Trouble Girl

Trouble Girl
39 Saldo Yang Bertambah



"Silahkan duduk!"


Qya duduk di hadapan kepala HRD. HRD oto sudah diberi tahu untuk menerima lamaran seorang gadis yang akan datang.


Melihat bagaimana penampilan gadis itu, tentu saja membuat pikiran HRD itu sedikit negatif.


Apa ini perempuan simpanan tangan kanan bos?


Melakukan sedikit interview untuk mengetes sejauh apa kemampuan gadis ini. Bertanya tentang banyak hal, dari tes bahasa Inggris dan kemampuan lainnya. Semua dijawab Qya dengan santai dan benar. Bahkan pembawaan Qya juga berhasil menarik perhatian kepala HRD itu.


"Kalau begitu, kamu akan saya tempatkan di bagian marketing. Kebetulan kami sedang butuh bagian penjualan. Kalau kamu berhasil menjual satu mobil, kamu akan mendapatkan bonus yang cukup besar. Tidak masalah kan, karena kamu masih kuliah aktif."


"Menjual mobil?"


"Benar, apa kamu keberatan?"


"Tidak. Kalau begitu, kapan saya bisa bekerja?"


"Begini, hari Sabtu nanti akan diadakan pameran mobil di salah satu tempat. Nanti kamu ke bagian penjualan, bertemu dengan pak Freddy. Dia yang akan menjelaskan dan men-training kamu."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Kamu langsung saja ke lantai empat. Bilang saja kamu diutus oleh saya. Saya juga akan menghubungi pak Freddy."


Qya kini berada di lantai empat, bertemu dengan pak Freddy—pria bertubuh tinggi dan sedikit gempal—lalu menyampaikan pesan dari kepala HRD.


"Oke, kamu duduk dulu. Sis!" panggil pak Freddy.


Perempuan yang dipanggil Sis itu datang.


"Ya, Pak?"


"Nih, ada anak baru. Kamu ajaran dulu tentang produk kita. Nanti dia akan ikut ke pameran hari Sabtu."


Mereka yang mendengar langsung melihat Qya. Melihat penampilan Qya yang seperti itu, apa iya, dia mau jadi sales?


...🌼🌼🌼...


Begitu keluar dari perusahaan, dia langsung naik ke mobil Vano yang memang sudah menunggunya.


"Gimana?"


"Lancar, dong."


Masih ada dua hari lagi menjelang hari Sabtu. Qya langsung bergerak cepat.


Qya mengirim pesan itu pada Ronald.


[Kamu kerja? Di mana? Kenapa bukan di tempat Daddy saja?]


[Aku mau nyari pengalaman kerja. Kalau di tempat daddy, pasti aku akan langsung diterima tanpa tes, kan!]


[Kalau kamu kurang uang, kamu minta saja sama daddy.]


[Enggak, nanti dikira aku morotin Daddy.]


Todak lama setelah Qya mengirim pesan terakhirnya itu, notifikasi dari m-banking dia berbunyi.


Saldo di rekeningnya bertambah sepuluh juta.


"Yes!" soraknya dengan puas.


Lalu dia mengirim pesan pada Gael.


[Sayang, aku cuma mau ngasih tahu, kalau aku sudah diterima kerja jadi SPG.]


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Gael langsung membalas pesan Qya.


[Kamu kerja? Apa uang yang aku kasih ke kamu kasih kurang?]


[Enggak, aku hanya mau cari pengalaman kerja, dan gak mau tergantung terus sama kamu.]


[Kamu kerja di tempat papa aku saja.]


[Enggak mau, iri sama saja dong. Tetap saja aku tergantung sama kamu. Nanti kalau kamu kesal, aku langsung didepak dari perusahaan.]


[Ya ampun, Yang. Kamu kok mikirnya jelek terus sih sama aku.]


[Hari Sabtu nanti aku mulai kerja. Semoga saja nanti aku bisa jual mobil, ya. Biar dapat bonus.]


Begitu Qya selesai berkirim pesan pada Gael, kembali notifikasi dari m-banking berbunyi.


Sepuluh juta tambahan lagi.


"Sudah selesai, morotin mereka berdua?"


"Sudah, dong." Qya memamerkan rekening di ponselnya, mengedipkan mata indahnya.