
"Om, Om di sini? Ngapain?" tanya Qya. Orang-orang yang ada di sana hanya menatap bingung, apa gadis ini tidak tahu kalau Damian ini pemilik perusahaan tempat dia tersandung masalah?
"Bisa saya bicara berdua saja dengan nona ini?"
Mereka memberikan kesempatan kepada Damian untuk bicara empat mata dengan Qya.
"Bisa kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja?"
Qya mengeryitkan keningnya. Dia menatap penampilan Damian yang dia juga sangat tahu kalau itu pakaian mahal.
"Om pemilik perusahaan itu?" Qya mendengus, merasa kesal dengan pria yang ada di hadapannya.
"Saya akan memberikan kamu pekerjaaan tetap setelah kamu lulus kuliah nanti."
"Nyogok?"
"Bukan, tapi saya melihat potensi yang ada pada kamu. Saya sudah lihat interview kamu, juga nilai akademis kamu. Hasil pekerjaan kamu juga sangat memuaskan. Saya membutuhkan karyawan yang handal seperti kamu. Untuk masalah yang kamu terima, sebagai pemilik perusahaan, saya minta maaf karena kamu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari karyawan lainnya."
"Nanti kalau saya kerja lagi di sana, apalagi dengan posisi yang lebih bagus, pasti nanti orang-orang akan berpikir buruk lagi. Ya walaupun saya juga tidak peduli dengan perkataan mereka, sudah biasa saya dapatkan perkataan seperti itu." Wajah Qya langsung terlihat sendu.
"Kamu bisa merundingkan dulu dengan kedua orang tua kamu."
"Saya tidak punya orang tua. Saya saja besar di rumah yatim piatu." Damian sekilas melihat gurat kesedihan, kebencian dan kemarahan di wajah gadis itu.
"Maaf, saya tidak tahu."
Tapi dari mana gadis ini bisa mendapatkan barang-barang mewah? Apa dia seorang sugar baby?
Qya tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Damian, tapi dia masa bodo.
"Jadi, bagaimana?"
"Biar saya pikir-pikir dulu."
"Oya, perusahaan akan segera mengirim pembayaran atas bonus pekerjaan kamu."
"Ya."
Keesokan harinya, Qya masih belum memberikan keputusan. Gadis itu malah santai saja dalam pelukan Gael, sedangkan pria itu sibuk dengan laptopnya.
"Jangan mau damai, Qy."
Iri juga yang diucapkan oleh Edward. Kedua pria itu menyarankan agar Qya tetap melanjutkan tuntutan itu. Sebenarnya masalah dia bukan dengan perusahaan atau dengan Damian, tapi beberapa karyawan yang bekerja di sana. Tapi tentu saja perusahaan akan terseret, karena masalah itu terjadi tepat di dalam lobi perusahaan.
...🌼🌼🌼...
Qya akhirnya memilih jalur damai. Perusahaan memberikan kompensasi berupa uang sebanyak dua ratus juta atas ketidak nyamanan yang Qya dapatkan. Qya langsung menuju pantai asuhan tempat dia dibesarkan. Memberikan sebagian uang yang dia dapatkan dan membeli beberapa kebutuhan.
Damian mengawasi itu dari jarak aman. Dia melihat Qya yang berbaur dengan anak-anak panti.
"Ma, aku pergi dulu."
"Makasih banyak ya, Qya."
"Iya, Ma."
Qya lalu masuk ke mobilnya. Mobil sport mewah yang diberikan oleh Gael. Damian tentu saja semakin penasaran. Pria itu bahkan menyuruh untuk mengikuti Qya.
Qya pulang ke kosan kecilnya.
Keesokan harinya, gadis itu pergi ke kafe. Di sana sudah ada Damian.
"Om, di sini juga?"
"Iya, habis bertemu rekan bisnis."
"Oh."
"Duduk sini, Qyara."
"Kamu tinggal di mana?"
"Di kosan, Om."
Damian menelisik penampilan Qyara.
"Ck, pasti Om bingung kan, kenapa aku bisa pakai barang-barang mewah? Aku punya banyak teman, Om. Anak-anak orang kaya, tapi mereka baik semua sama aku. Sering kasih aku barang-barang mahal. Mereka juga sebagian yang membeli mobil-mobil itu."
Akhirnya Damian mengobrol dengan Qyara, sedangkan asisten Damian juga ikut menyimak. Keduanya bisa melihat kecerdasan gadis itu.
Setelah Damian dan asistennya pergi, Vano lalu duduk di hadapan Qya.
"Gimana?"
"Lancar, lah. Siapa sih, yang bisa menolak pesona aku."
Gadis itu lalu melanjutkan makannya dengan santai. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi.
"Ya, Gael?"
"Kamu di mana?"
"Lagi makan."
"Aku ke sana sekarang. Kasih alamatnya."
Setelah Gael menutup teleponnya, Qya lalu melihat Vano.
"Gael mau ke sini. Buruan pergi sana."