Trouble Girl

Trouble Girl
25 Butuh Dia



Qya dan Willy tiba di kampus. Qya melihat ke sekitarnya, apakah Gael melihat dia atau tidak.


"Aku ke kelas dulu."


Willy mengangguk dan melambaikan tangannya pada Qya. Gadis itu berjalan dengan riang.


Bruk


Qya terjatuh hingga keningnya membentur tembok.


"Apaan, sih!" bentak Qya.


"Heh, jalan tuh lihat-lihat. Makanya jangan kebanyakan caper," ucap Vanya.


"Dasar sinting."


"Dasar ******!"


"Apa kamu bilang?"


"Perempuan murahan kaya kamu tidak seharusnya kuliah di sini. Merusak lingkungan tahu, gak! Pasti orang tua kamu juga enggak jauh beda."


Plak


Qya menampar wajah Vanya hingga memberikan cap lima jari.


"Beraninya kamu!"


"Kenapa aku harus takut!"


Vanya yang tidak terima lalu menjambak rambut Qya. Akhirnya kedua gadis itu jambak-jambakan.


"Hei, lepaskan Qyara!" Maura berusaha membantu Qya. Pada mahasiswa yang melihat ikut berusaha melerai keduanya.


Wajah Qya kena cakaran tangan Vanya, sedangkan Qya juga tidak mau kalah. Dia mencakar, menjambak rambut Vanya hingga rambut Vanya banyak yang rontok.


"Dasar perempuan gila!" teriak Vanya.


"Kamu yang gila!"


Perkelahian itu akhirnya sampai ke telinga Gael. Dia berlari menuju Kisar perhatian dan Berisha ikut memisahkan.


"Berhenti kalian."


Gael menarik tubuh Qya, dibantu oleh Maura.


"Kalian kenapa berkelahi?"


"Dia duluan yang menampar aku, padahal aku tidak sengaja menyenggol dia."


"Apaan? Jangan asal tuduh, Qyara! Kalian tahu sendiri kan kalau aku ini anak donatur di sini, mana mungkin aku bersikap kasar pada orang lain. Dia yang tidak jelas asal-usulnya, malah main memfitnah aku. Apa seperti ini didikan kedua orang tuanya?"


Plak


Qyara kembali menampar Vanya.


"Tuh, kalian lihat sendiri, kan? Dia yang menampar aku. Dasar anak enggak jelas."


Qya ingin kembali menjambak rambut Vanya.


"Berhenti Qyara!" ucap Gael.


"Apa? Kamu mau membela dia, hah? Mau mengatai kedua orang tua aku juga?" Qya menatap Gael dengan tajam.


"Bukan begitu maksud aku. Aku ...."


"Tentu saja Gael akan membela aku. Dia lihat sendiri kok baga kasarnya kamu!" Vanya tersenyum sinis dan mengejek pada Qyara.


"Lepas!" bentak Qyara sambil menepis tangan Gael.


Qyara lalu mendekati Vanya.


"Lihat saja pembalasanku. Setelah ini kamu akan menangis dan terhina," bisik Qyara.


Qyara menyenggol pundak Gael, lalu meninggalkan kampus.


...💦💦💦...


Gael mencari Qyara di kosan, tapi gadis itu tidak ada, bahkan sepertinya belum pulang, karena ruangannya masih kotor.


Sementara itu, Qya sekarang lagi tidur-tiduran di kamar Vano. Gadis itu menyulut rokok dengan cepat. Biar kalengan tergeletak di sebelahnya.


"Sialan tuh si Gael. Dia pikir, dia cowok satu-satunya." Qyara masih dilanda emosi.


"Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus di Vanya itu."


"Ya sudah, aku mau tidur dulu." Qya langsung membaringkan tubuh di atas kasur, di dalam kamar Vano. Vano sendiri keluar dari kamar itu dan menghubungi seseorang.


"Ada tugas untuk kamu!"


...💦💦💦...


Gael terus mencari Qyara. Di kosan lamanya, di klub, di tempat makan, bahkan di halte-halte. Dia tidak pernah bermaksud untuk membela Vanya. Dia hanya tidak mau Qyara berkelahi, apalagi tadi dia melihat wajah gadis itu yang ada cakaran tangan Vanya.


Vanya sialan, dia sudah melukai Qyara dan membuat Qyara salah paham padaku.


Gael kembali ke apartemen miliknya. Rasanya apartemen ini terasa sepi. Padahal sebelum pertama kalinya dia mengajak Qya ke sini, dia merasa asik-asik saja dengan dirinya sendiri yang ada di sini. Sekarang dia membutuhkan Qyara di apartemen ini, juga dalam hidupnya.