
Qya mulai bekerja di perusahaan, karena dia juga masih libur semester. Dia bekerja di bagian pemasaran. Tidak ada lagi yang berani menggunjing dirinya, karena mereka tahu kalau gadis itu berteman dengan para anak orang kaya. Dia yang suka diantar jemput oleh teman-temannya, membuat gadis itu selain terkenal.
Gael juga sering mengantar jemput Qya, tapi tentu saja tidak pernah kekar dari mobil. Jujur saja, Gael tidak suka Qya bekerja di sana, karena perusahaan itu adalah perusahaan saingannya. Tapi dia tidak mau melihat Qya dalam masalah perang dingin itu.
Qya mengetik dengan cepat, membuat proposal untuk kerja sama dengan perusahaan periklanan.
Sementara itu, Vano saat ini sedang duduk di hadapan salah seorang.
"Kamu tidak akan mengkhianati kami, kan?"
"Tenang saja. Ini, semua yang kamu butuhkan ada di sini."
Vano mengambil amplop coklat yang cukup tebal itu.
"Kapan kita akan mengakhiri semua ini?"
"Sebentar lagi. Tidak akan lama lagi, setelah itu kita semua bisa pergi dari tempat ini."
Orang yang di hadapan Vano mengangguk. Dia menyeruput minuman yang ada di hadapannya, lalu segera pergi setelah menepuk pundak Vano.
Malam harinya
Juan dan bahkan orang lainnya sedang berkumpul di arena balapan. Malam ini sangat cerah, mereka berkumpul untuk melakukan balapan dengan berbagai macam taruhan. BM merenggangkan otot-ototnya, aroma maskulin yang menyegarkan bisa tercium dari tubuhnya dengan jarak yang cukup jauh. Sudah pasti itu adalah parfum mahal.
Juan dan BM melakukan tos.
"Kamu pasti menang!" ucap Juan. BM hanya mengangguk, dia lalu menatap dari jauh siapa yang akan menjadi tandingannya.
"Ayo kita bersiap-siap."
BM masuk ke dalam mobilnya. Suara knalpot yang sangat halus terdengar. Orang-orang menatap kagum mobil itu, mobil sport yang sudah dimodifikasi oleh Juan.
MB mulai melajukan mobilnya, menghalangi jalan mobil yang ingin mendahuluinya. Dia bersiul, terkekeh saat mobil di belakangnya selalu saja gagal.
Para penonton bersorak senang, saat BM lagi-lagi memenangkan balapan.
"Gael, kamu tidak mau melawan pria itu?" tanya Reno.
"Ck, aku belum berminat."
"Suatu saat kamu Haris melawannya, agar si Juan itu tidak besar kepala karena anaknya selalu saja menang."
Vano membaca data-data yang sudah dia dapatkan. Wajahnya tersenyum sinis saat melihat apa isinya. Pria itu bersiul senang, dia memang sudah menduga semuanya, hanya saja tetap butuh bukti berupa data asli.
Dia membuka brankar di dalam kamarnya, memasukan map coklat itu di atas tumpukan data lainnya.
Qya saat ini sedang jalan-jalan bersama dengan Damian di dalam mall.
"Beli saja apa yang mau kamu beli."
"Benaran, Om?"
"Iya. Pilih saja yang kamu mau."
Tidak jauh dari mereka, ada dia sahabat Gael yang melihat Qya.
"Jadi benar, kalau Qya itu sugar baby?"
"St, dah jangan ikut campur."
Mereka berdua hanya memperhatikan dari jauh, tapi Reno mengambil ponselnya dan memotret Qya.
"Ke tempat Gael, yuk."
"Dia lagi di perusahaan, akhir-akhir ini dia semangat banget kerja. Kenapa, ya?"
"Mungkin tidak mau papanya terus marah ke dia."
"Ya sudah, kita ke sana saja."
Damian juga meninggalkan Qya, karena Qya ingin ke kampus, katanya. Begitu Damian pergi, tidak lama kemudian dia malah bertemu dengan Edward.
"Daddy."
"Kamu di sini?"
"Iya, tadi habis ketemu sama teman."
Edward melihat barang-barang belanjaan Qya.
"Ini dibeliin sama teman."