
“Gael, sepertinya kita berdua akan dikeluarkan dari kampus ini. Tadi si mulut rombeng ini bilang akan membuatku dikeluarkan jika terbukti aku berciuman dengan seorang pria. Aku tidak mau dikeluarkan sendiri, walau bagaimana pun, aku ini korban. Kamu yang menciumku, kan. Pokoknya kamu harus tanggung jawab sama aku.”
Bukannya marah, Qya justru bergelayut manja di lengan Gael dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Qya dapat merasakan detak jantung Gael yang tak beraturan.
“El, kenapa kamu diam saja?” tanya Qya menepuk pelan dada Gael.
“Eh? Iya kamu tenang saja, kamu tidak akan dikeluarkan dari kampus ini selama ada aku.”
“Benar?”
“Iya, aku janji.”
“Terima kasih tampan. Oya, nanti malam aku traktir kamu, ya.”
Gael mengangguk, ternyata Qya masih mengingat janjinya tadi pagi yang akan mentraktirnya karena sudah dua kali menolongnya.
“Ya sudah, aku ke kelas dulu ya. Dah, tampan.”
Qya mengedipkan matanya, bukan pada Gael, tapi pada Tania yang membuat perempuan itu berteriak kesal. Qya mengibaskan rambutnya yang wanginya dapat tercium oleh orang-orang yang ada di situ.
“Misi, tuan puteri mau lewat.”
Qya menyenggol pundak Tania lalu tertawa bersama Maura dan melakukan tos.
“Qyara kok dilawan. Ke laut saja sana!”
Yang lain mulai bereaksi atas kejadian yang baru saja mereka saksikan secara langsung. Seorang Gael Kaivan Zavier yang terkenal cuek terhadap perempuan kini berinteraksi dengan seorang perempuan tercantik yang pernah mereka lihat.
“Gila, gimana rasanya ciuman dengan Qya, Ga?” tanya Reno.
Gael menjitak kening Reno.
“Itu tidak sengaja, bodoh. Gara-gara tadi ada yang mendorongku.”
Mereka lalu melihat seorang pria yang tadi mendorong Gael.
“Ma ... maaf, aku tidak sengaja. Tadi aku juga didorong.”
Orang-orang lalu menunjuk tersangka utamanya yang merupakan seorang pria.
“Maaf!”
Hanya satu kata itu saja yang dapat dia katakan. Mau bilang tidak sengaja, mana ada yang percaya. Jelas-jelas itu memang disengaja. Gael melihat pria itu tanpa berkata apa-apa.
“Tidak sengaja juga tetap saja rezeki nomplok, Ga.
”
Maura dan Qyara memasuki kelas dan langsung duduk di bangku paling depan.
“Gila, kamu ciuman dengan Gael, Qya!” pekik Maura.
“Mana ada.”
“Dih, tidak mengaku. Sudah jelas-jelas banyak saksi matanya.”
“Itu bukan ciuman, Ra. Tidak sengaja juga, kan.”
“Terserah, deh.”
“Kamu lihat tadi ekspresi Tania?”
Qyara dan Maura kembali tertawa, kekesalan Tania merupakan hiburan untuk mereka, terutama Qyara.
“Biarkan saja Mak Lampir itu berduka karena pangerannya mengecup gadis lain.”
Qya menyentil kening Maura.
“Mana ada Mak Lampir pasangannya pangeran.”
“Iya, ya. Terus siapa? Gerandong?”
“Nanti kita cari di google.”
Mereka kembali tertawa sampai dosen masuk.
Di kantin
Nindi, Ratu, Samuel dan Rafi sedang tertawa karena ulah Qyara.
Ya, mereka senior-senior Qyara sekaligus teman gadis itu.
“Belum tahu dia, Qyara seperti apa!”
“Mentang-mentang kaya terus sombong, sih.”
“Kita juga kaya.”
“Dan sombong.”
Suara tawa kembali terdengar. Meskipun berisik, tapi tidak ada yang mau menegur mereka.
Kampus ini memang penuh dengan mahasiswa yang memiliki kekuasaan karena orang tua mereka. Itulah sebabnya saat Qya bisa kuliah di sini, itu merupakan hal yang luar biasa, karena modal pintar dan beasiswa saja rasanya masih kurang.