
Qya melemparkan tasnya di atas kasur dan meletakkan high heelsnya di pojok ruangan, mencuci muka, berganti baju lalu pergi ke alam mimpi dengan niat bahwa nanti siang dia akan menikmati hasil kerjanya tadi malam.
Keesokan harinya
Qya memasuki salah satu mall terbesar.
“Qya!” panggil seorang pria.
“Dimas!”
“Lagi apa, Qya?”
“Aku mau ke salon dan shopping.”
“Aku yang traktir, ayo.”
“Yakin kamu mau bayar semuanya?”
“Iya, apa sih yang tidak untuk perempuan secantik kamu.”
Qya dan Dimas memasuki salon kecantikan. Selama dua jam Qya melakukan perawatan dan Dimas dengan setia menemaninya.
Memang pada dasarnya sudah cantik, setelah melakukan perawatan tentu saja kecantikannya semakin bertambah. Aura yang dikeluarkan oleh Qya selalu membuat orang-orang di sekitarnya sulit untuk mengabaikannya. Para pria menatap kagum dan penuh nafsu, sedangkan para perempuan antara kagum dan iri.
“Kamu boleh belanja apa saja.”
“Benar ya?”
“Iya, masa aku bohong padamu.”
“Dim, aku mau ini.”
Qya menunjuk salah satu tas branded dengan harga yang fantastis.
“Mbak, saya ambil yang ini ya.”
Tanpa ragu Dimas membelikan tas itu untuk Qya.
“Mau apa lagi?”
“Kita ke toko sepatu, ya.”
“Oke Honey, apa pun yang kamu mau.”
Setelah membayar tas untuk Qya, mereka lalu menuju toko sepatu. Qya sibuk memilih-milih sepatu tapi dia bingung harus memilih yang mana.
“Dim, lebih bagus yang mana?”
“Semuanya bagus.”
“Aku bingung harus pilih yang mana.”
“Ya sudah, ambil saja semuanya.”
Mata Qya langsung berbinar mendengar perkataan Dimas. Begitu juga dengan SPG yang mendampingi mereka, takjub dengan Dimas yang akan membelikan semua sepatu itu. Sepatu-sepatu itu bukan barang murah yang harganya hanya ratusan ribu atau sejuta dua juta saja.
Beruntung sekali wanita ini. Perempuan cantik akan mudah mendapatkan pria kaya dan apa yang mereka inginkan, begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran mereka.
Dimas membawakan semua belanjaan Qya.
Lima potong dress
Jam tangan
Kalung
Ponsel keluaran terbaru
Kosmetik
Semua itu dia dapatkan dari satu orang pria saja.
Setelah puas berbelanja, mereka makan siang di salah satu cafe yang ada di dalan mall itu.
“Kamu mau makan apa, Qy?”
“Steak dan salad, minumnya lemon tea dan air mineral. Oya, es krim juga, ya.”
“Saya steak, jus mangga dan air mineral.”
Pelayan itu mengangguk dan mengulang daftar pesanan.
“Dim, kamu tidak akan bangkrut setelah membelikan aku semua ini, kan?”
“Hahaha, ada-ada saja kamu.”
“Terima kasih ya, kamu sudah bikin aku senang hari ini. Uang aku jadi utuh, mudah-mudahan saja setiap kali aku ke mall selalu bertemu dengan kamu, ya.” Tanpa malu-malu Qya mengatakan itu, membuat Dimas tertawa.
“Kamu bikin aku gemas, deh.” Dimas mencubit pipi Qya yang putih mulus itu.
Setelah makan, Dimas ingin mengajak Qya nonton, tetapi gadis itu ada jadwal kuliah.
“Ayo aku antar kamu pulang untuk menyimpan barang belanjaan kamu, lalu aku antar ke kampus.”
Qya mengangguk senang. Setibanya di tempat tinggalnya, Qya lalu berganti baju dan menggunakan dress, sepatu, jam tangan, ponsel, kalung, tas dan kosmetik yang tadi dibelikan oleh Dimas.
“Dimas, bagaimana penampilan aku?”
“Sempurna.”