The My Love Story In University

The My Love Story In University
Episode 71



Mereka bertiga bersiap untuk memasuki rumah.


Dorr...


Tembakan peluru hampir menusuk mereka.


Langsung saja jantung berdetak kencang. Alfi menatap bekas peluru pada pintu yang di pegangnya. Nisa juga melakukan hal sama. Lalu menatap om om tadi.


Wajah sangarnya membuat tubuh kedua gadis menggigil walau tak dinginan.


Kenzo langsung menelepon Erza. Namun tak bisa. Sambungannya di luar jangkauan.


Ketiganya menatap ngeri om om yang membawa pistol sambil nyengir itu.


Tiba tiba dari arah samping seseorang dengan perawakan sama seperti om itu muncul. Tanpa permisi langsung menyekap Kenzo dan Nisa.


Alfi takut dan lari ke dalam rumah lalu mengunci pintu dengan dirinya.


"Bodoh, kenapa aku malah masuk ke dalam?" tanyanya merutiki kebodohan.


Alfi merogoh ponsel di saku. Mengetik beberapa kata disana. Lalu menempakannya pada telinga.


Masih menunggu jawaban dari telpon. Alfi mencari tempat bersembunyi. Ia menepi ke pojok dinding tepat disamping lemari.


Berkali kali ia menelphone temanan tetapi nihil. Tak ada yang bisa di hubungi.


Alfi mencoba menguatkan hatinya. Mengepalkan tangannya lalu memukul mukulkannya di dada.


"Jangan takut" katanya mengutakan diri sambil menghela nafas berat.


"Bodoh, tentu saja aku takutt" sambungnya kini mulai frustasi.


"Mmmmmmmmm" tiba tiba seseorang dari samping menariknya dan menekan hidung serta mukutnya dengan kain.


Ini tidak ada obatnya? batinnya. Biasanya saat di sekap orang akan di beri bius. Tapi kenapa ia tidak. Tau jangan jangan


Alfi tidak bisa berfikir posotif. Hanya ada pikiran negatif merasukinya.


Ia rasakan dirinya diseret. Matanya ditutup dengan sebuah kain hitam. Dan tangannya? Tangannya tentu di ikat, entah borgol tampar atau apalah itu.


"Maaf" gunamnya, kini ia menangis tanpa suara. Bahkan air matanya tidak terlihat karena terserap kain penutup mata.


"Siap" kata seseorang, tentu saja orang jahat itu.


Selanjutnya terdengar suara derapan kaki menuju Alfi. Tangan besar mulai menarik lengannya dengan kasar.


Orang itu menyeret Alfi ke dalam ruang disana. Alfi meronta, tentu saja nihil. Sebelumnya orang tersebut melepaskan ikatan dan penutup mata Alfi. Jadi itu menambah rasa takut pada diri Alfi


"Raffa" teriaknya melihat Raffa terduduk lemas di sudut ruang. Ia sama seperti Alfi. Tidak diikat atau apapun.


Alfi segera menghampirinya. Menarik tubuh lemas Raffa dan mengambil alih peran tembok sebagai sandaran.


Terlihat bercak merah kental di sudut binir Raffa. Mungkin ia melawan tadi. Dia bisa bela diri juga kan. Angan Alfi menatap sedu Raffa.


Alfi tak berani mengusap darah dan luka Raffa. Ia sendiri tak begitu berani pada luka.


"Maaf" kata Alfi, tak sengaja air matanya jatuh di wajah Raffa. Hingga membangunkannya.


Alfi langsung bersemangat. Ada guratan senyum diwajahnya. Raffa malah tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Alfi terheran


"Ternyata kau khawatir padaku" goda Raffa. Blushing diwajahnya tak bisa Alfi cegah. Membuatnya memalingkan wajah, agar tak dilihat Raffa.


Duakk


Seseorang dengan badan kekar membuka pintu dengan kasar. Keduanya terperanjat menatap laki laki itu.


Keduanya di seret keluar dari ruang mengerikan itu. Alfi tak bergeming sedikitpun dia pasrah. Tak ada gunanya juga melawan hasilnya juga nihil. Sedang Raffa berusaha mengajar orang brengsek itu dengan katu dari kursi rusak.


Sayang luka lukanya menjadi penghadang bagi Raffa. Ia rasakan sakit, perih, lemas bercampur aduk dalam badannya.


Hingga tak kuasa lagi menopang tubuhnya.


Kini ia juga ikut melemas seperti Alfi. Pasrah yang penting mereka bertemu itu prioritas utama Alfi. Dan kini sudah tercapai.