
"Ini untuk kamu." Gael memberikan ATM, kartu kredit, dan uang cash untuk Qya.
"Untuk aku?"
"Iya. Uang cash ini bisa kamu pakai kalau tiba-tiba butuh uang dan tidak ada mesin ATM di dekat kamu. Beberapa hari kamu menghilang, aku sangat khawatir. Kamu tinggal di mana?"
"Di tempat teman."
Gael ingin bertanya apakah teman Qya itu laki-laki atau perempuan, tapi takut membuat mood perempuan itu kembali buruk.
"Bagaimana kalau mulai hari ini kita tinggal bersama?" tawar Gael.
"Enggak mau."
"Kenapa? Kamu takut aku bertindak lebih padamu?"
"Ya. Aku juga tidak mau nanti orang-orang tahu kita tinggal bersama. Mereka akan semakin berpikir kalau aku memanfaatkan kekayaan kamu saja. Kamu senang ya, kalau aku terus menerus dihina oleh orang-orang?"
"Mana mungkin aku seperti itu, Sayang." Gael mengusap pipi Qya yang terasa sangat halus di tangannya.
"Sekarang kamu mandi dulu, nanti harus kuliah. Jangan bolos lagi."
"Iya."
...🌼🌼🌼...
Kehadiran lagi Qya di kampus, tentu saja mengundang perhatian orang-orang.
"Ya ampun, Qya, kamu ke mana saja, sih?"
"Ada, kening aku kan luka. Muka aku juga terluka, jadi aku enggak ke mana-mana."
"Parah banget tuh si Vanya. Mentang-mentang senior, terus seenaknya saja sama junior. Apalagi sama kamu!"
"Dia tuh iri sama aku. Aku kan cantik, banyak yang suka."
Maura mendengus saat mendengar perkataan Qya, tapi memang benar juga apa yang dikatakan temannya itu.
"Mama kamu ngidam apa, sih? Sampai punya anak secantik ini."
Wajah Qya langsung terlihat mendung, hanya saja Maura tidak menyadarinya. Gael yang melihat dari tempatnya, semakin ingin menjawab gadis itu. Hidup tanpa kedua orang tua tentu saja sangat berat.
Teringat kembali perkataan Qya yang terang-terangan mengatakan menyukai kemewahan dan tidak mau lagi hidup susah. Bagi Gael, itu sangat wajar. Jika Qya menyukai kemewahan, maka akan dia berikan, apa pun itu.
Gael langsung menghubungi seseorang.
[Lakukan dengan diam-diam, jangan sampai ada yang tahu! Terutama keluargaku!]
Sore harinya Gael mengajak Qya ke apartemen miliknya, tapi bukan ke unitnya, melainkan unit yang ada di satu lantai bawah unit Gael, karena di lantai itu hanya ada unit milik Gael saja.
"Ini apartemen punya siapa?" tanya Qya.
"Ini untuk kamu. Tadinya aku mau membelikan yang ada di lantai yang sama denganku, hanya saja di lantai itu kan, hanya ada satu unit."
Gael memiliki banyak apartemen, tapi di apartemen inilah yang paling mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap.
"Untuk aku?"
"Iya. Untuk kamu. Kan aku Sidah bilang, aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Kamu tidak perlu lagi tinggal di kosan."
"Nanti teman-teman aku boleh datang ke sini?"
Oh iya, ya. Aku sampai lupa.
"El, teman aku boleh main dan menginap di sini?"
"Boleh, tapi perempuan."
"Memangnya kenapa kalau teman-teman aku yang laki-laki main ke sini?"
"Kau cemburu. Aku terlalu mencintai kamu dan takut kamu diambil oleh pria lain." Akhirnya Gelar mengatakan juga apa yang dia takutkan.
Qya melihat keseriusan dalam mata Gael, dsn dia tersenyum senang.
"Aku tidak akan berpaling dari kamu, asal kamu tidak menyakiti aku."
"Mana mungkin aku akan menyakiti perempuan yang aku cintai."
"Sekarang kamu bisa berpikir begitu, tapi lihat saja nanti."
"Maksudnya?"
"Aku ini hanya gadis miskin dan seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan. Sedangkan kamu anak orang kaya. Apa yang kamu mau, maka akan kamu dapatkan dengan jentikan jari saja. Status kitab sangat berbeda, antara bumi dan langit. Apa keluarga kamu akan menerima aku? Pasti kedua orang tua kamu menginginkan gadis yang setara dengan keluarga kalian. Mereka tidak akan merestui hubungan kita, dan aku cukup sadar diri."
Gael tertegun, dia bari ingat perkataan papanya yang menginginkan gadis yang jelas bibir bebet dan bobot untuk dijadikan istri Gael.
"Jangan mengkhawatirkan hal itu."
"Kalau harus memilih, siapa yang akan kamu pilih? Pasti keluarga kamu, kan?"
Gael tidak langsung menjawab, berat rasanya untuk memilih. Di satu sisi ada keluarganya, di satu sisi ada gadis yang dia cintai.