The My Love Story In University

The My Love Story In University
Episode 17



"Kalian kenapa? Kan lebih bagus kalo kalian jadi zombie" kata ayah.


"Huaaaa, nggak mau ayahhh" kata Alfi sambil menangis.


"Kami janji bakal nurut sama ayah bunda tapi jangan jadiin kita zombie" kata Alif dengan tangisan.


"(mereka main game sampai ngelindur, sungguh gamer yang setia)" batin Iwan, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalian akan jadi zombie dalam hitungan 5 4 3....." kata bunda menakut nakuti.


"Tolonggggggg" teriak Alfi


"Udah udah bun, nggak usah lanjutin nanti malah stres mereka. Hahahaa" kata ayah.


"Apa!!! Jadi kalian cuma nakut nakuti kita? Jahat banget sih" seru Alif kesal. Mereka pu bangun lalu berdiri karena syok.


"Iya kita udah susah payah nangis malah, nggak jadi zombie " kata sang adik.


"Hey bukannya lu nggak mau jadi zombie ya? Kenapa sekarang malah nyesel nggak jadi zombie?"


"heheh, aku lupa skenarionya kak"


"Kita mangkanya dibaca dialognya, biar nggak salah. Bisa bisa kamu di pecat sama sutradara lho"


"Hey sadar, nggak usah bikin drama terus, kita bosan nontonnya" seru bunda.


"Eh bun kog bunda udah nggak kerasukan? "


"Iya, ya. Terus kenapa ayah malah bela bunda tadi ya? "


"kenapa nggak ada yang nyadarin kita?" tanya adik kakak tersebut berturut turut.


"Hhhhh, kalian mudah banget di tilu orang tua kalian" kata tuan Irya yang di sambut tawa semua orang.


"Hehehe, kenapa bapak bisa tau kalo saya di bohongi? " tanya Alfi.


"Jadi gini............ ( bunda menjelaskan semuanya) "


flashback on


Saat bunda membuat minuman ia merencanakan sesuatu untuk mengerjai anak mereka.


Di chat:


Ayah: Woow, bunda cerdas deh. Apa rencananya?


Bunda: Jadi gini. Nanti bunda pura pura kerasukan terus takuti mereka pokoknya gitu. Nanti liat situasi aja ya.


Ayah: Siap bun.


Flashback of


"Hhhhhh, mereka kena tipu kak. Padahal kita cuma akting lho takutnya. Hhhhh" kata Alfi tanpa salah.


"Iy, dek. Hhhhhh, mereka nggak berbakat ya" sahut Alif.


"Hhhh kalian lucu deh. Om seneng liatnya. Padahal kalian udah jelas tadi nggak bo'ong lho takutnya. Malah sekarang bisa buat alasan" sahut Irya.


"Iya, bener banget tuh ya" sahut ayah juga.


Iwan hanya diam, dengan sedikit mengikuti skenario merumitkan itu. Walau Sebenernya doa orang yang selera humor tinggi, tapi jaga imag lah yaw.


"Udah udah, yuk diminum dulu" kata bunda sambul menyodorkan teh buatannya.


"Oh terima kasih nyonya Vina Halbert" kata Irya Galret berterima kasih.


"Irya kenapa kamu manggil istri saya lengkap kenpa saya nggak lengkap tadi" ucap ayah dengan nada sindir.


"Oh, hhhh maaf tuan Halbert" pinta Irya


"Udah nggak usah kaya formal, kan ini lagi nggak lagi acara formal" seru bunda.


"Tunggu, apakah bunda sama ayah kenal bapak ini? " tanya Alfi.


"Iya, maaf saya belum memperkenalkan anak saya. Kenalkan ini Iwan Galret" kata Irya memperkenalkan anaknya. Yang disambut atungan tangan Iwan. Sontak Alfi kaget.


"Apa???? Bukankah kau dosen killer itu ha? Kau kan yang a.. a.. " kata Alfi terbata bata.


"Dan, kau bukankah anak itu yang bawel? " selaknya.


"Jadi elo" kata mereka serempak. Sambil saling menunjuk.


"Woy jangan ada rahasia dengan kakak" seru Alif yang tanpa Alfi gubris.


"Yah.. kachang deh"