Trouble Girl

Trouble Girl
70 Tidak Mau Percaya



Sudah dua hari Qya belum sadar juga. Setiap hari keempat pria itu selalu ada ada di rumah sakit. Kalau pun ada urusan lain, maka mereka akan tetap pulang ke sini.


Kamar tunggu ini membuat mereka setiap hari bertemu, meski tidak ada yang mereka bicarakan. Edward tidak pernah pulang ke rumahnya, dan berusaha mendekatkan diri pada Vano, meski tidak ditanggapi oleh pria itu.


Vano pun begitu, tidak pernah pulang. Dia dan Angga setiap hari menginap di rumah sakit.


Gael juga, tidak mau pulang, baik ke rumah orang tuanya satu ke apartemennya. Dia ingin selalu ada di dekat Qya dan mengetahui kondisi gadis itu dengan cepat.


Ruangan ini menjadi saksi atas kebisuan mereka berempat.


...💦💦💦...


"Bangun lah, Qya. Maafkan aku. Kalau saja aku tahu itu kamu, aku pasti akan mencegah kamu ikut balapan lagi. Apa kamu membutuhkan banyak uang? Aku bisa dan akan memberikan uang yang banyak untuk kamu, Qya. Tolong bangunlah. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu."


Gael menggenggam tangan Qya, tangan yang memiliki banyak lecet akibat kecelakaan itu.


Kita tidak mungkin saudara kan, Qya? Tidak, kasti tidak mungkin. Mana mungkin kita saudara.


Gael menekankan dalam hatinya kalau mereka bukan saudara, dan mana mungkin mereka saudara.


Qya membuka matanya, menggerakkan sedikit jarinya.


"Sayang, kamu bangun?" Pria itu lalu menekan tombol, dan tidak lama kemudian dokter dan perawat datang.


Juan, Edward dan Angga yang melihat dokter dan perawat datang dengan tergesa-gesa menjadi panik.


"Gael, ada apa? Apa yang terjadi pada Qya?"


"Qya sudah sadar, Pa."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


Mereka menunggu dokter keluar dari ruangan ICU.


"Bagaimana, Dok?"


"Kondisinya sudah mulai membaik. Kami akan memindahkannya ke ruangan perawatan."


"Terima kasih banyak, Dok."


Mereka kini ada di dalam ruang perawatan. Qya masih tidak, dan itu tidak masalah. Yang penting bagi mereka Qya sudah melewati masa kritisnya.


Juan bernafas lega. Dia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Qyara. Qya membuka matanya saat merasakan ada usapan lembut di kepalanya.


"Maaf aku membangunkan kamu." Vano mengecup kening Qya, dan itu membuat Gael kesal.


Meskipun Juan mengatakan kalau mereka adalah kakak beradik, tetap saja dia tidak percaya, dan tidak mau percaya. Kecuali jika ada bukti kuat.


Qya menggelengkan kepalanya. Dia masih sangat sulit untuk bicara. Lehernya dipasangi penyangga leher dan dia juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Qya meringis pelan.


"Bagian mana yang sakit? Biar aku panggilkan dokter."


"Semua ... sakit!" Qya lalu mencoba menggerakkan kakinya.


"Kak ...."


"Ya?"


"Ke ... kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?"


"Mungkin karena kamu baru saja mengalami kecelakaan, jadi masih kaku."


Qya lalu mencoba menggeser sedikit tubuhnya. Tetap saja susah. Gadis itu kemudian mencoba menepuk kakinya.


"Kak, aku ... aku tidak bisa merasakan apa-apa? Kenapa kakiku tidak bisa bergerak sama sekali? Aaaa!"


"Qya, tenangkan dirimu." Gael lalu menekan tombol.


Mereka berempat mencoba menenangkan Qya. Angga sebagai dokter, mencoba memegang kaki Qya.


"Apa ada yang kamu rasakan?"


Qya menggeleng dalam pelukan Vano. Dokter datang dan melihat apa yang terjadi.


"Dokter Enrik, apa yang aku pikirkan terjadi?" tanya Angga.


Dokter Enrik menghela nafas, dan dengan berat hati harus mengatakan yang sejujurnya.


"Maaf kalau saya harus mengatakan hal ini, tapi kaki Nona Qya mengalami kelumpuhan."


"Apa? Tidak, aku tidak mau cacat. Aku tidak mau cacat! Tidak!" Qya menjerit dan mendorong siapa pun yang menyentuhnya.


"Aku tidak mau cacat, tidak mau!"


"Tapi tidak permanen kan, Dok?" tanya Angga.


"Kemungkinan besar tidak. Harus dilakukan operasi dan terapi secara rutin. Dilihat dari hasil rontgen, banyak keretakan yang dialami oleh nona Qya, jadi proses penyembuhan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Harus secara bertahap dan itu membutuhkan waktu."


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok."


"Tentu saja, Tuan. Jangan khawatir."