
" Hahaha menyerah lah kau, kau tak akan mampu mengalahkan kami " Ucap raja yang menendang lusi dengan sangat keras
" Uhuk uhuk " Lusi hanya terbatuk, benar adanya saat ini perutnya sangat sakit dan sedikit keram akibat tendangan itu
" Aku tidak akan menyerah begitu saja " Ucap lusi menetralkan rasa sakit itu
Pria yang bernama Rafael itu kini hanya bisa diam , merasa sangat sedih dengan apa yang terjadi saat ini, dirinya berada disini adalah sebuah kesalahan, bukan keinginan nya untuk berada disini
Tapi ego nya yang selama ini selalu mengalahkan rasa dalam lubuk hatinya ini
" Kenapa kau jadi diam cepat serang dia " Teriak raja yang geram pada Rafael
Entah dorongan dari mana pria itu benar benar menyerang dengan wajah penuh kebencian, bukan rasa penyesalan yang dia tunjukan tadi
" Ahkk aku harus bisa " Batin lusi berteriak
Beranjak mengambil kembali pedang yang sangat berguna untuk nya, karena sekarang menurutnya kekuatan elemen tak bisa digunakan saat seperti ini, apalagi menghadapi orang yang memiliki sihir yang sama sekali lusi tak tau sihir apa saja itu
Trang trang
Suara peraduan pedang yang sengit , jujur saja pria itu kewalahan dengan perlawanan dari lusi, di jaman nya sekarang Rafael disebut dewa perang di wilayah nya
Tapi ternyata dugaan nya salah lusi masih lebih hebat dari pada dirinya, tapi entah kenapa ia tidak bisa menyerah begitu saja, seperti ada dorong kuat untuk melumpuhkan musuh di depan nya
Brakkkk
Suara dinding batu yang dihancurkan, membuat penglihatan mereka mengkabur akibat debu dari reruntuhan itu
" Kau baik baik saja sayang? " Bisikan seseorang yang tak lain adalah Rafa
" Rafa uhuk ya aku baik " Ucap lusi dengan sedikit ada rasa aman
Syuttt
Dengan sekali ayunan tangan kanan hongli semua debu lenyap dari pandangan, semua terlihat jernih kembali
Pandangan Rafa sekarang jatuh pada dia pria yang begitu memicu amarah nya untuk semakin naik, tak itu saja melihat mereka tak memakai apapun dirinya semakin panas
" Bisa bisa nya mereka tak malu dengan ini huuuh pria hidung belang, apa pantas disebut raja yang di hormati huftt, aku tak ikhlas istri ku melihat hal menjijikan ini " Gumam Rafa dengan tatapan tajam nya yang setajam silet
Hongli yang tak bisa menahan amarahnya sejak tadi, akhirnya bertindak tanpa persetujuan kedua orang tuanya
Menggunakan teleportasi dia memenggal ketiga pria itu dengan sangat mudah, bahkan ringan sekali
Lusi dan Rafa hanya membelalakan matanya dengan tindakan yang anaknya lakukan
" Ong apa yang kau lakukan, kau begitu gegabah.... Kita tidak tahu sihir apa yang ada di tubuh merekaaa " Gelisah lusi dengan keringat dingin tiba tiba meluncur dari dahinya
Merasakan hawa panas dari setiap darah yang mengucur dari badan mereka bertiga, bahkan warna nya pun bukan berwarna merah darah pada umumnya
Darah itu berwarna hitam sedikit keunguan begitu kental, baunya yang begitu menyengat indra penciuman ketiganya
" Gawat ayo kita pergi dari sini " Ucap lusi dengan panik langsung menggunakan teleportasi menuju gua yang ditunjukan dai dan bai dimana keluarga nya berada, tak lupa dirinya membawa sebuah batu berlian yang lusi yakini adalah batu kekuasaannya raja b***g**k itu
Setelah sampai
" Hongli kau bertindak gegabah " Suara dingin dari Rafa membuat hongli menunduk seketika
" Daniel? " Ucap lusi saat pria itu mengeluarkan keluarganya
" Tidak ada waktu lagi, ayo keluarkan batu yang kau bawa dari sisi ayahku cepat dan satukan dengan batu yang ada di dalam gua itu ayoo " Desak Daniel begitu cepat
Lusi masih bingung dengan maksud itu semua diseret dengan Daniel karena merasa waktu yang semakin menipis
Semua di bawa masuk kembali dalam gua, tapi tak memperlihatkan kan raja atau kaisar mingyu
" Dimana ayahanda? " Tanya lusi begitu penasaran
" Sayang bersabarlah ayahanda sudah tiada dia merelakan tubuhnya demi kita semua " Ucap ibunda Mei ying
" Apa maksud ibunda hiks hiks bahkan aku belum bertemu dengan nya kembali " Ucap lusi begitu kaget mendengar kenyataan itu
" Sudah dulu kita harus segera satukan batu itu agar kita selamat dari kehancuran ini " Geram Daniel
" Kalian bertiga tempelkan potongan batu ini pada batu disana " Ucap Daniel tegas
" Sejak kapan ada batu seperti ini di dalam gua ku bahkan aku baru tau itu, dan kenapa kau tau itu? " Heran lusi membuat Daniel semakin kesal
" Cepat lahh sudah tidak ada waktu lagi " Teriak Daniel sudah habis kesabaran
Crakk crakk crakk
Suara batu itu menempel dengan memperlihatkan kilatan cahaya yang begitu terang menerangi semua nya, terlihat semua orang memejamkan matanya
Terasa cahaya sudah mulai berkurang lusi Rafa dan hongli mulai membuka mata secara perlahan lahan
Hanya ada ruangan bundar tanpa pintu untuk keluar maupun masuk, Tiba-tiba....
" Kalian bekerja sama lah, kalian pasangan sekaligus keluarga yang terpilih untuk menyelamatkan dunia ini, semua keselamatan semua orang yang ada di masa depan dan masa lalu ada di tangan kalian, lihat lah di sekitar mu semua cuplikan dari jaman ke jaman dia orang orang berdoa agar dunia ini tetap abadi " Ucap seseorang yang tak lain suara Daniel tapi tak menunjukan jati dirinya
" Kenapa harus kami " Ucap lusi benar benar tak menyangka
" Itu takdir kalian, maka bekerja sama lah dan tumbuhkan rasa kasih sayang kalian jangan ada rasa dendam sedikitpun di hati kalian " Ucap Daniel kemudian tak terdengar apapun lagi...
Hening
Hening
Swusshhhhhh
Hembusan angin menerpa wajah mereka membuat mereka harus menutup mata karena kenikmatan angin yang begitu halus menerpa wajah mereka
Trap trap trap
Suara langkah kaki seseorang di telinga mereka, tapi saat membuka mata....
Kosong hanya ada lapangan luas dan diatas kepala mereka begitu jelas terlihat luar angkasa memperlihatkan bintang dan semua isi dari alam semesta ini
Sebentar mereka mengagumi keindahan alam itu yang sangat jelas dilihat mereka, sangat indah, namun.....
Suara teriak monster besar dengan seseorang menggunakan tongkat kebesaran nya menuju ke tengah tengah hamparan luas itu....
...****************...