
"Humm, aku mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi menurutku kamu harus tetap semangat. Jangan biarkan sebuah perkataan membuatmu berhenti berjuang. Mereka hanya ingin kamu merasa gagal sebelum menghadapi tantangan. Aku akan mendukung mu selama itu tak melalanggar hukum" kata Alfi menyemangati Nisa.
"Huuffff, okey itu membuatku lebih semangat" kata Nisq agak lesu.
"Woy, gelut yuk" Bentak Alfi hingga membuat Nisa terkejut.
"Cari mati kau, nantang Nisa ha? Lo nggak tahu siapa gw ha?" kata Nusa terbawa emosi dan berdiri dengan menggebrakkan meja. Hingga membuat seisi cafe melirik konser ganda mereka.
Alfi hanya tersenyum, dia menahan tawa yang ingin dia tumpahkan saat itu juga. Ia pun mengambil HP nya dan mulai mengetik pesan.
"Woy, jadi gelut nggak? Malah main hp nantang gw lo ha?" teriak Nisa sekali lagi. Membuat suasana dalam cafe semakin mencekam. Semua orang hanya bisa menatap aneh pada mereka berdua.
Namu rasa tersebut Nisa buang mentah mentah karena harga dirinya diinjak oleh sahabatnya, yang entah sejak kapan berubah.
ting drttttt
Sebuah pesan masuk di hp Nisa
drtttt (nada dering ringtone) milik Nisa
Belum sempat ia membuka pesan miliknya ia mendapat telpon dari seseorang.
"Hallo bun ada apa?" tanya nisa
"Nak, bisa ketemu bunda sekarang nggak? Bunda pengin basah sesuatu penting nih."
"Tentu bunda, sear lokasi ya bun nanti Nisa kesana"
"Okey"
Beberapa saat kemudian
tingg
"(sudah dikirim, okey aku akan segera kesana siapa tahu penting. Bunda nggak pernah seserius ini kan) "
Seketika Nisa pergi dari tempat itu meninggalkan Alfi yang belum menyelesaikan masalah mereka. Membuat para penonton setia mereka semakin penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Alfi mematung dia tak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia pun membayar lalu pergi meninggalkan cafe tersebut.
Ia mencoba memanggil Nisa tetapi hanya ada suara "tutt tuttt nomor yang anda tuju sedang sibuk........"
"Bundaaaa" sapa Nisa hangat
"Ouch anakku, kamu sudah datang. Sinilah nak bunda pengin bicara sesuatu padamu" balas bunda.
"Baiklah sesuai perintah" jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Selamat siang bu, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan restoran tersrbut.
"Humm, dua steak dan dua es jeruk" kata bunda Nisa sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya.
"(apa apaan ini? Bukanya itu semua makanan kesukaan siapa itu? Setahuku keluargaku nggak ada yang suka steak deh. Apalagi es jeruk kaya gitu)" batin Nisa.
"Baik, terimakasih" kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bun bunda mau bicara apa sih? Kog kayaknya ada sesuatu yang penting?" tanya Nisa pada sang bunda yang menatap layar hp miliknya.
"Kita makan dulu saja okey. Setelah itu bunda cerita"
"(tuh kan, sebenarnya ada apa sih?)"
"Humm, baiklah tak apa jika kita selesai makan abis itu cerita"
"Kamu memang kesayangan bunda deh" kata bunda sambil memeluk Nisa dengan erat.
"(Hihhh kog ada begituan sih, makin curiga aku. Perasaan bunda nggak pernah bilang kek gitu deh. Pake di lilit segala lagi) "
"Kamu kenapa nak? Kog kamu gitu waktu bunda peluk? Nggak suka ya? " tanya bunda pada Nisa yang memcoba melepaskan pelukannya.
"Nggak kog bun cuma malu diliat orang"
"Yaudah, bunda cerita sekarang aja ya. Huufff, bunda pengin ngajak kamu pindah ke luar negeri"
"Hah? Kenapa? Kog aku? "