Trouble Girl

Trouble Girl
20 Nyaman



Gael menahan nafas, sepertinya dia salah memilih film. Sebenarnya filmnya biasa saja, tapi karena ada beberapa adegan ciuman, dan dia sedang bersama dengan gadis idamannya, ditambah suasana gelap dan hening, pria itu jadi gelisah sendiri. Mau ikut praktek, pastinya.


Qya sendiri tetap terlihat santai dan biasa-biasa saja, seolah hal itu wajah saja baginya. Mungkin karena hanya film, pikir Gael saat melirik Qya.


"Kamu gelisah kenapa? Ingin ke toilet?" tanya Qya yang bisa merasakan kegelisahan Gael.


"Enggak."


Selama sisa film, Gael sangat tersiksa. Mungkin besok-besok kalau mau mengajak Qya nonton film, jangan film romantis seperti ini, tapi film thriller saja, siapa tahu saja Qya akan ketakutan dan memeluk dirinya.


Berkhayal lebih baik daripada tidak sama sekali.


Tanpa sengaja tangan Gael menyentuh tangan Qya. Pria itu lalu memberanikan diri untuk menggenggamnya lebih erat lagi. Qya menoleh, kemudian kembali melihat layar.


Mereka keluar dari gedung bioskop dengan tangan Gael yang masih menggenggam tangan gadis itu Ingin sekali Gael tahu apa yang gadis itu rasakan.


"Kita cari tempat kos sekarang, ya?"


"Iya. Ada yang mau kamu beli dulu?"


"Enggak."


Mereka akhirnya mencari tempat kos. Tempat kos yang saat makan tadi Gael cari di internet, dan sengaja dia pilih yang lokasinya dekat dengan apartemen miliknya.


Qya memandang kos-kosan itu.


"Pasti mahal."


Gael memilih tempat yang paling privat, dengan fasilitas yang sangat lengkap. Ada kamar mandi dalam, dapur pribadi mini, dan AC, kulkas, dan lain-lain.


"Ini seperti rumah daripada kos-kosan," ucap Qya.


"Saya mau yang ini. Saya bayar untuk satu tahun ke depan, ya."


"Apa?" tanya Qya.


"Jangan menolak, di sini lebih baik dan aman. Bebas juga seperti yang kamu mau."


Tidak perlu membawa apa-apa lagi selain barang pribadi.


"Kamu tidak perlu memikirkan pembayarannya untuk satu tahun, dan itu masih sangat lama."


Qya tersenyum, ini memang jauh lebih baik.


"Sudah. Malam ini juga sudah bisa ditempati."


"Kamu mau pindah malam ini saja?" tanya Gael.


"Tapi barang-barang aku ...."


"Kita bisa mengambilnya sekarang."


Mereka lalu ke kosan Qya. Mengambil barang-barang Qya yang isinya barang mewah semua.


Jam sembilan malam mereka baru sampai di kosan baru.


Qya menata barang-barangnya, dan itu tidak lepas dari perhatian Gael.


Apa semua itu dari para pria yang dekat dengannya? Bagaimana kalau pria-pria itu memanfaatkan dia karena ingin timbal balik?


Qya menghela nafas. Rasanya dia lelah sekali setelah seharian pergi ke sana ke mari.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kita."


Gael memilih memesan makanan, karena dia tahu Qya pasti sudah sangat lelah kalau harus keluar lagi.


Gael memesan sate. Wajah Qya tersenyum saat merasakan aroma sate yang sangat khas itu.


"Aku lapar banget," ucapnya tanpa malu-malu.


"Kalau begitu makan yang banyak."


Mereka membuka pintu, merasakan udara sejuk dari luar.


"Semakin dilihat, ini seperti vila mini."


"Kau suka tempat ini?"


"Iya, suka banget. Aku memang tidak suka tinggal di tempat yang terlalu ramai. Orang-orang biasanya sangat bawel, terlalu ikut campur urusan orang dan sok tahu."


"Aku minta punya kamu, ya. Masih lapar."


Gael tersenyum melihat Qya yang seperti itu. Bukankah itu artinya gadis itu merasa nyaman dekat dengannya?