
"Suruh saja Maura pulang dengan yang lain."
"Tapi ...."
"Teman kamu pria baik-baik, kan?"
"Iya, lah." Qya mengerucutkan bibirnya.
"Jadi enggak masalah kan, kalau mereka pulang bersama."
"Iya, deh."
Qya akhirnya mengirimkan pesan pada Maura, mengatakan kalau dia terpaksa pulang duluan dan jangan mengkhawatirkan dirinya.
Gael menghentikan mobilnya di depan kosan Qya, dan ternyata gadis itu tertidur. Gael kembali melajukan mobilnya ke apartemen miliknya. Sesampainya di apartemen, Gael menggendong tubuh ramping itu.
Dia membaringkan tubuh Qya di kamar yang pernah Qya tempati. Membuka jaket yang menutupi tubuh Qya, tangan Gael jadi gemetaran. Bukannya dia ingin berbuat mesum di saat gadis itu sendang tidur, dia hanya ingin membuka jaketnya saja, agar Qya bisa tidur lebih nyaman.
Setelah berhasil membuka jaket itu, Gael buru-buru keluar, dia takut malah akan kebablasan dan merealisasikan fantasi liarnya. Ya, meskipun dengan begitu dia punya alasan untuk menggaet Qya. Dia juga tidak akan takut kalau dilaporkan pada polisi, toh dia punya kakek dan ayah yang memiliki kekuasaan.
Tangan Gael menelusuri wajah cantik Qya. Merasakan halus kulit wajahnya yang tampan cela. Qya menggeliat dan bergumam pelan. Gael tersenyum melihat wajah tidur Qya. Tidur saja terlihat sangat cantik.
Gael mendekatkan wajahnya pada Qya.
Sedikit saja, enggak apa-apa kan, ya?
Gael kembali memundurkan wajahnya.
Tidak, aku ini bukan pria brengsek.
Gael buru-buru keluar dari kamar itu, takut sengaja khilaf.
Pagi harinya, Qya terbangun dari tidurnya. Matanya menyipit, melihat kamar yang sedikit tidak asing baginya.
Kamar Gael?
Gadis itu lalu melihat bajunya yang masih melekat.
Dia bergegas ke kamar mandi, mencuci muka dan menyikat gigi. Sikat gigi yang pernah dia pakai ternyata masih ada.
Qya lalu keluar kamar, menengok kiri kanan saat telah tiba di bawah.
"Pagi," sapa Geal.
"Pagi. Kenapa aku ada di sini?"
"Oh, tadi malam kamu ketiduran di dalam mobil. Aku mau membangunkan kamu tapi tidak tega, jadi aku bawa saja kamu ke sini."
Qya hanya mengatakan O tanpa suara.
"Ayo sarapan."
Gael sudah membuatkan roti bakar untuk Qya.
"Jam sembilan."
"Nanti aku antar kamu ke kosan."
"Kamu enggak kuliah?"
"Kuliah, tapi jam sebelas. Aku mau ke tempat papa aku dulu."
Lagi-lagi Qya hanya mengatakan O tanpa suara.
"Aku mandi di kosan aja, deh."
Gael tersenyum, gadis di hadapannya ini benar-benar unik. Biasanya para perempuan akan berusaha cantik, apalagi di depan pria tampan dan kaya.
"Mungkin sebaiknya aku menyiapkan banyak baju perempuan di sini," gumam Gael.
"Apa?"
"Oh, tidak."
Selesai sarapan, akhirnya Gael mengantar Qya ke kosan. Gadis itu mengikat rambutnya asal-asalan.
Gael sengaja mengemudikan mobilnya dengan pelan, agar bisa bersama dengan Qya lebih lama.
Mobil mewah berhenti di depan kosan Qya, membuat Gael menghela nafas.
"Makasih, ya."
"Qy?"
"Ya?"
"Kapan-kapan, kamu mau kan jalan sama aku."
"Hm ... oke."
Gael langsung tersenyum. Dalam hati dia bersorak gembira. Qya melambaikan tangannya pada Gael.
Di perusahaan papanya, Gael terus saja tersenyum. Hatinya sedang berbunga-bunga hanya karena Qya mau diajak jalan olehnya.
"Kamu kenapa, sih? Senyum-senyum sendiri terus!"
"Enggak apa."
"Jatuh cinta?"
"Apaan sih, Pa."
"Ingat, ya. Perempuan yang kamu sukai, harus jelas bibir bebet bobotnya!"