Trouble Girl

Trouble Girl
41 Ancaman



Qya masuk ke loby perusahaan dengan santai, seolah itu adalah perusahaan miliknya. Gaya Qya yang terlihat sombong itu membuat kesal sebagian orang.


"Jadi ini yang sudah berhasil menjual semua mobil saat pameran? Dengan cara bagaimana kamu menjualnya?"


"Dengan cara apa? Ya ditawari ke orang-orang, lah!"


"Termasuk menawari dirimu juga?"


Qya langsung paham apa maksudnya.


"Ngiri, ya?" tanya Qya.


"Hebat kan, aku!" sambung Qya dengan sombong.


Akhirnya terjadi keributan di loby itu. Banyak yang membela perempuan yang tadi menegur Qya. Apalagi alasannya kalau bukan iri.


"Berhenti! Ada apa ini?"


"Dia yang lebih dulu memulai, Tuan," ucap Intan, yang berkelahi dengan Qya.


"Apa benar begitu?" tanya Damian pada yang lain.


"Enak saja aku yang disalahin. Bukan aku, Om." Ucapan Qya yang memanggil Damian dengan sebutan om, itu, tentu saja membuat yang lain kaget.


Apa Qya ini keponakan dari bos mereka?


Apa mereka ini om-oman dan keponakan ketemu gede?


"Mereka ini iri karena aku sudah bisa menjual semua mobil, dan akan mendapatkan bonus besar. Malah asal tuduh, bilang kalau aku jual mobil plus plus."


Qya memandang mereka dengan tajam.


"Seharusnya perusahaan ini bersyukur, karena aku bisa memberikan keuntungan, bukannya malah menuduh. Heran, apa orang-orang yang bekerja di sini pada bodoh semua. Apa presiden direktur di sini juga sama bodohnya?"


Damian sampai melebarkan matanya.


Apa maksud gadis kecil ini?


"Beraninya kamu bicara sembarangan!" ucap salah satu pegawai.


"Kenapa aku harus takut? Lihat saja, aku akan menuntut kalian karena sudah mencemarkan nama baik aku dan melakukan tindakan kekerasan!"


"Tunggu Qyara!"


Qyara langsung berjalan dengan cepat meninggalkan perusahaan itu. Setelah dirasa cukup aman, dia buru-buru masuk ke mobil Vano.


"Sebarkan!"


Belum ada tiga puluh menit Qyara pergi, tersebar video yang menggemparkan.


Seorang SPG baru di salah satu perusahaan terkenal, dianiaya oleh seorang karyawan lama. Diduga hal itu disebabkan karena kecemburuan karena SPG itu berhasil menjual semua unit yang dipamerkan oleh perusahaan itu.


Qya sendiri saat berita ini heboh, langsung menuju rumah sakit untuk melakukan visum.


Warga kampus, terutama teman-teman Qya tidak terima dengan apa yang diterima oleh gadis itu.


Gael dan Edward juga tidak terima. Kedua pria itu secara bersamaan menghubungi gadis itu.


Damian menggebrak meja, dia melonggarkan dasinya. Dia bukannya merasa kesal dengan Qya, tapi kesal dengan orang yang sudah menyebarkan video itu, juga dengan karyawannya yang sudah melakukan tindakan kekerasan lebih dulu.


Video itu jelas menunjukkan sejak kedatangan Qya dan aksi kekerasan yang dia terima, bahkan ada rekaman suara juga.


"Sayang, akhirnya kamu angkat telepon aku juga," ucap Gael. Suaranya terdengar sangat cemas.


"Kamu lagi di mana?" tanya pria itu.


"Di rumah sakit, lagi visum."


Qya meringis memegang sudut bibirnya yang berdarah, juga kepalanya yang berdenyut karena terlalu kencang di jambak, bahan pinggangnya ikut sakit.


Ya ampun, aku sudah seperti nenek-nenek saja, sampai sakit pinggang begini. Pokoknya aku harus dapat ganti rugi yang besar untuk semua ini!


Malam harinya, pintu apartemen Qya terbuka. Seseorang masuk ke kamar gadis itu. Tangannya mengusap lembut rambut Qya. Mata gadis itu terbuka.


"Gael?"


"Maaf kalau aku membangunkan kamu, Sayang."


"Kok kamu ada di sini?"


"Kau tidak bisa lebih lama lagi jauh dari kamu. Sudah terlalu sering kamu membuat aku khawatir."


Untung saja Vano tidak ada di sini, dan malam ini aku menginap di sini.