
Sekali lagi Qya memposting fotonya di apartemen mewah itu. Tidak lupa dia juga berfoto di depan mobilnya.
Vanya yang melihat postingan itu di ponsel temannya, semakin terbakar amarah. Entah karena iri atau apa. Padahal dia juga anak orang kaya.
"Pria mana lagi yang dia porotin?" tanya Vanya sinis.
Brak
"Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa selalu saja berkomentar buruk. Jangan-jangan kamu iri, ya?" ucap salah satu senior yang juga teman Qya.
"Dih, ngapain juga aku iri sama dia. Enggak level!"
"Ya jelas enggak level, lah. Kamu sih enggak asa apa-apanya. Otak pas-pasan, cantik juga karena riasan. Badan tipis kaya triplek!"
"Apa kamu bilang. Beraninya kamu mengatai ku seperti itu! Kenapa aku harus Oro sama dia, yang bergaul dengan para berandalan kampus."
Perkataan terakhir Vanya itu benar-benar menyulut emosi para teman Qya.
Plak
"Berandalan kamu bilang? Dasar ******, kamu tuh yang berandalan!"
Apes mahasiswa yang menjadi junior mereka, langsung merasa cemas. Sidah dipastikan. akan menjadi perkelahian yang serius. Mulut Vanya itu memang susah untuk disaring. Dia sudah menyinggung para senior dengan mengatakan kalau mereka berandalan.
Ya walaupun dalam hati mereka, ada benarnya juga perkataan Vanya itu. Para senior itu, selain merokok, mereka juga suka mabuk di kampus, dan dengar-dengar juga memakai ganja dan narkoba. Bahkan cewek-ceweknya juga tidak segan merokok di depan orang-orang, tapi mahasiswa yang lain tidak mau ikut campur, bukan urusan mereka juga.
Lebih baik cari aman, begitu pikir mereka.
Vanya memegang pipinya yang ditampar.
"Berani sekali kamu menamparku, hanya karena membela perempuan enggak jelas itu. Kita ini satu angkatan."
"Memangnya kenapa kalau kita satu angkatan? Satu angkatan bukan berarti kamu teman kami!"
"Tahu tuh, PD banget dia!"
Salah seorang pria menghisap rokok dalam-dalam, dan menghembuskannya tepat di depan wajah Vanya, hingga perempuan itu terbatuk.
"Ayo cabut!" Mereka meninggalkan Vanya yang hanya bisa mengepalkan tangannya.
Lihat saja pembalasan aku nanti. Dasar anak-anak berandal!
Qya ke apartemen Gael. Gael saat ini sedang menelpon papanya di dekat kolam renang. Gadis itu lalu membuka pintu kamar Gael, melihat kamar yang sangat luas dengan gaya maskulin. Qya merebahkan dirinya di atas kasur Gael, dan tidak lama tertidur.
Gael selesai menelpon papanya. Dia mencari Qya ke mana-mana.
"Qy? Sayang?"
Apa kembali ke apartemen miliknya?
Gael lalu membuka kamarnya, dilihatnya gadis yang sejak tadi dia cari ternyata tidur di kamar itu. Diusapnya kepala Qya, gadis itu hanya menggeliat pelan.
Ponselnya berbunyi, pesan masuk dari Reno.
[Aku sama Miko mau main ke apartemen kamu.]
[Jangan sekarang, aku lagi sibuk.]
Gael akhirnya ke luar dari kamar itu. Bagaimana pun juga dia itu pria normal, punya nafsu, apalagi ada gadis ya g dia cintai tidur di atas kasurnya. Ibaratnya ikan segar disodorkan ke kucing yang kelaparan, gak bakal selamat, lah!
Gael tidak mau Qya beranggapan kalau dia hanya menginginkan tubuh Qya saja. Dia tulus mencintai gadis itu, kalau tidak dia pasti sudah meminta imbalan atas semua yang sudah dia berikan untuk Qya.
Sore harinya, Gael kembali masuk ke kamarnya.
"Sayang, bangun, sudah sore."
Mata Qya akhirnya terbuka juga.
"Kok kamu tidur di sini?" tanya Gael.
"Enggak boleh, ya?"
"Boleh, kok. Mau tidur di kamar ini setiap hari juga boleh."
Qya memicingkan matanya mendengar perkataan Gael.
"Aku tidak di kamar yang lain, begitu." Gael buru-buru memberikan penjelasan, agar Qya tidak salah paham.
"Sebentar lagi mau UTS, aku Haris punya nilai yang bagus biar beasiswa aku enggak dicabut. Apalagi selama satu minggu kemarin aku enggak kuliah."
"Kalau beasiswa kamu dicabut, aku yang akan membiayai kuliah kamu sampai lulus, jangan khawatir."
"Kamu ragu sama kemampuan aku?"
"Enggak, kok. Kam tadi kami sendir yang bilang kalau ...."
Wajah Qya langsung cemberut.
"Lagi PMS, ya?"
"Aku sudah biasa mengalami banyak tantangan. Teman-tekan satu sekolah aku duku sering membuat aku hampir kehilangan beasiswa, karena tidak suka sama aku. Aku cukup berpengalaman untuk mempertahankan apa yang seharusnya punya aku."
Hati Gael teriris, dia yang sudah biasa hidup mewah dari kecil, jadi merasa malu pada gadis itu. Andai saja sejak dulu dia bertemu dengan Qya, pasti sudah sejak lama juga dia menjaga dan memanjakan gadis ini.
"Sekarang ada aku yang akan selalu menjaga kamu. Jangan mencemaskan apa pun lagi. Jangan pernah merasa sendiri."
"Ya, untung saja aku juga punya teman-teman yang baik meski mereka anak orang kaya."
Mendengar itu Gael merasa tidak suka. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang Qya butuhkan. Terdengar egois memang, karena dia mau Qya hanya tergantung padanya saja. Membutuhkan dia dalam setiap keadaan.
"Bisakah mulai sekarang kamu bergantung kepadaku saja?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak mau bergantung pada seseorang, itu akan menyakiti diri aku sendiri. Bagaimana nanti kalau kamu mencampakkan aku? Aku akan menjadi orang bodoh dan ditertawakan oleh orang-orang yang tidak menyukai aku."
"Apa kamu masih ragu sama aku?"
"Ini bukan masalah ragu atau percaya, Gael. Tapi hidup itu keras. Aku hanya realistis saja. Siapa yang bisa menebak masa depan? Aku ini anak yatim piatu yang besar di panti asuhan, sudah tahu bagaimana kerasnya hidup dan bagaimana acaranya bertahan."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Qya.
Hidup itu harus mengandalkan diri sendiri, jangan terperdaya dengan keadaan yang terlihat nyaman, namun menyakitkan di kemudian hari.