Trouble Girl

Trouble Girl
45 Biarkan Dia Mandiri



"Kamu bisa tidak sih, meluangkan waktu untuk aku dan anak-anak!"


"Aku sibuk."


"Sibuk apa? Sibuk kerja atau sibuk dengan perempuan ******?"


"Jaga bicara kamu!"


Suara pertengkaran itu didengar oleh Gael yang ada di balik pintu. Selalu saja seperti ini. Bukannya selama ini dia tidak tahu, kalau kedua orang tuanya tidak pernah harmonis. Mereka hanya akan bersikap harmonis hanya di depan orang-orang saja, terutama kakeknya.


Gael lelah, dia juga selama ini selalu berpura-pura. Berpura-pura tidak tahu apa-apa, berpura-pura memiliki keluarga yang harmonis. Berpura-pura pada orang-orang kalau kedua orang tuanya adalah panutan dan berpura-pura akan segala hal yang menyenangkan.


Papanya tidak pernah menyayanginya, itulah yang dia rasakan. Memang papanya memberikan doa kemewahan, hanya saja dia merasa ada yang hampa dalam hidupnya. Lari dari kenyataan dengan cara melakukan hobinya, yaitu balapan liar.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan Qya, gadis yatim piatu yang besar di panti asuhan. Melihat Qya yang berjuang seorang diri tanpa keluarga, membuat dia merasa lebih beruntung. Setidaknya dia memiliki kekayaan, memiliki kedua orang tua yang lengkap meski tidak harmonis, setidaknya tidak pernah menunjukkan pertengkaran mereka di depan anak-anak mereka. Dia juga punya kakak perempuan, dan masih memiliki kakek yang tinggal di luar negeri.


Gael membalik tubuhnya, dan tertegun saat melihat kakak dan kakak iparnya di belakang. Tidak ada raut kaget dari wajah keduanya, menandakan kalau sepasang suami istri itu juga sepertinya sudah lama tahu akan semua ini.


"Katakan padaku, siapa perempuan yang menjadi simpanan kamu itu."


"Jangan asal tuduh kalau tidak punya bukti."


"Kata siapa aku tidak punya bukti?" Jesi melempar lembaran-lembaran foto itu ke Edward.


Pria itu tercengang, dia langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat.


"Darimana kamu mendapatkan semua ini?"


"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya, cukup katakan siapa perempuan itu."


"Kamu tidak perlu tahu, dan jangan mencampuri urusanku."


"Memangnya aku peduli?" Edward langsung meninggalkan istrinya, membuka pintu kamar dan segera pergi dari rumah itu.


Doa ingin menemui Qya. Bersama gadis itu membuat hatinya tenang. Segala tingkah Qya, membuat dia terhibur. Dia merasa Qya mirip dengan dirinya saat masih muda dulu, sangat energik.


Di tempat Qya, tepatnya di kosan kecil.


"Anak Daddy yang perempuan itu sangat manja." Edward mulai bercerita pada gadis yang bahkan umurnya lebih muda daripada umur anaknya.


"Coba saja Daddy sirih dia pindah dari rumah."


"Pindah?"


"Iya. Dia kan sudah besar, sudah menikah lagi. Sebaiknya jangan tinggal sama Daddy lagi. Jangan juga memberikan fasilitas padanya. Apa suaminya miskin?"


"Tidak, suaminya seorang dokter."


"Tuh, apalagi seorang dokter, pasti gajinya besar, kan!". Edward terdiam, melihat wajah cantik itu.


"Jangan terus memanjakan dia, nanti anak Daddy itu besar kepala. Kan kasihan suaminya."


"Kasihan?"


"Iya, kasihan suaminya. Pasti harga diri suaminya merasa terinjak-injak karena harus tinggal di rumah orang tua istrinya. Sebagai suami, pasti mau lah hidup mandiri tanpa campur tangan mertua. Daddy sendiri, sebagai seorang suami, apa mau mertua Daddy selalu ikut campur urusan rumah tangga Daddy?"


"Tentu saja tidak."


"Nah kan, benar. Biarkan saja mereka hidup mandiri. Tinggal di rumah kecil juga tidak masalah, biar tidak lelah mengurus rumah sendiri. Jangan lagi kasih uang buat anak Daddy itu, biar dia sekalian belajar berhemat. Aku yakin, pasti anak Daddy itu sangat boros."


Edwar terdiam, karena semua yang Qya katakan itu memang benar. Anak perempuannya itu sangat boros dan susah diatur.