Trouble Girl

Trouble Girl
42 Pengacara



"Apa sangat sakit?"


"Iya. Orang-orang itu benar-benar menyakitiku."


Gael mengepalkan tangannya, dia bisa melihat dengan jelas pipi Qya yang bengkak dan membiru.


"Sekarang kamu tidur lagi."


Qya mengangguk, dia langsung memejamkan matanya, karena memang sangat lelah.


Gael duduk di ruang televisi, menelpon salah satu orangnya.


"Selamat malam, Tuan Muda."


"Siapkan pengacara yang handal, aku mau menuntut perusahaan dan orang-orang yang sudah menyakiti Qyara."


"Baik, Tuan Muda."


Keesokannya, perusahaan milik Damian kedatangan polisi. Mereka mencari orang-orang yang terlibat dalam tindak kekerasan itu. Para wartawan juga sudah ramai untuk meliput berita. Berbagai komentar juga diberikan, bagaimana bisa seorang SPG yang sudah berjasa pada perusahaan, belum mendapatkan bonus yang menjadi haknya, malah mendapat tindakan kekerasan.


Mereka langsung mencari akun sosial media milik Qya, melihat banyak foto-foto yang menampilkan Qya dengan gata mewah bersama dengan anak-anak orang kaya.


Kalau dilihat dari dengan siapa dia berteman, wajar saja kalau dia bisa menjual mobil-mobil itu, tinggal suruh saja temannya membeli.


Iri salah satu komentar netizen.


"Kamu urus secepatnya!" perintah Damian pada tangan kanannya.


"Baik, Tuan."


Damian. lalu memerhatikan satu persatu foto-foto Qya. Semakin dilihat, dia merasa pernah melihat Qya di suatu tempat, sebelum bertemu dengan gadis itu saat menyerempetnya.


"Di mana aku pernah melihat gadis ini?"


Polisi juga sudah membawa orang-orang yang berkelahi dengan Qya, juga memanggil Qya untuk dimintai keterangan.


"Biar aku yang menemani kamu, Yang," ucap Gael.


"Jangan, nanti orang-orang tahu kalau kita punya hubungan."


"Aku enggak mau, nanti dikira aku hanya memanfaatkan kamu saja."


Gael hanya bis menghela nafas berat, memaksa Qya hanya akan membuat gadis itu menjauh darinya.


Qya datang ke kantor polisi dengan ditemani oleh beberapa orang temannya, yang juga punya kekuasaan. Yang menjadi pengacaranya adalah pengacara terkenal, yang tentu saja menarik perhatian orang-orang. Tapi bagi teman-teman Qya, itu biasa saja, karena mereka tahu kalau Qya memang sering bergaul dengan orang-orang kelas atas, termasuk mereka juga tentunya.


Pengacara itu tentu saja utusan dari Gael. Gael menjadi orang terdepan yang membela Qya, meski hanya di balik layar saja.


Pengacara Damian, sebagai wakil dari pihak perusahaan, mengajukan jalur damai. Meminta semua ini diselesaikan dengan cara kekeluargaan saja.


"Perusahaan akan memberikan ganti rugi untuk yang Nona alami. Anda juga akan segera mendapatkan bonus atas penjualan mobil sesuai perjanjian, dan keuntungan lainnya."


"Dengan kata lain ini sogokan?" tanya Qya tanpa basa basi.


"Lalu orang-orang akan kembali berpikir kalau aku memeras perusahaan kalian, memanfaatkan keadaan bahkan mencari keuntungan sendiri."


Damian yang baru aja datang ke kantor polisi, mendengar perkataan itu dari belakang.


"Keuntungan yang kalian berikan, paling hanya bertahan berapa lama? Sedangkan nama baikku bisa dimakan sepanjang masa."


"Kamu akan memberikan beasiswa."


"Kau sudah dapat beasiswa sampai kukus kuliah, bahkan aku sudah ditawari beasiswa untuk S2," ucap Qya dengan sombong.


"Mobil, apartemen ...."


"Aku sudah punya."


Pengacara Damian terdiam.


"Mau menawari apa lagi? Lihat apa yang aku pakai? Semuanya barang-barang branded. Aku bisa dapatkan apa yang aku mau tanpa sogokan dari kalian."


Damian memicingkan matanya, dia merasa tertarik dengan gadis yang sedang membelakanginya ini.


"Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan saya, kamu akan mendapatkan jabatan yang bagus."