
"Masuk!!!" bentak orang yang menyekap Raffa dan Alfi.
Dengan kasar mereka di dorong memasuki box mobil. Lalu membanting pintunya dengan sangat kasar. Hingga membuat Alfi menaikan pundak dan menutup matanya karena bunyi yang sangat nyaring.
Brummm
Mobil itu berjalan. Hari sudah gelap sekarang. Tak ada cara lagi untuk kabur. Ponsel Alfi juga terjatuh saat ia di sekap tadi.
Duak duak duak
Dengan sisa tenaganya Alfi mendobrak pintu mobil box. Ia berhenti sebentar menatap nanar Raffa yang lemas tersadar di dinding mobil box.
"Aku harus keluar. Hiks" katanya dengan isakan tangis yang tak dapat terbendung.
Baru beberapa dobrakan Alfi lemas. Dirinya berlutut lalu bersandar pada pintu. Tangannya masih menggedor gedor pintu. Ka menangis sejadi jadinya, tetapi dalam diam. Hanya terdengar isakannya saja.
Sejenak lalu menghampiri Raffa. Ikut bersandar pada pada dinding seperti Raffa.
"Pasrah adalah hal yang tepat saat kau tak bisa apa apa" gunamnya. Lalu menutup mata
Dengan aliran air mata di pipi, ia mencoba menenangkan diri.
Mobil itu berhenti. Membuat Alfi membuka mata dengan paksa. Ini adalah kesempatan untuk kabur. Ia bisa lari saat orang tadi membuka pintu.
Brakk
Pintu terbuka oleh manusia gagah, niat untuk kabur terurungkan. Tak mungkin ia kabur dan meninggalkan Raffa disini, sendiri. Lagi pula hari sudah gelap. Alfi mencoba meronta, namun tenaganya tak sebanding dengan lawannya. Ia ingin bekerja sama dengan Raffa. Mungkin saja itu bisa membantu mereka keluar.
Namun Raffa lebih parah dari Alfi. Dia tadi mendekap Alfi saat perjalanan. Melindungi Alfi dari benturan akibat jalan bergelombang.
Duak...
Laki laki itu mendobrak pintu. Mendorong keduanya masuk dalam ruang gelap. Dan meninggalkannya, terdengar suara mobil mereka menjauh. Di sana gelap gulita, Alfi takut kegelapan. Karena sebuah pengalaman pribadinya yang tak menyenangkan.
"Hiks hiks. Maaf Raf, aku malah menjadi beban. Aku tak bisa menyelamatkanmu. Maaf aku meninggalkan mu saat itu. " kata Alfi
"Aku membuatmu begini. Aku mengacaukan segalanya"
"Buka matamu!" seru Raffa.
"Ha? hiks hiks" Alfi tak mengerti
"Lihat disana" perintahnya lagi. Raffa menunjuk dinding di pojok belakang.
"Ha? Apa itu" mata Alfi berbinar binar melihat cahaya lampu membentuk kata Alfi.
"Tunggu! Kau sembuh? Kau baik baik saja? " tanya Alfi. Melepaskan pelukannya melihat Raffa yang tidak terlihat lemas.
Raffa terkekeh.
"Ya" jawabnya mengangguk
"Ikut aku" ajaknya, lalu menarik Alfi keluar.
"Apa apaan itu pintunya tak terkunci?" bantahnya
"Kenapa tidak keluar dari tadi?" tanyanya lagi sangat heran.
"Karna belum waktunya" jawab Raffa santai
"Waktunya?"
"Tutup matamu!" perintah Raffa lagi. Alfi menyengir tak mengerti. Raffa langsung memeluknya dari belakang dengan tepak tangannya menutup mata Alfi.
"Okey" serunya agak kencang. Lalu melepaskan tangannya dari Alfi.
Ada banyak lampu kecil kecil disana, balon love, boneka, dan teman temannya yang membawa kembang Api.
"Bukan kau yang menyebabkan semua ini. Di culik di pukul di kurung. Akulah yang membuatnya. Aku merencanakan semuanya" terang Raffa. Alfi jadi tahu semua sekarang.
"Jadi semua itu tadi, aku di kerjai?" tanyanya.Kini ia menoleh pada Raffa.