
Erza semakin frustasi saja. "Hari ini dai menembak cewek tanpa ia sadar". Itu terus mengulang di kepalanya. Bagaimana caraku menjekaskan? Apa yang harus kulakukan selanjutnya jika bertemu dia? Pertanyaan itu selalu mengusik kepalanya. Bagaimana jika ia tidak jadi mentraktirku? Itulah kebimbangan yang terakhirnya.
Nisa memelototi sang pacar agar tak ikut. Kenzo pun pasrah menunggu di dekat ruang kasir disana.
Alfi menoleh melihat tanganya di genggam oleh seseorang. Raffa tengah duduk dengan satu tangan menggenggam tangan Alfi. Ia tak menatapnya namun menatap lurus kursi nya yang ia tinggalkan.
"Jangan pergi" katanya dengan teduh.
Alfi semakin tak mengerti. Ia mengerutkan dahi berpikir dengan keras apa yang dia maksud. Dan ternyata gagal.
Alfi mencoba melepaskan genggaman tangan itu lalu pergi. Tapi, Raffa semakin kuat menggenggamnya. Sedang Erza tak memperdulikan mereka karena dirundung oleh kebingungan pada dirinya sendiri.
"Jangan pergi" katanya lagi.
Alfi semakin tak mengerti saja. Ia dengan kasar melepas genggaman itu.
Erza semakin tak tahan. Ia kemudian menyusul Hilya. Tibanya disana ia di cegah oleh Kenzo.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku dilarang kesana juga" jawab Kenzo. Erza pun pasarah dan mengikuti Kenzo
"Jangan pergi, karena aku akan sendirian disini" terang Raffa setelah kepergian Erza.
Alfi tak peduli. Ia terus meronta melepas genggaman yang berubah menjadi cengkraman kuat itu.
"Aku akan memelukmu jika kau pergi" ancam Raffa.
Sontak saja Alfi terbelakak. Terkejut bukan main dengan ancaman yang terdengar seperti gombalan itu.
"Aku tak mengizinkanmu memelukku" sahut Alfi akhirnya angkat bicara dan terus meronta.
Alfi mengehela nafas kesal. "Hei, tapi aku tak mengizinkanmu melakukan itu. Bagaimana bisa kau... "
"Aku akan menciummu jika kau terus menjawabku. Aku tidak bertanya!" acam Raffa kesekian kalinya. Akhirnya di menatap gadis yang ia genggam tanganya.
"Apa? Sekarang aku benar benar ingin memukulmu!" bentak Alfi kesal.
Raffa langsung saja berdiri, menarik tangan Alfi ke arahnya. Lalu memeluknya. Ia sadarkan kepalanya pada pundak Alfi. Menghela nafas beberapa kali, seperti mengehembuskan beban dalam hidupnya.
Alfi sangat terkejut bukan main. Ia ingin mendorong laki laki itu. Namun ia urungkan. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal pikiran laki laki itu.
Jika bukan karena beban berat, seorang laki laki tak mungkin menunjukkan sisi lemahnya pada seorang wanita kan. Apa lagi laki laki seperti dia yang terlihat cool. Sejenak ia biarkan saja laki laki itu bersandar.
Rasanya ia ingin sekali mengelus punggung laki laki itu. Membantu meringankan bebannya. Tetapi ia hanya seorang teman laki laki bukan lebih. Ia tak ingin selancang itu.
Sekarang ia jadi bingung. Harus mengejar temanya yang frustasi atau Raffa yang terbebani?
"Jangan pergi" katanya Raffa kini memejamkan mata.
"Hilya hanya ingin mengangkat telphone dari seseorang" kata Raffa namun Alfi tak percaya.
"Percayalah! Aku melihatnya menggenggam hp sebelum ia pergi lalu memasukkannya dalam saku" terang Raffa ia sadar bahwa gadis dalam dekapannya ini mungkin tak percaya.
Alfi yang mendengarnya tertawa karena merasa tertipu. Apalagi Erza dan yang lainnya. Pasti sangat lucu melihat mereka mengetahui kenenarannya.
Raffa merasakan tubuh Alfi bergejolak karena tertawa. Ia membuka mata melepaskan gadia itu lalu menatapnya. Sebentar, Alfi sudah menyadari Raffa menatapnya ia pun membalas tatapan itu.
"kau mentertawakan siapa?" tanya Raffa, melipat kedua tangannya di dada. Alfi masih tertawa.
"Hey jawab kau mentertawakan siapa? Aku?" tanyanya lagi namun kini lebih keras