
"Daddy, kenapa sedih?"
"Tidak, Daddy hanya teringat dengan seseorang yang Daddy sayang."
"Putra Daddy yang di Australia itu?"
"Bukan, tapi orang lain."
"Apa Daddy sangat merindukannya?"
"Iya, tapi kami sudah lama terpisah."
Qya menatap wajah Erlan yang terlihat sedih.
"Sekarang dia ke mana?"
"Hilang."
"Hilang? Kok bisa? Memangnya tidak dicari?"
"Sudah, tapi belum ketemu juga."
"Siapa namanya?"
"Namanya ...."
Belum sempat Erlan menjawab, ponselnya sudah berbunyi.
"Ya?"
"Kamu di mana? Apa kamu tidak tahu kalau anak kamu masuk rumah sakit?"
"Ck, aku sedang sibuk bekerja. Lagi pula kan ada kamu dan suaminya Ricca." Erlan langsung menutup ponselnya. Melihat itu, Qya kembali menahan senyum.
"Maaf kalau gara-gara aku, Daddy jadi bertengkar dengan istri Daddy."
"Tidak masalah. Ini bukan karena kamu. Sekarang kamu istirahat saja, ya."
"Ya, terima kasih karena Daddy sudah sangat peduli dengan aku."
"Daddy pulang dulu."
Erlan menatap rumah kecil yang ditempati oleh Qya, merasa iba dengan gadis itu. Pertama kali melihat Qya, dia merasa ada ketertarikan yang berbeda. Wajah Qya mengingatkan dia pada seseorang. Seseorang dalam masa lalunya, yang sampai sekarang tidak pernah dia temukan.
Begitu Erlan pergi dengan mobilnya, Vano langsung keluar dari tempat persembunyiannya.
"Gimana rasanya dipeluk sama dia?"
"Menurut kamu? Kamu iri, ya?"
Vano hanya mendengus, sambil mengacak rambut Qya dengan gemas.
Gadis itu lalu mengambil buku kecil dari dalam tasnya. Memberi ceklis pada tulisan yang kecil-kecil.
Keesokan harinya
Qya sedang memperhatikan jalan, duduk di halte sambil sesekali memainkan ponselnya. Gadis itu berdecak kesal, lalu mulai melangkah.
"Aw!" Qya meringis, Mahan sakit di telapak tangannya. Lututnya berdarah begitu juga dengan keningnya. Dia berdecak kesal menatap mobil mewah berwarna hitam. Seseorang turun dari bagian kemudi.
"Nona, maafkan saya. Anda tidak apa-apa?"
Qya tidak menjawab, dia berdiri sambil menahan sakit. Orang lainnya turun dari mobil. Seorang pria paruh baya, namun masih terlihat tampan. Qya menatap pria itu.
"Kalian harus bertanggung jawab!"
"Tapi ...."
"Tanggung jawab!" protes Qya.
"Ayo, saya mengantar kamu ke dokter," ucap pria yang mungkin bos dari pria sebelumnya.
Qya masih diam saja, tatapan matanya yang terlihat waspada, membuat pria paruh baya itu tersenyum.
"Jangan takut, kami orang baik. Ayo, saya antar kamu ke dokter."
Dengan terpincang-pincang Qya akhirnya masuk ke dalam mobil itu.
Lima menit kemudian, ponsel Qya berbunyi.
"Halo?"
"Kamu di mana?"
"Ck, kamu lama. Aku mau ke dokter dulu."
"Ke dokter, kenapa?"
"Aku nungguin kamu lama banget, terus keserempet mobil."
"Apa? Terus gimana keadaan kamu?"
"Ini baru mau ke dokter. Sudah ya, kamu absenin aku dulu."
"Oke. Nanti kamu hubungi aku."
"Ya."
Pria itu melirik Qya, merasa sedikit bersalah karena supirnya menabrak dia. Memang salahnya juga, karena meminta supir itu buru-buru ke perusahaan.
"Ini kartu nama saya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi saya."
Qya menerima kartu nama itu dan membaca namanya.
Damian Orlando.
"Wah, bukankan ini perusahaan besar?" Qya melihat nama perusahaan di kartu nama itu, meski tidak ada keterangan lain siapa pria ini.
Pria itu hanya tersenyum.
"Mobil-mobil dari perusahaan ini sangat mewah, kapan ya aku bisa punya satu yang seperti ini," ucap Qya pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Damian.