku yang mendapatkan hukuman. Seharusnya kan, perempuan itu juga dihukum.


Teman-temannya Qya tertawa bahagia, meskipun belum tahu apa yang akan menimpa Vanya, tapi mereka sudah cukup senang.


Teman-teman Vanya hanya bisa menatap senis Qya, mau melabrak tapi juga takut terkena masalah.


"Apa Qyara benar jadi sugar baby, ya?" tanya Mico.


"Jangan sembarangan kalau bicara!" ucap Gael.


"Ya kan aku hanya nanya."


"Anaknya siapa sih, dia?" Kali ini Reno yang bertanya.


"Ck, enggak usah ikut campur urusan orang, dan jangan terlalu kepo!" Lagi-lagi Gael memperingatkan keduanya.


Untung saja Reno dan Miko berpikir kalau Gael memang bukan orang yang suka ikut campur urusan orang, dan tidak perduli dengan gosip.


Gael tidak suka kalau ada orang yang membicarakan Qya, apalagi bergosip miring, termasuk kedua sahabatnya sendiri, meski Reno dan Miko memang belum tahu hubungan antara Gael dan Qyara.


"Lagian siapa juga yang tidak suka dengan Qyara. Kedua orang tuanya pasti ganteng dan cantik tuh, punya anak aja secantik ini. Ngadoninnya gimana, ya?"


Gael langsung menoyor Reno.


"Jangan mesum!"


"Ya ampun, dari tadi judes banget sih, Ga. Kaya anak perawan baru putus cinta!"


Gael hanya mendengus. Tapi seketika dia langsung tersenyum. Bagaimana kalau nanti dia punya anak dengan Qyara, pasti akan cantik atau ganteng juga, kan?


Qyara cantik, sedangkan dia ganteng. Sudah pasti anak yang dihasilkan juga berkualitas.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu?"


"Ck, dibilangin jangan kepo!"


"Enggak kepo, enggak asyik."


Ponsel Gael berbunyi, panggilan masuk dari papanya.


"Kenapa, Pah?"


"Ya."


Gael langsung mengirimkan pesan kepada Qya, mengatakan kalau dia akan ke perusahaan papanya.


Kurang dari satu jam dia tiba di kantor. Para karyawan membungkuk memberi hormat untuk anak atasan mereka. Pria yang semakin hari semakin terlihat tampan itu berjalan dengan cepat. Kalau urusan dia di kantor cepat selesai, maka dia akan cepat pulang dan bertemu dengan Qya.


Doa terkekeh pelan, membayangkan kalau dia adalah seorang suami yang sedang bekerja, dan pulang nanti akan disambut hangat oleh istrinya.


"Ada apa, Pah?"


"Ada proyek baru, kamu pelajari berkas ini."


Gael langsung duduk di sofa, melihat tumpukan berkas yang harus dia pelajari. Begitu mengingat wajah Qya dan perkataan gadis itu, pria itu langsung semangat.


Ayo Gael, semuanya demi Qya dan calon anak kalian. Jangan biarkan anak dan istri kamu hidup susah!


Entah kenapa dalam hati Gael, sangat yakin untuk menjadikan Qyara istrinya. Dia tidak mau perempuan lain, hanya Qyara yang bisa menggetarkan hatinya.


Papanya Gael melihat keseriusan dalam diri anak laki-laki satu-satunya itu. Merasa cukup heran, karena selama ini Gael suka terlihat santai saja dihadapkan dengan berkas-berkas.


Tapi tentu saja dia juga merasa senang, bagaimana pun juga, Gael yang nanti akan menjadi penerusnya.


Pria tua itu menyenderkan tubuhnya di kursi, memijat keningnya yang terasa berat. Banyak hal yang belum tercapai hingga saat ini, di mana kedua anaknya sudah tumbuh dewasa.


Pria itu memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa lelah, mungkin liburan akan sedikit memenangkan dirinya. Memancing atau berkemah di pegunungan, mungkin.


Gael melihat papanya, merasa sedikit bersalah karena selama ini lebih banyak melakukan hobinya dari pada membantu sang papa di perusahaan. Tapi semenjak bertemu dsn mengenal Qya, dia sedikit berubah.


Melakukan hobi bukan berarti tidak bisa membantu di perusahaan. Papanya juga selama ini tidak pernah melarang dia dengan hobi-hobinya.


Sudah satu jam Gael membaca berkas, sedangkan papanya tertidur di kursi sambil bersandar.


Gael sama sekali tidak merasa lelah. Setia merasa lelah, pria itu akan langsung teringat dengan Qya, dan ajaib, Qyara seperti sebuah obat yang sangat ampuh untuk mengobati rasa lelahnya.


Dalam hati Gael semakin yakin untuk menjadikan gadis itu sebagai istrinya, masa depannya, dan ibu dari anak-anaknya. Rintangan apa pun akan Gael lalui, agar bisa tetap bersama dengan Qyara.


Qyara saat ini main ke tempat Vano. Memamerkan apa yang dia dapatkan dari Gael.


Pria itu hanya tertawa saja, dia sudah biasa melihat Qya yang seperti itu.


"Porotin saja terus tuh cowok!"