
"Yang?"
"Hm?"
"Kalau kita sudah menikah nanti, jangan sampai pernikahan kita selalu dipenuhi dengan pertengkaran. Aku mau kita selalu rukun, meyelesaikan masalah bersama-sama, dan saling terbuka."
"Hah?"
Ya ampun, omongannya sudah terlalu jauh. Setelah aku mengambil apa yang dia miliki, aku san Vano harus segera pergi dari negara ini.
"Aku tidak mau pernikahan kita nanti seperti kedua orang tua aku atau kakakku."
"Memangnya mereka kenapa?" Qya akhirnya memutuskan untuk mendengarkan cerita Gael, bersikap seperti pacar yang peduli.
"Mereka selama ini sering bertengkar. Sudah sejak dulu papa dan mama seperti itu, sejak aku masih kecil. Entah apa yang mereka ributkan. Dan sekarang, sepertinya ada perempuan lain yang dekat dengan papa."
"Masa, sih? Kenapa mereka tidak berpisah saja?"
"Iya. Daripada tetap bersama tapi saling menyakiti. Bukannya lebih baik pisah, ya? Kamu sebagai anak mereka juga tidak akan terus merasa tertekan karena permasalahan mereka."
"Apa itu yang terbaik?"
"Menurut aku sih, begitu."
"Kakak kamu sudah punya anak?"
"Belum. Nah itu, mumpung belum punya anak juga, kalau mau pisah belum ada beban anak."
Cih, memangnya aku peduli dengan mereka!
"Coba saja kamu bicara dengan kedua orang tua dan kakak kamu. Aku sih kalau punya suami nyebelin, lebih baik pisah. Memangnya cowok dia doang!"
"Yang, aku akan menjadi suami yang baik dan menyenangkan untuk kamu, jadi jangan pernah bicarakan tentang perpisahan."
"Janji, ya. Apa pun yang terjadi, kamu akan tetap mencintai aku, tidak akan meninggalkan aku, dan selalu memilih aku dari siapa pun, termasuk kedua orang tua kamu."
"Iya, janji."
Qya tersenyum senang, dan Gael sangat suka melihat senyum dan mata bahagia itu.
...🌼🌼🌼...
"Yang lain juga datang?"
"Iya, dong. Kita senang-senang nanti."
"Oke, deh."
Qya dan teman-temannya duduk di dalam kafe. Para pengunjung melihat kumpulan anak-anak orang kaya itu. Mereka sangat rusuh, tapi tidak ada yang berani melarang. Suara tawa dan obrolan terus berlanjut.
"Kamu kalau sudah lulus, tinggal bilang saja sama salah satu dari kami, Qya."
"Benar, kamu akan langsung diterima."
Qya hanya mengangguk. Dia memang tidak terlalu khawatir dengan pekerjaan. Selain dirinya yang memang pintar, dia juga punya sahabat-sahabat yang sangat bisa diandalkan.
"Nanti malam kami jemput."
"Sekalian jemput Maura, ya."
"Sip!"
Maura juga sekarang lebih santai berteman dengan sahabat-sahabat Qyara itu. Meskipun dalam hati dia masih bertanya-tanya, dari mana Qyara bisa kenal dengan mereka.
"Tambah lagi sama, makanan dan minumannya."
Para pelayan terus saja mondar-mandir mengantarkan pesanan anak-anak muda itu. Jadi bagaimana ada yang mau protes, kalau mereka saja malah memberikan banyak keuntungan untuk kafe ini.
Dari jauh, Miko dan Reno melihat Qya yang dirangkul oleh seorang pria. Mereka memfoto Qya dan mengirimkannya pada Gael.
Gael tidak mau tersulut emosi. Dia lalu mengirim pesan pada.
[Sayang, kamu lagi di mana?]
[Lagi di kafe sama teman-teman.]
Gael yang membaca balasan dari Qya, sedikit bernafas lega. Setidaknya Qya tidak berbohong kalau memang dia ada di kafe dengan teman-temannya. Mungkin memang seperti itulah cara bergaul Qyara, punya banyak teman dan merasa sesuatu yang biasa saja, tapi tidak bagi orang lain. Seperti dia yang merasa biasa saja saat ada temannya yang merangkul dirinya, tapi tidak bagi Miko dan Reno.
Qya dan teman-temannya kembali tertawa, membuat banyak gadis di sana jadi iri pada Qya dan teman-teman perempuannya.