Trouble Girl

Trouble Girl
60 Gadis Licik



"Aku tidak akan pernah menerima anak itu!" teriak Jesi.


"Dan aku juga tidak pernah minta persetujuan dari kamu untuk menerima anakku atau tidak!" balas Edward.


"Pa, apa papa akan menerima anak haram itu?" tanya Jesi pada ayah mertuanya.


"Cukup! Mama dari Vano adalah istri pertamaku, dan kamu sebagai istri kedua, tidak berhak sama sekali untuk menghinanya."


"Apa?" Erlan, Gael dan Ricca sama sekali tidak menduga akan hal ini.


"Kami menikah secara agama dan hukum, jadi jangan sekali-kali menghina mereka."


"Pantas saja Juan selama ini terlihat sangat membenciku," ucap Gael.


Gael sama sekali tidak menyangka kalau dia punya saudara lain dari papanya, bahkan mereka seumuran. Kalau dia yang menjadi Juan, mungkin dia juga akan membenci dirinya.


Apakah Juan yang menyuruh Qya untuk mendekatinya dan mempermainkan dirinya?


Tidak, akulah yang mendekati Qya. Ya tidak seperti itu. Aku mencintainya dan akan tetap bersamanya, apa pun yang terjadi.


"Papa mau bicara dengan kamu, Edward."


"Baik, Pa."


Edwar langsung mengunci pintu ruang kerjanya, agar Jesi tidak bisa masuk ke dalam. Ricca duduk di sofa, masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, dan Gael langsung pergi. Rasanya dia sudah tidak tahan lagi berada di rumah ini, dan dia ingin segera bertemu dengan Qya.


Dia pergi ke apartemen, tapi seperti yang Gale duga, tidak ada Qya di sana. Ponsel gadis itu juga tidak aktif. Dia lalu pergi ke apartemennya yang ada satu lantai di atas. Di depan unit apartemennya, sudah ada Reno dan Miko.


"Apa kalian tahu nomor Juan?" tanya Gael.


"Tidak, tapi aku akan mencari tahunya."


Reno dan Miko melihat Gael yang terlihat sangat kusut. Mereka ingin bicara, tapi tidak yakin kata apa yang paling tepat untuk mereka katakan.


Permasalahan keluarga Gael, sama sekali tidak mereka sangka. Bagaimana bisa, Gael dan Juan ternyata sadar satu ayah?


Jadi, Qyara juga sudah tahu?


"Aku baru ingat, ternyata pria yang kita lihat bersama Qyara di kafe saat itu, ternyata kakak ipar kamu, Gael."


"Apa?"


"Oh iya, benar juga, ya. Pantas kami merasa seperti pernah melihatnya."


"Berarti Qyara memang benar-benar sudah merencanakan semua ini! Ck ck ck, aku sampai tidak habis pikir. Benar-benar licik!" ucap Miko dengan sinis.


"Jangan berkata seperti itu tentang Qya, Miko!"


"Ya ampun, Gael. Masih saja kamu membela perempuan seperti dia. Kan dari awal Sidah kami ingatkan, jangan terlalu percaya padanya. Sekarang dia yang menyakiti kamu."


Gael mengusap keningnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Baru saja tadi sore dia bersama Qyara. Berpelukan, bahkan berciuman.


"Tidak, aku yakin Qya itu perempuan yang baik."


"Ini nih, definisi dari cinta itu buta. Sudah disakiti, tapi masih saja membela dan berpikir dia gadis baik-baik."


"Aku bersama Qya, bukan sehari dua hari."


"Tapi juga belum tahunan, kan?"


"Ya ampun, Gael. Kasihan sekali kamu. Sekalinya jatuh cinta dan berpacaran, malah mendapatkan yang seperti ini."


"Ini bukan salah Qya. Pasti Juan yang menghasutnya untuk melakukan semua ini. Aku yakin itu."


"Dan dia lebih memilih pergi bersama Juan, kan, daripada tetap bersama kamu."


Gael diam. Dia akan bicara dengan Qya besok, di kampus. Dia juga mungkin akan bicara dengan Juan.