
Lihat saja, aku sendiri yang akan mengakhiri semua ini, aku sudah tidak tahan lagi harus berperan ganda.
"Daddy, aku kangen. Kenapa Daddy sudah lama tidak menemui aku?" Qya memeluk Edward.
"Hey, siapa kamu? Kenapa kamu memeluk suami saya seperti itu?" bentak Jesi.
Gael tidak percaya dengan apa yang dia lihat, kekasihnya memeluk papanya sendiri.
Qya tidak peduli, dia malah memeluk lengan Edward.
"Dad, aku butuh uang."
"A ... apa?" tanya Jesi tergagap. Dia memperhatikan Qya. Kalau dilihat-lihat, ciri-cirinya seperti perempuan yang ada di foto itu.
"Lepaskan suamiku, ******."
"Heh perempuan peyot, kamu tuh enggak pantas jadi istri Edward. Sudah peyot, tua lagi!"
"Lepaskan papaku, sialan!" teriak Ricca.
"Enggak usah ikut campur, irisan saja tuh suami kamu, ya kan, Ganteng?" Qya mengedipkan matanya pada Angga. Pria itu justru tersenyum, membuat Ricca geram.
Satu ....
Dua ....
Tiga ....
Hitung Qya dalam hatinya.
Plak
Suara tamparan yang sangat keras dilayangkan ke pipi mulus Qya.
"Jesi!" bentak Edward.
"Bangsat, beraninya kamu menampar dia!"
Plak plak
Bukan Edward yang menampar Jesi, tapi seorang pria muda.
Deg
Jantung Edward berdetak kencang saat melihat pria muda itu.
"Van ... Vano. Kamu Vano, kan? Vano anak Daddy?"
"Apa?" tanya Jesi, Ricca dan Gael.
Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Papa, Vano siapa? Anak yang mana? Dia ini Juan, mahasiswa di kampus Gael."
"Cih, jangan panggil aku anak, dasar pengkhianat."
"Tidak Vano, kamu salah paham."
"Cukup. Ayo Sayang, kita pergi dari sini. Tugas kamu sudah selesai, tidak perlu lagi beririsan dengan mereka!" Vano—atau juga Juan, menggenggam tangan Qya.
"Tunggu, mau kamu bawa ke mana Qya?"
"Bukan urusan kamu."
"Tentu saja urusan aku, dia itu kekasih aku."
"Hahaha, dasar bodoh. Kamu pikir dia benar-benar mencintai kamu? Jangan mimpi!"
"Qya, tolong jelaskan padaku."
"Seperti yang kamu dengar, aku mana pernah menyukai kamu. Aku sangat membenci kamu."
"Tapi kenapa Qy? Apa salahku?"
"Pasti kamu sudah tahu kan?"
"Apa karena papaku dan Juan? Tapi aku tidak tahu apa-apa, ini semua tidak ada hubungannya denganku."
"Tentu saja ada, karena kamu anak perempuan itu, dan aku bersumpah akan menghancurkan kalian!" ucap Juan.
Juan menggenggam tangan Qya, menatap sini mereka.
"Qya, tunggu."
"Vano, tinggi Daddy, biar Daddy jelaskan."
Qya lalu menghentikan langkahnya.
"Kak Angga, kamu masih mau di sini? Enggak mau ikut kami?"
Angga tersenyum senang.
"Tentu saja, aku pikir kalian akan meninggalkan aku begitu saja." Angga lalu memeluk Qya dan Vano.
"A ... apa? Angga, apa maksudnya ini?"
Pria itu tidak menjawab, tapi melangkahkan kakinya.
"Tinggi Angga, kamu itu suami aku. Kamu tidak berhak pergi dengan manusia-manusia sialan itu."
"Kamu salah, kamu dan mama kamulah yang sialan. Mulai hari ini, kamu bukan istriku lagi."
"Apa? Apa maksud kamu? Aku ini istri kamu."
"Aku sudah muak dengan kalian. Sejak awal aku tidak pernah mencintai kamu, Taki kamu dan mama kamu selalu memaksakan kehendak, dan menggunakan cara licik agar aku menikah dengan kamu. Jadi sekarang, inilah yang aku berikan untuk kamu. Jangan pernah ganggu kami lagi, dan kalian sudah tidak bisa mengancam aku lagi."