
Pagi harinya Qya pergi kuliah dengan semangat. Kenapa? Karena dia mau membawa mobil yang dihadiahkan Gael untuknya.
Dia mau membuat hati Vanya meradang, pasti akan menyenangkan. Gael mengawal gadis itu dari belakang, takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Qya sendiri mengemudikan mobilnya dengan pelan, menikmati perjalananya sambil sesekali melirik mobil Gael yang ada di belakangnya.
Sesampainya di kampus, Qya membunyikan klakson mobilnya, mengundang perhatian para warga kampus. Dia turun dengan penuh gaya, mengibaskan rambutnya dan mengunci pintu mobil dengan bunyi tin ... tin ....
Berjalan dengan ala model, dan mengangkat dagunya.
Gael berjalan tidak jauh dari dia, masih sejajar tapi cukup jarak.
Pria itu menahan tawa, tahu kalau Qya memang mau pamer pada Vanya.
"Wuiiih, mobil baru nih? Dari siapa, Qya?" tanya Maura sangat kepo.
"Dari sugar Daddy aku, dong. Ganteng, bodynya kotak-kotak, enak banget dipeluk. Tajir melintir, cuy!"
Gael tersedak salivanya sendiri. Mau marah? Tentu saja tidak, karena dia tahu kalau gadis itu memang sengaja bicara seperti itu. Qya memang terlihat liar, tapi sejauh ini Gael merasa Qya masih bisa menjaga diri, buktinya mereka belum pernah bertindak lebih.
Dasar!
Gael mengenyahkan pikiran lahir itu. Mungkin Ayah belum pernah tidur dengannya, tapi belum tentu tidak tidur dengan pria lain, kan?
Gael menyesal sudah berpikir seperti itu, membuat dirinya jadi kesal sendiri.
"Habis ngejalang?" tanya Vanya.
"Penasaran, ya? Mau tahu aja atau mau tahu tempe?"
Maura dan teman-temannya langsung tertawa.
Sialan, dia membuat aku kesal.
"Korban mana lagi yang kamu gaet?"
"Bapakmu!" jawab Qya, semakin menyulut emosi Vanya.
Qya sudah melirik Gael, memberi tanda kalau pria itu tidak boleh ikut campur.
Yang Gale pikirkan, kenapa Qya malah berkata seperti itu, bukankah itu seolah membenarkan perkataan orang-orang tentang dirinya? Ya meskipun memang barang-barang itu dari Gael, jadi pria itu masih bisa tenang, tidak ikut berpikiran buruk juga.
"Jangan bawa-bawa papaku!"
"Ngambek? Papamu kan memang doyan daun muda. Apalagi dia ganteng, kaya, pastilah banyak yang naksir."
Qya tersenyum puas saat melihat reaksi Vanya, suruh siapa saat itu Vanya menghina kedua orang tuanya, sekarang giliran Qya yang membawa kedua orang tua Vanya.
Biar tahu rasa!
Vanya ingin menampar Qya, tapi gadis itu langsung mengindari tangan Vanya, alhasil Vanya terjatuh dan mencium tembok.
"Sialan!. Beraninya kamu sama aku? Kamu pasti menggoda rektor di sini, kan? Makanya bisa tetap kuliah di sini, padahal sudah membolos selama satu minggu lebih."
Wajah Qya langsung terlihat sedih.
"Kenapa kamu memfitnah pak rektor? Beliau itu pria terhormat."
"Pasti kamu juga sudah merangkak di atas tempat tidurnya, kan?"
"Apa-apaan kamu? Berani memfitnah saya di depan para mahasiswa!"
Deg
Jantung Vanya mau copot saja rasanya. Dia menoleh ke belakang, dan di sana ada pak rektor, wakil rektor, dekan, kajur, dsn para dosen, juga para staf di kampus.
Mampus!
"Aku memang mendapatkan beasiswa di sini, tapi bukan berarti aku menggoda pak rektor, atau para dosen. Semua itu murni dari otakku. Tolong jangan hina aku dan pak rektor."
Dalam hati, Qya bersorak gembira. Dia berhasil menjatuhkan Vanya di depan para petinggi kampus.
Anak donatur kok begini!
"Kamu temui saya di ruang dosen!" perintah rektor itu pada Vanya.
"Siapa yang menjadi PA-nya? Temui saya juga!"
Suasana sangat menegangkan. Para mahasiswa menahan nafas.
Gale hanya bisa meringis. Rektor itu berjalan dengan wibawa. Dia merasa namanya dicoreng oleh salah satu mahasiswi di kampus ini, apalagi itu dilakukan di depan anak pemilik kampus.
Setelah para petinggi kampus Oti pergi, Qya langsung tertawa.
"Tuh, minta tolong sama ayah kamu karena dipanggil pak rektor! Apa perlu aku yang menghubungi papa kamu? 'Sayang, anak kamu sudah mem-bully aku. Aku enggak terima, gimana kalau kamu kasih hukuman biar anak kamu itu, bikin malu kamu tahu, enggak.'"
Qya lalu pergi sebelum mendengar umpatan dari Vanya.
"Puas Qya?" tanya Willy.
"Puas banget. Belagu sih jadi orang. Makanya mulut tuh dijaga. Aku saja enggak pernah ikut campur urusan dia, kok. Mau dia kaya gimana."
"Benar, kamu memang tidak pernah mencampuri urusan orang, dan tidak pernah menghakimi, makanya kami nyaman berteman dengan kamu."
Qya memang tidak pernah mengalami orang lain. Selama orang itu tidak mengganggunya, maka dia akan baik-baik. Mau orang itu playboy, perokok aktif, pecandu, toh itu urusan pribadi orang. Dia tidak punya hak untuk menghakimi, karena setiap orang punya sisi gelap masing-masing, termasuk dirinya.