
"Sayang, aku mau bicara."
"Bicara apa?" Qya langsung menutup buku kuliahnya, dan menatap Gael yang terlihat gelisah.
"Besok aku harus pergi ke Australia, tidak tahu sampai berapa lama."
"Kenapa dadakan?"
"Ada masalah yang terjadi di perusahaan. Produk yang akan diluncurkan, ternyata sudah diluncurkan lebih dahulu oleh perusahaan lain, selain itu perusahaan di Australia juga ada masalah. Jadi papa meminta aku yang ke sana, sedangkan papa akan tetap berada di sini."
"Ya sudah, tapi ingat, selama kamu di sana, kamu tidak boleh melirik perempuan mana pun."
"Tentu saja. Di sana aku akan bekerja, dan mana mungkin aku melirik perempuan lain. Aku ini bukan playboy, dan tidak mudah tergoda dengan perempuan, Qy."
"Hati orang siapa yang tahu, kan? Kamu tidak bisa menyepelekan perempuan, mereka bisa melakukan apa saja untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Bukan hanya laki-laki saja yang bisa seperti itu."
"Jangan takut, aku akan selalu setiap padamu." Gael mengecup kening Qya.
"Ini uang cash untuk kamu. Aku juga sudah menambah uang di rekening kamu. Beli apa pun yang kamu inginkan. Tunggu aku pulang, aku akan bekerja sungguh-sungguh agar bisa segera kembali ke sini."
Mendengar itu tentu saja Qya langsung senang.
"Jam berapa kamu pergi?"
"Jam empat pagi. Kamu tidak perlu mengantar aku."
Keesokan paginya, Gael sudah bersiap. Dia melihat Qya yang tidur dengan nyenyak. Selama ini Gael masih bertahan tidak menyentuh Qya, walau sesekali mereka tidur di kasur yang sama. Sebagai laki-laki normal, tentu saja dia tergoda, tapi tidak mau merusak Qya. Dia ingin menikah gadis itu, lalu menjadikan Qya miliknya seutuhnya.
Gael mengecup kening Qya, lalu bibirnya dengan pelan.
"Aku pergi dulu, jaga diri dan hati kamu baik-baik," bisik Gael.
Berat bagi Gael meninggalkan Qya di sini. Ingin membawanya, tapi sebentar lagi akan ada ujian tengah semester. Ya anggap saja ini sebagai langkah awal keseriusan Gael memimpin perusahaan.
Gael akhirnya pergi menuju bandara, dengan harapan pekerjaan bisa selesai dengan cepat. Hati Qya tidak tergoda dengan pria lain.
Begitu Gael pergi, Qya langsung membuka matanya. Dia segera mengirim pesan pada Vano meski hari masih gelap.
[Dia sudah pergi.]
[Baguslah. Kita ketemu di tempat biasa.]
Qya segera mandi, memakai baju pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Ini adalah apartemen yang Gael berikan padanya, jadi Qya tidak perlu cemas Gael akan memeriksa CCTV.
Qya tiba di depan apartemen Vano, menekan beberapa nomor dan pintu itu langsung terbuka. Dilihatnya Vano yang sedang berkutat dengan laptopnya. Qya meletakkan makanan yang tadi dia beli.
"Berapa lama Gael pergi?"
"Enggak tahu."
"Apa kita akan seperti ini terus?"
"Tentu saja tidak. Belum banyak yang kita dapatkan dari dia."
Vano melihat Qya sekilas, lalu kembali sibuk dengan laptopnya.
"Kamu tidak tidur dengan dia, kan?" Pertanyaaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Vano. Dia tahu kalau Qya dan Gael sering berada di apartemen yang sama. Sama-sama manusia dewasa dan punya nafsu, apa saja bisa terjadi.
"Enggak, lah. Kamu kira aku bodoh."
"Kali saja kamu sudah berubah haluan."
Qya berdecak kesal, lalu mulai makan.