
Malam ini, akan ada balapan di tempat biasa.
Gael bersama sahabat-sahabatnya menuju tempat balap.
"Aku akan menantang Juan."
"Yakin?"
"Kamu tidak percaya dengan kemampuan aku?"
"Bukan begitu, hanya saja saat ini kamu sedang dipenuhi emosi."
"Ngomong-ngomong, hm ... maaf kalau aku bertanya seperti ini ... tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, Juan itu kan saudara kamu, bagaimana perasaan kamu?"
"Aku ... sudahlah, jangan membicarakan tentang dirinya."
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di area balapan. Mobil-mobil mewah sudah terparkir di sana.
Juan (Vano) melihat kedatangan Gael. Dia menyeringai licik.
"Aku ingin menantang BM."
"Apa taruhannya?"
"Mobil."
"Kami sudah cukup punya banyak mobil."
"Apartemen."
"Tidak mau."
"Berlian."
"Ck, apa orang seperti kamu tidak memiliki barang berharga lainnya?" ejek Juan pada Gael.
"Apa mau kamu?"
"Perusahaan mama kamu."
"Jangan gila kamu."
"Kenapa? Takut? Tidak yakin dengan diri sendiri?" Sekali lagi Juan mengejek Gean, membuat hati Gean terbakar emosi.
"Oke."
"Mana surat-menyurat?"
"Mana BM?"
"Mau akan menghubungi dia, tapi itu juga kalau dia mau bertanding dengan kamu. Aku tidak bisa memaksanya."
"Hubungi dia, aku tidak mau ditipu."
Juan mendengus, lalu menghubungi BM.
"Ada pekerjaan terakhir untuk kamu. Apa kamu mau?"
"Oke."
Pensiun? Apa BM itu sudah tua?
"Pikirkan baik-baik, B."
"Apa taruhannya?"
"Perusahaan ibunya."
"Aku mau ito disahkan secara legal. Panggil pengacara untuk mengurusnya."
"Oke."
"Dia mau surat itu dilegalkan secara hukum. Jangan sampai kami dituduh mencuri berkas-berkas itu, padahal anaknya sendiri yang memberikannya dengan suka rela."
"Oke, jangan khawatir. Aku akan mengambil surat perusahaan dan membawa pengacara."
"Gael, jangan macam-macam. Apa nanti yang akan mama kamu katakan."
"Aku tidak akan kalah."
Satu jam kemudian, Gael datang kembali ke tempat pertandingan, disusul oleh BM.
Gael melihat Juan yang sepertinya sedang berdebat dengan BM, entah apa yang mereka ributkan.
Taruhan dengan imbalan perusahaan mamanya Gael, sudah didengar oleh orang-orang. Mereka juga mendengar kalau BM akan pensiun, entah hanya mengada-ada, atau memang benar.
Mereka meminta pertandingan ditunda, karena yang ada di luar negeri, ingin melihat secara langsung jalannya pertandingan.
Yang ikut taruhan semakin banyak. Mereka tidak main-main dalam hal ini. Anak-anak kampus pun ingin menonton.
Akhirnya, pertandingan ditunda sampai malam berikutnya, menunggu semua penonton VVIP datang.
Malam pertandingan
Suara riuh para muda-mudi memenuhi area terbuka itu. Langit sangat cerah, seolah memberi restu untuk mereka.
Bukan hanya Gael vs BM saja, banyak yang meminta ikut bertanding. Mereka seperti ingin mengeroyok BM.
"Itu curang, mereka sebenarnya ingin menantang siapa? Kenapa tidak satu lawan satu."
Qya hanya diam saja mendengar celotehan Maura dan teman-temannya. Matanya bertemu dengan mata Gael, kamu gadis itu memalingkan wajahnya.
"Kalau kamu kalah, pergilah dari negara ini, dan jauhi Qya!" ucap Gael.
Juan tertawa.
"Meskipun BM kalah, apa kamu pikir Qya mau bersama kamu? Dia hanya akan menuruti perkataanku."
"Brengsek!" umpat Gael.
"Tenangkan dirimu, dia sengaja mempermainkan emosi kamu. Ingat, kamu akan bertanding sebentar lagi. Jangan sampai terkecoh dan lengah!" ucap Reno memberi tahu.
"Apa kamu mempengaruhi Qya?"
"Tidak, dia sendiri yang ingin melakukan semuanya. Aku tidak pernah memaksa apalagi mempengaruhi dirinya."