
...🌼🌼🌼...
Dimas memandang kagum Qya dari atas sampai bawah. Lalu mengambil foto Qya, Qya sendiri dengan percaya diri berpose di depan mobil sport Dimas. Setelah mengambil foto Qya, mereka lalu berphoto berdua dan mengunggahnya di sosial media.
Sosial media milik Qya memiliki banyak pengikut. Selain teman-temannya—perempuan dan laki-laki—orang luar yang menjadi pengikutnya mayoritas adalah laki-laki. Bukan sembarang laki-laki, tentu saja mereka dari golongan atas, dan semua pria di kampusnya menjadi pengikutnya. Begitu foto itu diunggah, langsung menuai komentar dan suka dari pengikutnya. Ada juga komentar negatif dari para perempuan yang men-DESIR (dengki iri sirik).
Qya tidak peduli, yang penting dia senang dan mendapat barang-barang mewah secara gratis.
“Pasti banyak yang iri.”
“Iya, dong. Perempuan iri sama pesona aku yang aduhai, apalagi punya barang-barang bagus. Sedangkan para laki-laki iri sama kamu karena kamu bisa jalan sama aku, apalagi kalau mereka tahu apa yang aku pakai dari atas sampai bawah semua dari kamu.”
Qya memang pandai menyanjung.
Dimas mengantar Qya hingga tepat di depan fakuktas Qya. Pria itu membukakan pintu untuk Qya. Kedatangan mobil sport yang belum pernah dilihat di kampus itu tentu saja menarik banyak perhatian.
“Gila!”
“Astaga!”
“Benar-benar bidadari turun dari surga.”
“Siapa laki-laki itu, pacarnya?”
Gael berusaha menahan emosinya, baru tadi menjelang subuh dia mengantar Qya, sekarang ada pria lain yang mengantar gadis itu ke kampusnya. Bisa Gael lihat bahwa Qya dan pria itu sangat akrab. Dari baju, tas dan sepatu yang Qya kenakan, sudah jelas barang branded dan baru.
“Terima kasih ya, Dim.”
“Oke. Aku pergi, ya.”
Qya melambaikan tangannya pada Dimas.
“Qya!”
“Hai, Ra.”
“Pacar kamu?”
“Bukan.”
“Wah, baru nih.”
“Iya dong, semua dibelikan sama Dimas.”
“Masa?”
Maura melihat tas, dress, sepatu, bahkan kalung yang dipakai Qya.
Qya mengeluarkan ponsel terbarunya.
“Dasar, mau pamer, ya?”
“Hahaha, kamu sensi sekali sih, Sayangku.”
“Dasar ******,” ucap Tania.
Suasana mendadak hening.
“Pantas saja perempuan miskin seperti kamu sering memakai barang-barang mewah. Ngejablay!”
“Heh, apa buktiknya kalau aku ngejablay? Bilang saja kamu iri karena aku—perempuan cantik ini—bisa memakai barang-barang bagus dan mahal. Iri kan, iri kan ....”
“Cih, untuk apa aku iri sama kamu.”
“Banyak hal yang bikin kamu iri sama aku.”
“Dasar ******.”
“Heh, tutup mulut kamu yang rombeng itu!”
“Kamu memang murahan. Wanita seperti kamu seharusnya dikeluarkan dari kampus ini agar tidak membuat malu kampus dan mahasiswanya.”
Kerumununan semakin ramai. Gael dan sahabat-sahabatnya, juga Juan dan sahabat-sahabatnya menghela nafas melihat adu mulut itu.
“Kamu pasti sering melakukan pekerjaan kotor, kan?”
“Sok tahu kamu.”
“Aku tahu perempuan seperti kamu pasti menjual diri.”
“Memangnya kamu pernah lihat aku berciuman atau tidur dengan banyak pria?”
“Aku pasti bisa membuktikan kalau kamu wanita ******, lalu dikeluarkan dari kampus.”
Para penonton saling mendorong untuk melihat apa yang terjadi. Dalam keadaan seperti ini, pasti ada saja yang menjadi tim rusuh. Mereka mendorong orang-orang yang ada di depannya, lalu orang itu terdorong dan mendorong lagi orang yang ada di depannya.
CUP
Semua orang menahan nafas dan tak berkedip.
Ciuman ....
Gael baru saja mencium Qya. Lebih tepatnya memcium pipi Qya yang mengenai ujung bibirnya. Gael dan Qya saling berpandangan dengan ekpresi yang sulit diartikan. Wajah Gael terlihat merah sedangkan Qya mengerucutkan bibirnya yang merah menggoda, membuatnya terlihat menggemaskan.